PENOBATAN Raden Mas (RM) Garendi menjadi raja sebenarnya bentuk perlawanan keturunan Amangkurat II melawan trah Paku Buwono I. Sebagai pendiri istana Kartasura, hanya ada satu keturunan Amangkurat II yang sempat bertakhta sebagai susuhunan. Yakni putra mahkota RM Sutikna yang kemudian bergelar Amangkurat III.

Namun usia pemerintahannya berjalan singkat 1703-1705. Tidak lebih dari tiga tahun. Amangkurat III atau Sunan Mas ini didongkel dari takhtanya oleh paman sekaligus mantan mertua Pangeran Poeger. Sejarahnya, Poeger adalah adik beda ibu dengan Amangkurat II. Ibu mereka sama-sama berstatus permaisuri Amangkurat I.

Ibu Amangkurat II bernama Ratu Kulon. Sedangkan ibunda Poeger bergelar Ratu Wetan. Takhta menjadi hak dari putra raja yang lahir dari Ratu Kulon.
Namun situasi berubah sepeninggal Amangkurat II. Poeger berhasil menghimpun gerakan rakyat sehingga memaksa keponakannya menyerah. Takhta Mataram telah bergeser. Sejak Poeger menjadi Paku Buwono I, penerusnya merupakan keturunannya.

Paku Buwono I digantikan putra mahkota Raden Mas Suryokusumo yang memilih kembali memakai gelar Amangkurat IV. Pengganti Amangkurat IV, sang putra mahkota Raden Mas Gusti (RMG) Prabasuyasa memakai gelar kakeknya, Paku Buwono II.

Sama halnya dengan Paku Buwono II merupakan cucu Paku Buwono I, Garendi tercatat juga cucu Amangkurat III. Saat dikukuhkan sebagai raja Mataram di Pati pada 6 April 1742, Garendi kembali menggunakan sebutan Amangkurat V. Kelak dia menjadi raja terakhir Mataram yang bergelar Amangkurat.
Tak ada lagi penguasa Mataram yang memakai nama Amangkurat. Raja-raja Mataram Surakarta dan Ngayogyakarta merupakan keturunan dari Paku Buwono I. Mereka enggan menggunakan sebutan Amangkurat. Surakarta tetap bergelar Susuhunan Paku Buwono dan Ngayogyakarta Sultan Hamegku Buwono.

Sejarahnya Garendi adalah anak dari Pangeran Tepasana. Dia putra Amangkurat III yang terbunuh dalam konflik internal kelurga Mataram. Dalam Babad Kartasura, Garendi dilukiskan berwajah tampan. Sejak kecil dikenal cerdas. Garendi nyaris dibunuh dalam konflik yang menyeret ayahnya. Garendi berhasil diselamatkan pamannya Wiramenggala.

Mereka lolos dari kejaran pasukan Kartasura. Garendi dan Wiramenggala menyelamatkan diri menuju Gunung Kemukus. Perjalanan dilanjutkan hingga menuju Grobogan. Rombongan Wiramenggala ditampung keluarga pengusaha Tionghoa He Tik. Garendi kemudian menjadi anak angkat He Tik.
Setelah dinobatkan menjadi Amangkurat V, Garendi langsung mengadakan konsolidasi. Targetnya merebut takhta Mataram dan melengserkan Paku Buwono II telah bulat. Persiapan menyerang istana Kartasura mulai disusun.
Pasukan yang dipimpin Bupati Grobogan Martapura, Bupati Pati Mangunoeneng dan Singseh mulai menyerbu Kudus dan Pati. Dalam waktu singkat dua wilayah di timur Semarang berhasil dikuasai anak buah Amangkurat V.

Dalam menghadapi serangan pemberontak ini, VOC salah hitung, kongsi dagang Belanda itu menganggap yang memberontak kebanyakan orang Tionghoa. Tapi kenyataan di lapangan bicara sebaliknya. Orang-orang Jawa lebih dominan ketimbang laskar Tionghoa.

Perlawanan rakyat juga muncul di wilayah Kedu. Tujuannya gerakannya tak begitu terang. Paku Buwono II merasa terjadinya gelombang pemberontakan itu muaranya ditujukan pada dirinya. Sunan sadar takhtanya tak lagi aman.
Dalam ancaman yang hebat dari kelompok oposisi yang berkolaborasi dengan laskar Tionghoa. Berbanding terbalik dengan Sunan, Hugo Verijsel, penguasa VOC di Semarang justru bingung menganalisis situasi politik dan keamanan yang tengah terjadi. Kerusuhan muncul di berbagai tempat. (laz)

Opini