VOC tengah menjajaki sikap para bupati pesisir terhadap krisis yang melanda Mataram. Pasca terjadinya peralihan kekuasaan dari Sunan Paku Buwono II digantikan Sunan Amangkurat V alias Sunan Kuning, sikap para bupati itu terbelah.

Dari analisis penguasa VOC di Semarang disimpulkan para bupati pesisir tidak bersedia lagi tunduk di bawah rezim baru. Hugo Verijsel sebagai penguasa Kompeni di Jawa Tengah menolak mengampuni para bupati yang mau berlindung di bawah Kompeni. Dari perhitungannya, para bupati itu otomatis minta perlindungan ke VOC setelah takhta Mataram berhasil direbut kembali dari tangan Sunan Kuning.

Perlindungan hanya akan diberikan kepada bupati pesisir. Kebijakan ini tidak berlaku bagi bupati di daerah pedalaman. Kompeni tidak ingin dituding  mempreteli semua kekuasaan Mataram. Verijsel memusatkan konsentrasi merebut daerah pesisir utara Jawa Tengah. Saat itu Komandan Laskar Tionghoa Singseh tengah kembali ke Demak usai mengantarkan Sunan Kuning ke Kartasura.

Singseh menuju Jepara dan Lasem yang masih rusuh. Pertempuran sengit terjadi di Demak. Setelah berperang selama beberapa hari, pasukan VOC berhasil memukul mundur anak buah Singseh. Demak jatuh ke tangan Kompeni. Kekalahan di Demak tidak menyurutkan semangat laskar Tionghoa. Mereka tetap melakukan perlawanan.

Setelah kemenangan itu, Verijsel berhasil mengonsolidasikan kekuatan. Termasuk mengajak bergabung Bupati Madura Cakraningrat.  Kompeni dan Madura membentuk koalisi. Ditambah kekuatan Paku Buwono II yang berpusat di Ponorogo. Ada tiga kekuatan besar yang mengepung takhta Sunan Kuning.

VOC berencana menyerang Kartasura melalui Salatiga. Dari perkiraan Verijsel, jika Sunan Kuning terdesak akan lari ke arah Jawa Timur. Sunan Kuning akan bergabung dengan Arya Wiranegara,  cucu Untung Surapati yang memimpin perlawanan di Pasuruan dan Malang.

Cakraningrat diminta bersiaga di wilayah timur. Mengantisipasi kemungkinan Sunan Kuning lari ke sana. Pasukan Madura harus menahan semua laskar Sunan Kuning agar tidak masuk wilayah Jawa Timur. Permintaan ini oleh Cakraningrat ditafsir secara luas. Dia menganggap Kompeni memberikan lampu hijau menyerang Kartasura dari arah timur.

Bupati Madura itu segera mengerahkan pasukannya. Gerakan pasukan Cakraningrat ini di luar dugaan Kompeni. Pergerakan mereka menuju ibu kota Mataram tidak mampu lagi dikendalikan oleh VOC. Sasaran Cakraningrat adalah menyerbu Kartasura.

Manuver tentara Madura terdengar oleh Sunan Paku Buwono II maupun Sunan Amangkurat V. Kedua raja yang sama-sama tengah berebut takhta itu mengkhawatirkan dengan kondisi tersebut. Sejak lama hubungan antara Paku Buwono II dengan Cakraningrat buruk. Gara-garanya Cakraningrat sakit hati wilayah Pasuruan batal diberikan kepada Madura. Sedangkan Paku Buwono II merasa dongkol dengan tindak tanduk kakak iparnya itu. Cakraningrat tidak menunjukkan loyalitas yang penuh dengan Mataram. Harap diketahui, Ratu Paku Buwono, permaisuri Paku Buwono III berasal dari Madura. Istri utama raja ini adik dari Cakraningrat.

Bahkan  dia berniat lepas dari Kartasura. Ingin membangun kekuatan dengan kerajaan yang sejajar dengan Mataram. Cakraningrat juga mencaplok beberapa daerah Mataram di Jawa Timur.  Paku Buwono II merasa kekuasaanya telah dilecehkan oleh Cakraningrat. Ketegangan politik mewarnai hubungan Mataram dengan Madura.

Kini kekhwatiran kehilangan takhta membayangi Sunan Kuning. Dia menyadari kekuatannya tidak akan mampu menghadapi serangan dari tiga lawannya itu. Posisinya benar-benar terjepit. Raja Mataram terakhir bergelar Amangkurat V ini  mengajak Paku Buwono II berdamai.

Tawarannya takhta Mataram dibagi dua.  Amangkurat V berkuasa di bagian barat dan Paku Buwono II menguasai wilayah timur. Batas wilayah pembagian adalah Gunung Lawu. Namun tawaran itu ditolak Paku Buwono II. Dia merasa percaya diri dapat merebut kembali takhta Mataram. (laz)

Opini