TUJUAN Sunan Amangkurat V merebut takhta Mataram sudah bulat. Dalam perjalanan menuju ibu kota Kartasura, Sunan singgah di makam raja Demak Raden Patah. Berdasarkan sejarahnya, raja pertama Demak itu berdarah Tionghoa.

Meski bukan keturunan Tionghoa, Amangkurat V didukung orang-orang Tionghoa. Mereka dikenal berkulit kuning. Karena itu, Amangkurat V juga dikenal dengan sebutan Sunan Kuning. Tidak lama Sunan berziarah. Bersama laskar pendukungnya, raja yang dinobatkan rakyat di Pati itu melanjutkan perjalanan menuju Grobogan.

Tepatnya di Desa Gubuk, tak jauh dari Purwodadi. Amangkurat V menjadikan Gubuk sebagai pusat pemerintahan sementara. Letak Gubuk ini dinilai strategis. Ada dua musuh yang sekarang harus dihadapi Sunan Kuning. Yakni Paku Buwono II dan VOC.

Kekuatan Paku Buwono II berada di Kartasura. Sedangkan pasukan Kompeni berpusat di Semarang. Saat menyerang daerah pesisir utara, pasukan Kartasura berangkat melalui Grobogan dan VOC lewat Demak. Desa Gubuk memiliki akses mudah menuju dua daerah tersebut.

Perhitungan itu rupanya menjadi kenyataan. Tumenggung Pringgalaya dari Kartasura baru saja menyerang laskar Tionghoa di Grobogan. Laskar Tionghoa sempat kedodoran. Mereka kemudian membuat pusat gerakan di daerah Bicak.

Ada 2.000 pasukan dimiliki trio pendukung Sunan Kuning. Mereka adalah Bupati Grobogan Martapuro, Bupati Pati Mangunoneng dan Kapten Sepanjang. Pringgalaya yang semula di atas angin dibuat kaget. Muncul serangan dadakan dari kelompok lain.

Serangan datang dari orang-orang Bugis. Jumlahnya sekitar 300 orang. Mereka dipimpin Tamby. Aksi Tamby ini membuat repot pasukan Kartasura. Tamby adalah mantan kepala pedagang India di Juwana, Pati. Bantuan Tamby ini cukup membantu. Pringgalaya berhasil dipukul mundur.

Kemenangan pertama diraih pasukan Sunan Kuning. Peristiwa ini terjadi pada 7 Mei 1942. Dalam pertempuran itu beberapa petinggi Mataram meninggal. Di antaranya Tumenggung Wiraguna dan Tumenggung Singaranu. Begitu pula dengan pasukan Mlayakusumo. Logistiknya berhasil dirampas musuh. Pasukan Kartasura benar-benar dibuat lumpuh.

Kemenangan ini berdampak positif bagi kubu oposisi. Berita kekalahan pasukan Mataram segera menyebar ke seluruh pelosok negeri. Kekuatan Sunan Kuning patut diperhitungkan.

Beberapa bupati bawahan Mataram mulai berhitung ulang. Mangunoneng memanfaatkan situasi itu. Sejumlah bupati Mataram tersebut didekati. Mereka diyakinkan Kartasura akan jatuh ke tangan mereka. Tinggal menghitung waktu saja. Begitu omongan Mangunoeng dengan nada sangat meyakinkan. Banyak orang percaya. Kekuatan Sunan bertambah besar. Dukungan terbanyak datang dari orang-orang Jawa. Jumlah mereka melebihi laskar Tionghoa.

Kekalahan pasukan Pringgalaya membuat VOC mengkaji ulang strategi pertempuran di lapangan. Kekuatan Sunan Kuning tidak dapat diremehkan. Meski begitu, Kompeni bertekad mempertahankan Paku Buwono II. Jangan sampai Sunan diturunkan dari takhta oleh gerakan oposisi. Jika Paku Buwono II sampai kehilangan takhta, maka VOC justru akan kehilangan semuanya.

Di istana Kartasura, Sunan tengah mengadakan rapat kabinet. Temanya membahas pasca kekalahan Pringgalaya. Beberapa bupati di wilayah utara diminta segera merapat membantu Pringgalaya.  Bantuan didatangkan dari Batang, Pekalongan, dan Pemalang. Juga dari Banyumas yang dipimpin bupatinya Yudhanegara. Mereka  bergerak menuju Grobogan.

Namun pergerakan pasukan ini kalah cepat dengan Martapuro. Pasukan Mataram kembali mengalami kekalahan. Situasi ini mencemaskan Kapten VOC Hohendorff. Dia berpikir harus diciptakan langkah darurat jika situasinya makin memburuk. Hohendorff telah membuat rencana menyelamatkan Paku Buwono II dan keluarganya. Sunan akan diungsikan ke Semarang. (laz)

Opini