SEMULA ditetapkan selama dua minggu, kini tak terasa #dirumahsaja telah berlangsung hingga sebulan. Terhitung sejak 16 Maret 2020, sekolah dan kantor memberlakukan #WorkFromHome atau WFH, aktivitas perkumpulan masyarakat dengan jumlah lebih dari 5 orang tidak diperkenankan.

Di Indonesia jumlah kasus positif Corona belum menunjukkan penurunan grafik. Belum cukup sampai di situ, Hari Raya Paskah menjadi sepi, tradisi menyambut Ramadan 1441 H tidak tampak ke permukaan, bahkan cuti bersama Hari Raya Lebaran diundur hingga akhir bulan Desember lamanya. Perjuangan dunia dan bangsa Indonesia khususnya dalam menghadapi pandemi Covid-19 masih belum berakhir.

Dampak yang ditimbulkan tidak main, hampir semua sektor terkena imbas dari pandemi yang disebabkan oleh Corona Virus ini. Mulai dari sektor pendidikan, pariwisata, dan bahkan sosial politik hampir mengalami kelumpuhan.  Kebijakan #dirumahsaja dan WFH merupakan langkah yang diambil oleh pemerintah dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Corona Virus Desease 2019 atau Covid-19. Meskipun mengisolasi diri dan keluarga di rumah masing-masing, aktivitas keseharian harus tetap dijalankan agar roda kehidupan tetap berputar. Salah satu alternatif upaya untuk menjalankan aktivitas keseharian seperti belajar dan bekerja adalah dengan media online. Itulah mengapa selama masa pandemi ini aktivitas masyarakat banyak beralih ke dunia maya.

Bekerja atau belajar terus-terusan meskipun di rumah juga pasti akan menimbulkan rasa bosan. Berselancar di media sosial merupakan salah satu hiburan tersendiri untuk mendinginkan pikiran di sela waktu kerja dan belajar secara daring. Keadaan yang demikian tersebut menyebabkan potensi penggunaan media sosial sebagai tempat mengisi waktu istirahat selama di rumah menjadi meningkat. Terlebih saat sedang berada di masa isolasi mandiri di rumah dalam rangka memutus rantai penyebaran Covid-19, sudah pasti postingan-postingan berupa aktivitas, opini, atau bahkan keluh kesah masyarakat di masa isolasi mandiri tersebut akan tercurah dalam media sosial.

Ibarat dua sisi uang koin, postingan yang diunggah masyarakat dapat menimbulkan dampak positif dan negatif. Di tengah merebaknya wabah Corona ini, isu terkait masker dan kepanikan atas Corona menjadi trending topic pada sosial media Twitter. Dikutip dari opini Thoriq Tri Prabowo (16/14/2020) yang dimuat di radarjogja.co pada 16 Maret 2020, berdasarkan data yang diperoleh dari Social Media Monitoring Toll Drone Emprit Academic (DEA) yang disediakan oleh Universitas Islam Indonesia (UII), puncak cuitan masyarakat dalam Twitter terkait isu masker dan kepanikan atas Corona terjadi pada 7 Maret 2020 dengan lebih dari 1400 kali cuitan dan total terdapat hampir 5000 kali cuitan. Secara keseluruhan 57% cuitan tersebut memuat sentimen positif, 34% memuat sentimen negatif, dan sisanya atau sebanyak 9% dari 5000 cuitan tersebut memuat sentimen netral.

Satukan Jari Hadapi Pandemi

Meskipun lebih dari 50% dari total cuitan dengan topik masker dan kepanikan Corona, atau lebih tepatnya sebanyak 57% persen, nyatanya data menunjukkan cuitan dengan sentimen negatif soal isu masker dan kepanikan Corona masih tergolong tinggi, yakni sebanyak 34%. Itu artinya tingkat kekhawatiran masyarakat berkenaan isu masker dan kepanikan Corona yang ditunjukkan oleh masyarakat melalui Twitter juga tegolong relatif tinggi. Itulah sebabnya, gerakan-gerakan bernuansa positif seputar masker dan kekhawatiran Corona perlu dimasifkan. Misalnya seperti memasifkan postingan dengan tagar #dirumahsaja, #WFH, #stayhealty, dan lain sebagainya. Meskipun tidak tampak secara fisik, memboomingkan tagar positif tersebut dapat membantu meringankan beban psikis masyarakat di tengah krisis wabah Corona. Psikis masyarakat yang khawatir dengan wabah Corona dapat beresiko menurunkan tingkat sistem imun tubuh. Oleh karenanya membuat postingan yang menentramkan psikis masyarakat secara tidak langsung akan menjaga sistem kekebalan tubuh masyarakat.

Sisi Positif Post-Truth

Fenomena Post-Truth adalah fenomena dimana fakta tidak lebih dipercaya daripada asumsi pribadi seseorang. Itu artinya, fenomena ini akan terjadi manakala masyarakat lebih meyakini atau mempercayai isu-isu yang beredar luas di media sosial yang belum tentu kebenaran riilnya daripada fakta yang telah teruji kebenaran riilnya. Fenomena ini biasanya terjadi saat terjadi ledakan isu yang menyebabkan fakta dari isu tersebut tertimbun oleh opini-opini yang terbangun oleh postingan masyarakat itu sendiri. Tentunya kesadaran untuk meneliti dan mencermati informasi yang masuk di media sosial kita menjadi tanggung jawab masing-masing personal pengguna media sosial. Tujuannya agar kita tidak mudah terjebak dalam arus ilusi informasi tersebut.

Meskipun cenderung pada hal yang negatif, bukan berarti fenomena Post-Truth tidak memberikan hikmah positif. Fenomena dimana masyarakat lebih mempercayai isu yang trending ketimbang fakta tersebut dapat memberikan dampak positif apabila isu yang ditonjolkan adalah isu yang membangun dan bersifat positif. Terlebih dalam rangka menghadapi Covid-19 ini, menaikkan isu seperti #dirumahaja, #wfh, #stayhealty, dan isu positif lainnya akan sangat membantu dalam menghadapi Covid-19 ini. Masyarakat cenderung akan percaya dengan isu tersebut dan mengikuti isu positif tersebut manakala isu-isu positif tersebut mampu menutup isu negatif. Itu artinya siapapun dalam ikut andil dalam upaya ini. Oleh karena itu, mari bersosial media dengan positif dan bijak. (ila)

*Penulis merupakan mahasiswa Prodi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga.

Opini