GERAKAN literasi merupakan kegiatan mengasah kemampuan, mengakses, memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi secara kritis dan cerdas. Literasi berlandaskan kegiatan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara untuk menumbuhkembangkan karakter seseorang menjadi tangguh, kuat, dan baik.

Kegiatan yang dilakukan dalam gerakan literasi sebenarnya bukan hanya sebatas baca dan tulis, namun lebih luas lagi. Pengembangan literasi tersebut meliputi literasi sains, kewargaan, digital, numerasi, dan finansial. Kemampuan dasar literasi ini bertujuan untuk membekali peserta didik untuk menghadapi tuntutan abad 21, di antaranya adalah kemampuan untuk berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis, dan kreatif.

Inti dari kegiatan PPK dan literasi adalah pembiasaan bagi peserta didik untuk menumbuhkan budaya baik yang akan membentuk karakter siswa. Pengetahuan dasar yang dimiliki pendidik masih terbatas pada pengetahuan bahwa PPK adalah pembiasaan baik yang harus dilakukan peserta didik sedangkan literasi adalah pembiasaan baca tulis. Pengetahuan seperti ini hendaknya perlu diluruskan bahwa PPK tidak hanya terbatas pada pembiasaan , namun juga harus ditargetkan untuk bisa membudaya , sedangkan literasi juga harus diperkenalkan bukan hanya sebagai kebiasaan membaca dan menulis, namun juga berkembang menjadi literasi yang lain.

Hal inilah yang mendorong penulis untuk menerapkan PPK berbasis literasi dimulai dari lingkungan terdekat yaitu sekolah tempat penulis mengajar. Awal dari kegiatan ini penulis lakukan di lingkungan kelas yang setiap hari penulis temui yaitu kelas VB SD Negeri 2 Sukorejo. Melalui awal yang sederhana ini, penulis harapkan kelas lain di SD Negeri 2 Sukorejo dapat membudayakan PPK berbasis literasi. Harapan penulis lebih jauh lagi, budaya ini dapat menyebar ke sekolah lain dalam lingkup KKG yang penulis jadikan wadah untuk berbagi dengan pendidik yang lain.

Yel-yel sebagai Wadah Penjenamaan

Motivasi merupakan awal pengenalan hal baru yang akan dilakukan, termasuk untuk membudayakan PPK berbasis literasi di kelas. Dalam lingkup yang sederhana ini, hal kecil namun berdampak besar akan segera dimulai. Warga kelas diajak unuk membuat yel-yel yang merupakan motivasi dan kesepakatan yang disetujui oleh seluruh warga kelas. Yel-yel yang kami sepakati adalah Hebat, Kompak, Semangat, Bisa. Dalam empat kata ajaib tersebut, nulai PPK yang dimunculkan adalah mandiri, gotong royong, nasionalis, dan integritas. Tugas guru di kelas tidak hanya menyuruh dan mengikuti peserta didik dalam melakukan yel-yel yang telah disepakati, namun guru juga berkewajiban untuk selalu mendorong peserta didik bersikap sesuai dengan yel-yel yang disepakati bersama.

Tampilan Kelas dan Lingkungan Belajar PPK Berbasis Literasi

Ruang kelas, sebuah tempat dimana lebih dari 90 persen peserta didik menggunakannya ketika di sekolah. Ruang ini juga diciptakan untuk memasukkan unsur PPK dan literasi. Melalui penataan ruang kelas yang menarik, diharapkan peserta didik akan lebih betah belajar. Hal inilah yang menjadi dasar penulis untuk mengubah suasana kelas menjadi ruang yang menyenangkan.

Cara yang dilakukan penulis yaitu dengan mengecat ruang kelas dengan tema PPK dan literasi. Tema PPK diwujudkan dengan menuliskan empat kata ajaib yang sederhana namun sangat bermakna. Empat kata tersebut yaitu “maaf”, “terima kasih”, “tolong”, dan “permisi”. Keempat kata ini sebenarnya mudah diucapkan namun tidak semua orang mau dan ikhlas mengucapkannya. Melalui penulisan kata-kata ini di ruang kelas diharapakan peserta didik akan menerapkannya dalam keseharian mereka.Hal ini juga bertujuan untuk mengurangi bahkan menghilangkan perundungan yang saat ini semakin meresahkan.

