Bukan menjadi sebuah fenomena baru lagi ketika melihat kemunduran dunia musik khususnya wilayah Indonesia. Kenapa disebut mundur, karena belakangan ini terjadi fenomena keseragaman musik yang berkembang di Indonesia. Demi menuruti pasar, musik justru mempersempit pasar. Semua jadi seragam dan pasar musik pun ikut menjadi satu warna saja. Musik seakan-akan hilang rohnya dalam berdialektika dengan penyuara idealis dari sang pencipta musik. Musik justru sedang dimabuk nominal.

Bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi bagaimana solusi terbaik dicari supaya musik kembali berarti. Bukan menyoroti genre musik tertentu, mengingat musik di Indonesia sebenarnya kemajuannya sudah sangat pesat dan sangat beragam warna musiknya. Hanya saja pasarnya yang belum maksimal kinerjanya dan masyarakat perlu disadarkan akan hal itu. Jangan sampai pasar yang belum sehat itu, akhirnya mempengaruhi keberagaman musik di Indonesia menjadi seragam. Tentunya dibarengi dengan mengedukasi masyarakat, dengan cara membuka ruang-ruang diskusi, sarasehan, ngobrol santai, hingga seminar supaya semua lapisan bisa terjangkau dan tidak berhenti hanya di kalangan akademisi saja. Di kalangan pencipta musik atau senimannya juga perlu memikirkan apa yang dia ciptakan. Lebih menarik ketika pencipta musik bisa mendialogkan apa yang dia ciptakan sehingga proses edukasi di sini bisa berjalan dengan maksimal.

Mari kita coba melihat tiga elemen yang krusial dan saling berhubungan dalam lingkup musik yang ada saat ini. Tiga elemen itu adalah pelaku musik (penyanyi, penulis lagu, dan lainnya), Event Organizer (semua kelompok, lembaga, PT, CV, dll, dari yang berbadan hukum hingga komunitas-komunitas kecil), dan enikmat musik (dari pemakai jasa Event Organizer hingga masyarakat umum). Tiga elemen krusial yang seharusnya terhubung dengan romantis ini dari dulu hingga sekarang masih saja menunjukkan gelagat hubungan yang tidak harmonis dan saling menekan.

Lagi-lagi bukan berniat mencari salah dan benar, ketidakharmonisan itu bisa kita lihat melalui fenomena-fenomena “negosiasi” yang merugikan salah satu elemen. Sebagai contoh, pelaku musik yang kurang produktif atau hanya memiliki beberapa karya musik saja. Tentu di sini Event Organizer dan penikmat musik tidak akan memilih karya si pelaku musik ini untuk dipilih. Tinggal bagaimana negosiasinya, atau cari pelaku musik lain. Yang menjadi masalah, ketika banyak pelaku musik yang kurang produktif sehingga membuat tidak banyak pilihan sebagai pengisi acara, maka yang dirugikan adalah Event Organizer yang akan menurunkan kualitas acara musiknya. Ya, menjadi pelaku musik juga perlu produktif untuk menunjukkan kualitasnya supaya orang akan memilihnya.

Contoh lain melihat dari ranah Event Organizernya, apabila kita lihat elemen ini juga mempunya pengaruh sangat kuat dalam dunia musik. Ia bisa memikirkan yang tidak bisa dilakukan oleh pelaku musik, khususnya dalam hal membuat acara musik. Bahkan Event Organizer juga bisa memberi asupan kepada penikmat musik, dalam hal ini pengguna jasa Event Organizer. Sebagai contoh penikmat musik menggunakan jasa Event Organizer untuk acara musiknya, persoalan yang kerap terjadi musik justru diminta menyesuaikan acara tersebut. Di sini kadang terjadi negosiasi yang kurang sehat seperti penurunan kualitas musik demi menuruti pangsa pasar dalam hal ini penikmat musik. Hal ini terjadi juga pengaruhkurangnya edukasi musik terhadap penikmat musik. Pada fenomena ini Event Organizer seperti penghubung antara penikmat musik dan pelaku musik. Nah, di sinlah, seperti yang sudah dikatakan di atas, bahwa Event Organizer juga bisa memberi asupan edukasi kepada penikmat musik. Lebih lanjut lagi Event Organizer juga bisa memberi masukan kepada pelaku musik terkait kondisi pasar, sehingga bisa menjadi referensi memuat musik tanpa menurunkan kualitas musiknya.

Penikmat musik tentu menjadi elemen penting karena mereka adalah jantungnya pasar musik. Tentu pelaku musik juga ingin karyanya diapresiasi, tentu Event Organizer juga terkadang bekerja dengan penikmat musik, dan pasar yang sehat juga butuh menyehatkan jantungnya. Ya, masih banyak orang yang belum bisa menghargai karya seni, termasuk musik.

Melihat pentingnya menjaga keharmonisan tiga elemen ini, SEAMEX diselenggarakan dengan berbagai isian acara yang berkualitas. Tiga elemen ini semua ada di SEAMEX, bahkan lebih dari itu. Program-program seperti seminar, workshop musik, musik talk yang mendatangkan pelaku festival musik, hingga pementasan musik digelar untuk mengharmoniskan masyarakat musik di Indonesia hingga Asia. Pelaku musik bisa mementaskan karyanya, bisa mengapresiasi musik orang lain, bisa mencari ide dan gagasan membuat musik, dan masih banyak lagi. Event Organizer bisa mengapresiasi musik, bisa melihat pasar, bisa belajar tentang event, dan lain sebagainya. Penikmat musik tentu bisa menikmati musik, bisa mendapat edukasi tentang musik, bisa melihat bagaimana perkembangan musik yang sudah terjadi, dan lain sebagainya. Di SEAMEX semua terkoneksi dengan baik sehingga pasar pun menjadi sehat. Pasar tidak melulu berorientasi terhadap uang, pasar juga berbicara jaringan dan konektivitas, pasar juga berbicara melimpahnya ide dan gagasan membuat musik, dan semua ada di SEAMEX. (*)

Opini