KESEDIAAN Bupati Cakraningrat menarik pasukan Madura dari Kartasura disambut gembira oleh Sunan Paku Buwono II. Raja Mataram itu kemudian mengirimkan utusan guna menyerahkan surat kepada kakak iparnya itu. Sunan menyampaikan rasa terima kasih atas peran dan jasa Cakraningrat membebaskan ibu kota Mataram dari laskar Tionghoa dan Sunan Kuning.

Perubahan sikap Cakraningrat itu langsung direspons petinggi VOC di Semarang. Ini merupakan kesempatan yang baik. Tanpa menunggu waktu lama, Kompeni mengirimkan ekspedisi militer. Sebanyak 600 orang serdadu berangkat menuju Kartasura. Pasukan itu di bawah komando Kapten Von Hohendorrf.

Sempat terjadi kontak senjata dengan laskar Tionghoa di Desa Lemah Abang dekat Ungaran. Sisa-sisa pendukung Sunan Kuning itu berhasil dipukul mundur. Hohendorrf tiba di istana Kartasura pada 20 Desember 1742.

Didampingi komandan tentara Madura, Hohendorrf meninjau seisi istana yang pernah diduduki Sunan Kuning selama lima bulan. Setelah memastikan situasinya aman, Hohendorff segera menghadap Paku Buwono II yang tengah berada di Desa Gumpang, sebelah timur Kartasura.

Hohendorff melaporkan istana Kartasura siap menerima kedatangan Paku Buwono II. Sehari kemudian, Sunan bersama rombongan tiba di keratonnya. Raja mendapatkan sambutan luar biasa. Ada upacara agung mengiringi Sunan saat hendak duduk di dampar kencana (singgasana, Red). Beberapa kali dentuman meriam terdengar.

Semua perwira  VOC ikut memberikan  penghormatan. Begitu pula dengan tentara Madura.  Penghormatan dilakuka dengan adat Jawa. Semua yang hadir menyembah raja dilanjutkan mencium kaki Sunan.

Usai upacara itu, Sunan berjalan menghadap ibundanya, Ratu Amangkurat. Pertemuan anak dengan ibu berlangsung penuh haru. Ratu Amangkurat tak bisa menahan tangis. Seharusnya Ratu Amangkurat ikut mengungsi ke Ponorogo. Namun saat evakuasi keluar dari istana Kartasura, ibu suri itu beberapa kali jatuh pingsan. Akibatnya Ratu Amangkurat tidak dapat naik kuda yang akan membawanya menyelamatkan diri bersama sang putra.

Saat berkuasa di Kartasura, Sunan Kuning memberlakukan dengan hormat dan penuh sopan terhadap Ratu Amangkurat. Dia tetap dipersilakan tinggal di dalam Keputren Keraton Kartasura. Selain Ratu Amangkurat, ada juga Ratu Maduretno, permaisuri Paku Buwono III. Maduretno tak lain adik kandung Bupati Madura Cakraningrat. Perempuan-perempuan lainnya adalah istri Patih Notokusumo dan sejumlah selir Paku Buwono II.

Selama lima bulan menduduki takhta Mataram, Sunan Kuning mengambil beberapa selir Paku Buwono II untuk dijadikan istri. Namun Sunan Kuning yang juga bergelar Amangkurat V tidak mau menganggu Ratu Maduretno. Permaisuri lawan politiknya itu tetap mendapatkan perlakuan yang terhormat.

Ratu Maduretno justru merasa panik saat tentara Madura menguasai istana Kartasura. Dia memilih meninggalkan keraton. Maduretno kemudian mengungsi ke Desa Bayat, Klaten. Dia khawatir dipaksa oleh kakak kandungnya balik ke Madura. Sebab, dia tahu kakaknya bermusuhan dengan suaminya.

Upaya tentara Madura mengajak Maduretno pulang ke kampung halamannya ditolak mentah-mentah. Maduretno lebih memilih menunggu kedatangan suaminya. Raja dan permaisuri itu akhirnya bertemu kembali saat takhta Mataram kembali ke tangan Paku Buwono II.

Meski terusir dari Kartasura, Sunan Kuning tidak mau menyerah. Dia bersama pasukannya yang dipimpin Kapitan Sepanjang, Patih Mangunoneng dan Raden Mas (RM) Said membuat markas perjuangan di Desa Randulawang, dekat Candi Prambanan.

Dengan sisa kekuatan sebanyak 900 prajurit, Sunan Kuning beberapa kali menyerang Kartasura. Namun gempuran dari laskar Tionghoa itu berhasil dipatahkan. Bahkan  Randulawang kemudian hancur karena serbuan pasukan VOC. Kekuatan Sunan Kuning tercerai berai, Patih Mangunoneng lari arah Bagelen. Sedangkan Sunan Kuning, Sepanjang dan Said menyingkir ke arah Wonogiri. (laz)

Opini