WHO merilis data 187 negara di dunia terinfeksi covid-19. Berarti hampir seluruh negara-negara di dunia disibukkan dengan penanganan pandemi covid-19 ini. Banyak negara melakukan lockdown maupun pembatasan sosial seperti di Indonesia. Apapun yang dilakukan jelas dampaknya sama, yaitu tersendatnya kegiatan ekonomi masyarakat. Kantor-kantor diwajibkan work from home, pabrik-pabrik menghentikan produksi dan merumahkan buruh-buruh mereka. Tidak ada industri berskala besar yang bisa melaksanakan kegiatannya di tengah pandemi seperti ini. Hilangnya pendapatan masyarakat mengakibatkan turunnya daya beli yang menurunkan konsumsi. Turunnya konsumsi akan mematikan dunia industri. Lingkaran setan pun terjadi. Sementara kebutuhan hidup minimal harus terpenuhi.

Beberapa lembaga keuangan dan pemeringkat dunia memberikan sinyal akan terjadinya kontraksi ekonomi global. Tak satupun negara di dunia akan mengalami pertumbuhan ekonomi positif. JP Morgan memprediksi ekonomi dunia minus 1,1%, EIU memprediksi minus 2,2%, Fitch memprediksi minus 1,9%, dan IMF memprediksi minus 3%. Bahkan China yang merupakan negara dengan perekonomian terbesar saat ini, melalui Biro Statistik Nasional-nya melaporkan telah terjadi kontraksi ekonomi pada kuartal I-2020 sebesar -6,8% year-on-year (YoY).

Sementara harga minyak dunia yang sering dijadikan sebagai patokan pertumbuhan ekonomi dunia seolah mengkonfirmasikan prediksi-prediksi di atas. Light sweet crude yang diperdagangkan di NYMEX jatuh ke titik terendah saat ini USD 1,35/barel bahkan sehari sebelumnya sempat menyentuh level minus USD 37,63/barel. Brent crude yang diperdagangkan di ICE London juga turun terus yang saat ini mencapai level USD 25,47.

Mari kita flashback, sejarah yang mirip dengan kejadian saat ini pada satu abad yang lalu. Seusai perang dunia pertama, terjadilah pandemi Flu Spanyol yang disebabkan oleh virus H1N1 yang melanda berbagai negara pada tahun 1918-1920. Pandemi yang dimulai dari Eropa menyebar ke Amerika, Asia, Afrika, dan Australia ini menelan banyak korban. Menurut Niall Johnson dan Juergen Mueller (2002), jumlah korban meninggal mencapai 50-100 juta jiwa dimana kematian terbesar terjadi pada balita, orang berumur 20-40 tahun, dan orang berumur 70-74 tahun. Jumlah ini melebihi jumlah korban tewas akibat PD-I yang diperkirakan hanya sebanyak 9-15 juta jiwa. Dengan terjadinya pandemi ini, praktis perekonomian dunia saat itu juga mengalami kehancuran.

Resesi yang dikenal dengan the great depression kemudian terjadi pada tahun 1929-1939. Mengutip Michael Bernstein dalam The Great Depression : Delayed Recovery and Economic Change in America, 1929-1939 (1987), mengulas jatuhnya pasar saham memicu penurunan daya beli, menyusutnya investasi, guncangan sektor industri, dan merebaknya pengangguran yang menyebabkan kredit macet, dan penyitaan aset melonjak. Industri menghentikan proses produksinya, petani tidak mampu lagi memanen hasil ladangnya dan terpaksa membiarkannya membusuk di ladang. Jumlah tunawisma bertambah dan kelaparan terjadi dimana-mana.

Saat ini, dunia menghadapi krisis akibat pandemi covid-19,  yang diperkirakan bisa jadi lebih parah daripada the great depression. Setidaknya sampai saat ini pandemi covid-19 telah menghabiskan hingga USD 9 trliun dari PDB dunia. Amerika Serikat menggelontorkan belanja publik sebesar 11% dari PDB, Malaysia 10%, Singapura 10,9%, Jepang 19%, dan Jerman 20%. Sementara Indonesia telah menganggarkan Rp 436,1 triliun atau 2,5% PDB. Semua kebijakan ekonomi dunia saat ini berorientasi pada bagaimana meningkatkan belanja publik, meningkatkan daya beli, stimulus fiskal,  relaksasi pajak, social safety net, peningkatan anggaran kesehatan, dan lainnya. Seluruh kebijakan itu mirip dengan yang dilakukan negara-negara dalam menanggulangi the great depression. Bila benar pandemi ini akan memunculkan resesi, seberapa siapkah kita untuk menghadapinya?. (ila)

*Penulis merupakan dosen Manajemen Fakultas Ekonomi, Ilmu Sosial dan Humaniora UNISA Jogjakarta.

Opini