Perwujudan literasi di ruang kelas dapat dilihat dari pojok baca yang terdapat di dalam kelas. Pojok baca ini merupakan perpustakaan mini yang berisi buku nonteks pelajaran.

Model Pembelajaran Bervariasi

Model pembelajaran yang digunakan di kelas juga mengintegrasikan PPK berbasis literasi. Sesuai dengan tuntutan abad 21, model pembelajaran yang disajikan guru merupakan salah satu upaya untuk mengoptimalkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, berkomunikasi, dan berkolaborasi. Model pembelajaran yang disajikan juga bervariatif, tidak hanya mengikuti langkah pembelajaran yang terdapat dalam buku teks.

Variasi pembelajaran ini tidak hanya bersumber dari guru, namun siswa juga dilibatkan untuk menyajikan pembelajaran yang mereka inginkan. Guru harus kreatif dalam menerapkan model pembelajaran yang dapat mengeksplorasi kemampuan masing-masing siswa dengan tetap mengintegrasikan PPK berbasis literasi. Misalnya, dalam suatu rancangan pembelajaran siswa diberi tugas untuk membaca terlebih dahulu teks yang terdapat dalam majalah//surat kabar mengenai isu sosial yang terjadi di sekitar mereka. Siswa diminta untuk menanggapi teks tersebut secara berkelompok, misalnya dengan memberikan saran mengenai penyelesaian permasalahan sosial tersebut. Siswa diminta untuk mempresentasikan tanggapan mereka.

Pemanfaatan Budaya yang Terintegrasi

Pembelajaran yang digunakan dalam Kurikulum 2013 menggunakan pembelajaran tematik terpadu. Pendekatan ini menghubungakan beberapa muatan pelajaran dalam satu kesatuan tema. Muatan pelajarn Seni Budaya yang dulunya dipisahkan dari muatan pelajaran lain, sekarang diintegrasikan.

Hal ini sejalan dengan tren penerapan “ethnomathematic” dan “Ethnosains” yang menggunakan budaya sebagai media untuk membelajarkan konsep muatan pelajaran eksak. Melalui media budaya di sekitar, diharapkan peserta didik dapat lebih mudah menerapkan konsep pembelajaran sains dan matematika yang diterima mereka. Sebagai contoh, materi pertunjukan tari dapat digunakan untuk membelajarkan matematika materi menghitung luas dan keliling selendang tari, menghitung luas dan volume alat musik yang digunakan, menentukan pola lantai dan hubungannya dengan bangun datar. Pembelajaran seni tari juga dapat digunakan untuk membelajarkan sains pada materi bunyi, bahan penyusun benda, gaya, gerak, listrik, dan lain sebagainya. Hal ini kembali lagi pada kreativitas guru dalam mengemas pembelajaran menjadi menyenangkan namun tetap bermakna bagi siswa.

Komitmen dan Konsistensi Kunci Prestasi

Komitmen untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik harus dipahami dan dijalankan oleh semua pihak. Pembiasaan baik ini akan sia-sia jika tidak dibarengi untuk melaksanakan program secara konsisten. Melalui penerapan dan pembiasaan program yang telah dilakukan, diaharapkan PPK berbasis literasi di sekolah dapat membudaya. Hal ini akan berdampak pada meningkatnya prestasi peserta didik di kelas. Dampak lain dari penerapan PPK berbasis literasi adalah sebagai bekal bagi peserta didik untuk dapat terjun dalam masyarakat dalam kehidupan sekitar mereka. (ila)

*Penulis merupakan Guru kelas di SDN 2 Sukorejo Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal dan Fasilitator Nasional PINTAR Tanotofoundation

Opini