PANGERAN Mangkubumi bersama anggota tim survei calon ibu kota Mataram terus bekerja. Untuk mendapatkan inspirasi dan aspirasi, tim menjalankan nenepi, mesu puja brata. Setelah menjalankan laku spiritual, anggota tim Pangeran Wijil dan Tumenggung Tirtawiguna mendapatkan wangsit.

Sampun pinasthi bilih Dhusun Sala badhe dados praja agung (sudah menjadi kehendak-Nya Desa Sala menjadi negara besar, Red),” demikian petunjuk yang diterima kedua pejabat Mataram itu.

Untuk mendalami lebih lanjut, tim kemudian menemui Ki Gede Sala, tokoh terkemuka di dusun tersebut. Ki Gede Sala kemudian menceritakan sejarah  desanya. Semua tidak bisa dilepaskan dari kisah Raden Pabelan di masa Kerajaan Pajang pada 1582.

Raden Pabelan merupakan putra Tumenggung Mayang, ipar Panembahan Senopati, pendiri Dinasti Mataram. Di masa hidupnya  Pabelan dikenal berparas rupawan. Sosoknya tampan sehingga memikat banyak perempuan. Termasuk sang sekar kedhaton, putri raja Pajang Sultan Hadiwijaya ikut tergoda dengan sosok Pabelan.

Malang, saat bercumbu rayu dengan putri raja bernama Dyah Retna Murtiningrum di Keputren, ketahuan pasukan pengamanan raja (paspamraja) Pajang. Pabelan kemudian ditangkap. Dia dianggap melanggar norma kesusilaan dan paugeran di Kerajaan Pajang. Keponakan Panembahan Senopati akhirnya diproses hukum.

Majelis hakim yang diketuai langsung Sultan Hadiwijaya menjatuhkan hukuman maksimal. Anak Tumenggung Mayang itu dihukum mati. Ayahnya juga ikut kena getah. Tumenggung Mayang dicopot dari jabatannya. Bersama semua keluarganya diasingkan ke Hutan Roban di Kendal.

Mayat Pabelan kemudian dihanyutkan di atas Sungai Laweyan. Jenazah keponakan Senopati itu “kesangsang” (terdampar) di timur Desa Sala. Saat ditengahkan orang kembali menepi. Ditengahkan lagi, kemudian kembali menepi. Akhirnya roh Pabelan minta dikuburkan di dekat lokasi tersebut. Tempat bathang kesangsang (mayat terdampar)  dikenal menjadi Kampung Bathangan. Lokasi kampung ini persis di sebelah timur Alun-Alun Utara Surakarta.

Dengan memuliakan kuburan Raden Pabelan diramalkan Desa Sala menjadi ibu kota Mataram yang masyur. “Nagari agung sarta tata raharja salamipun boten saged risak (menjadi negara besar tertib dan sejahtera selamanya serta tidak dapat rusak, Red),”.

Usai mendengarkan kisah itu, Pangeran Mangkubumi bersama anggota tim survei berziarah ke makam Raden Pabelan. Dari makam itu,  lokasinya lebih tinggi dapat melihat keluasan Desa Sala dan sekitarnya. Ini persis saat berada di Imogiri. Dari atas makam raja-raja Mataram kita dapat melihat keluasan kawasan itu hingga mendekati Pantai Parangkusuma.

Meski demikian, tim survei masih menghadapi kendala. Di Desa Sala masih ada rawa yang dalam dan luas. Tim akhirnya melaporkannya kepada Sunan Paku Buwono II. Ikut menghadap Sunan dalam kesempatan itu Ki Gede Sala.

Paku Buwono II kemudian memberikan arahan kepada Kiai Tohjoyo dan Kiai Yasadipura untuk mengadakan rechecking (meneliti ulang). Membandingkan lokasi Desa Sala dan Desa Tolowangi. Peninjauan keliling dilakukan terhadap semua daerah rawa.

Tim kemudian kembali membuat laporan. Kali ini didampingi ahli nujum atau futurolog Tumenggung Honggowongso. Pelibatan Honggowongso itu dalam rangka pemantapan pelaksanaan pembangunan ibu kota Mataram yang baru.

Berdasarkan pengarahan Sunan, Pepatih Dalem Tumenggung Pringgalaya diperintahkan menggelar rapat kerja nasional dengan nayaka Jawi lebet atau  para petinggi Kerajaan Mataram. Agendanya terkait pembangunan ibu kota pengganti Kartasura sekaligus  boyong kedhaton atau pindahan ke ibu kota baru.

Rapat kerja diadakan maraton. Memakan selama waktu 15 hari. Beberapa kesimpulan  dihasilkan. Antara lain sekretariat kepatihan melayangkan surat permintaan bantuan kepada semua bupati mancanegara baik bang/brang wetan dan kulon (bagian timur dan barat, Red).

Setiap daerah diminta mengirimkan balok atau glondongan kayu guna menutup rawa. Namun sumber mata airnya masih saja belum tertutup. Sebaliknya, justru menjadi lebih besar. Ikan-ikan laut seperti pethek, layur dan lainnya bermunculan. Pangeran Wijil dan Yasadipura sangat sedih melihat kondisi tersebut. Pembangunan calon ibu kota Mataram yang baru menjadi tertunda. (laz)

Opini