TAK bisa dipungkiri sampah telah menjadi permasalahan yang seringkali dihadapi oleh masyarakat perkotaan. Mengapa tidak, sampah sering dianggap sebagai barang “hina” sehingga diperlakukan sembarangan misalnya dibuang di jalan, sungai, atau dibakar. Tak jarang hal itu menimbulkan dampak yang buruk bagi lingkungan maupun makhluk hidup.

Pada 2019, Kota Jogja misalnya, diprediksi menghasilkan sampah sebanyak 300 ton setiap hari dan jumlah tersebut meningkat setiap tahunnya. Hingga sempat memunculkan protes masyarakat dengan memblokade jalan menuju TPS Piyungan yang akhirnya sampah menumpuk disudut perkotaan selama berminggu-minggu. Kasus serupa juga terjadi di Ibukota, kita melihat bagaimana sampah menyumbat aliran sungai yang mengakibatkan banjir.

Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tesebut yakni dengan memunculkan presepsi postif masyarakat akan sampah. Sejatinya sampah merupakan “berlian” yang mampu bernilai lebih jika diolah atau diproses dengan baik (Azis, 2015). Dalam hal ini konsep sedekah sampah menjadi kasalitator dalam merubah perspektif masyarakat.

Konsep sedekah sampah memiliki ciri khas dibandingkan sistem penggelolan sampah yang lain. Ciri yang cukup mencolok adalah dalam hal penyetoran sampah tidak ada penghitungan atau rekening saldo pribadi mengenai jumlah sampah yang disetorkan.

Masyarakat didorong untuk kembali memiliki kesadaran untuk ikhlas berbagi dengan mensedekahkan sampahnya kepengelola guna diolah atau dijual kembali. Hasil penjualan ataupun penggolahan sampah nantinya akan dikembalikan kepada masyarakat bentuknya berupa kegiatan sosial atau pembangunan fasilitas (Dwi Endah, 2017).

Program sedekah sampah telah dilakukan oleh warga sleman tepatnya di Dusun Blimbingsari, Caturtunggal. Sekitar tahun 2018 lalu, Dusun Blimbingsari terutama RT 05 dikategorikan sebagai kawasan kumuh sedang. Penyebab utamanya adalah kondisi georgrafis yang terletak dibantaran Kali Code sehingga sering digunakan untuk tempat membuang sampah sembarangan. Akibatnya warga masyarakat sering terjangkit penyakit kulit, malaria bahkan banjir.

Merespon persoalan lingkungan, program sedekah sampah merupakan alternatif yang efektif untuk membangun masyarakat Jogja yang sehat. Setiap rumah diwajibkan memilah sampah kedalam tiga karung yang disediakan yakni plastik, kardus, dan kaleng. Kemudian selama seminggu sekali karung disetor ke tempat penggolahan (Balai RT) untuk dipilah mana yang laku dijual, dibuang atau diolah menjadi kerajinan.

Untuk sampah yang laku dijual biasanya berupa botol mineral, kardus, dan kertas. Sedangkan sampah seperti plastik kresek dan kaleng, kita buat menjadi polybag ecofriendly, ecobrick, dan media veltikultur. Sampai saat ini, berkat dari sistem sedekah sampah masyarakat mampu memiliki kas sebesar 2 juta rupiah yang digunakan untuk memperbaiki fasilitas maupun santunan. Namun lebih dari itu konsep ini telah menumbuhkan kembali gotong royong masyarakat yang lama hilang, terutama kepedulian terhadap lingkungan atau sampah. (ila)

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam UIN Sunan Klaijaga.

Opini