SAAT ini dunia politik di tanah air kembali dihebohkan dengan gebrakan Menteri BUMN Erick Thohir yang langsung menunjuk Basuki Tjahaja Purnama (BTP) untuk menjadi Komisaris Utama Pertamina.

Gebrakan ini luar biasa, karena dia telah berhasil membujuk BTP untuk berkiprah di dalam sebuah korporasi yang sering kali dihantui oleh berbagai isu-isu yang negatif. BTP yang selama ini diketahui oleh publik tidak akan pernah mau terjun ke dalam dunia politik lagi, namun pada kenyataanya BTP harus kembali berhadapan dengan sesuatu yang lebih sulit daripada sebelumnya. Tentu saja memimpin Pertamina itu tidak semudah mempimpin Jakarta, karena Pertamina bukan hanya melayani masyarakat Jakarta saja, tetapi juga melayani seluruh masyarakat yang ada di Indonesia.

Oleh karena itu, tugas BTP sebagai Komisaris Utama akan lebih sulit dibandingkan dengan tugas pada saat menjadi Gubernur. Ketika menjadi Komisais Utama, dia tidak bisa seenaknya menggunakan cara bekerja yang sangat egaliter. BTP harus selalu dinamis dalam bekerja, karena BTP adalah tulang punggung dari Pertamina. Apabila cara bekerja BTP masih sama seperti saat dia menjadi Gubernur, maka tidak menutup kemungkinan nasib dari Pertamina akan sama seperti Jakarta yang ia pimpin sebelumnya. Maka dari itu, kehadiran BTP di Pertamina bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan juga, karena memang tidak ada yang patut untuk dibanggakan dari seorang BTP yang belum mempunyai prestasi-prestasi dalam memimpin perusahaan BUMN.

Namun di satu sisi lainnya, beberapa orang di Indonesia masih memercayai BTP adalah sosok yang mampu memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada di Pertamina, khususnya permasalahan mengenai impor migas, mafia migas, dan lain sebagainya.

Menerapkan Dialog

Dialog berasal dari kata Yunani “dia” yang mempunyai arti antara, bersama. Sedangkan “legein” berarti berbicara, bercakap-cakap, bertukar pikiran, dan gagasan bersama (Hardjana, 2007: 104; Ngalimun, 2018: 32). Dialog sendiri merupakan percakapan yang mempunyai maksud untuk saling mengerti, memahami, dan mampu menciptakan kedamaian dala bekerja sama untuk memenuhi kebutuhannya.

Hal pertama yang harus dilakukan oleh BTP adalah menerapkan dialog dengan beberapa stakeholder (pemangku kepentingan) yang ada di Pertamina. Ketika ia menjadi Gubernur, ia lebih sering dikenal oleh publik sebagai sosok yang seolah-olah tidak mengutamakan dialog dalam menjalankan pekerjaannya. Maka dari itu, pada saat ini gaya kepemimpinan BTP harus berbeda dengan gaya kepemimpinannya pada saat ia menjadi Gubernur. BTP harus mengutamakan dialog dengan beberapa stakeholder Pertamina.

Harus Saling Bekerja Sama

George R. Terry dalam bukunya Principles of Management (1972) memberikan definisi bahwa kepemimpinan adalah hubungan dimana seseorang atau pimpinan dapat mempengaruhi pihak lain untuk mau bekerja sama guna mencapai tujuan yang diinginkan oleh pimpinan yang bersangkutan (Ruslan, 2012: 6). Kepemimpinan memang tidak pernah luput dari sebuah kerja sama dengan beberapa pihak yang mempunyai visi yang sama dengan pemimpinnnya.

Maka dari itu, kehadiran BTP tidak akan menjadi panasea bagi Pertamina apabila BTP tidak bisa membangun kerja sama yang baik dengan beberapa pihak. Misalnya pada saat ini ia ditugaskan untuk memberantas mafia migas, namun bisa jadi beberapa pihak tidak mau diajak bekerja sama dengan BTP untuk memberantas mafia migas. Apabila hal tersebut terjadi, tentu saja kinerja dari BTP tidak akan berjalan dengan efektif, dan bahkan bisa jadi hal tersebut juga tidak akan bisa memberantas mafia migas dengan cepat, karena memang BTP tidak mempunyai rekan-rekan untuk ia percayai dalam memberantas mafia.

Kendati demikian, baik BTP ataupun pihak lainnya yang ada di Pertamina harus saling bekerja sama dengan baik untuk mencapai kinerja yang positif. BTP tentu saja bukanlah sosok yang memiliki mukjizat untuk mengubah Pertamina dalam waktu yang singkat. BTP juga bukanlah panasea bagi Pertamina, karena untuk mengubah Pertamina menjadi lebih baik lagi, bukan hanya dengan mengandalkan BTP saja. Tapi juga harus saling bekerja sama antara satu sama lain untuk memperbaiki berbagai macam permasalahan pelik yang selama ini merusak reputasi Pertamina. (ila)

*Penulis adalah mahasiswa Universitas Serang Raya, Fakultas Ilmu Sosial, Ilmu   Politik dan Ilmu Hukum (FISIPKUM), Prodi Ilmu Komunikasi, Konsentrasi Public Relations.

Opini