MATARAM akhirnya benar-benar bersedia memisahkan diri dari laskar Tionghoa. Satu tuntutan dari VOC telah dipenuhi. Selanjutnya, Patih Notokusumo diperintahkan memerangi orang Tionghoa.

Perintah itu kemudian diinformasikan Notokusumo kepada Bupati Grobogan Martapuro dan pemimpin laskar Tionghoa Singseh serta Kapitan Sepanjang.

Martapuro tegas menolak perintah istana. Dia bersumpah tidak mau tunduk dan mengabdi pada VOC. Bahkan hingga keturunannya ke-16. Bupati Grobogan ini tetap berkomitmen membantu perjuangan orang-orang Tionghoa melawan Kompeni.

Dalam pertemuan Notokusumo dengan tiga sejawatnya itu dicapai kesepakatan. Mereka membuat trik mengecoh Kompeni. Caranya, Notokusumo yang memimpin pasukan Kartasura akan menyerang laskar Tionghoa. Namun serangan itu sebenarnya hanya sandiwara belaka. Saat penyerangan, Notokusumo menunggang kuda bernama Bedhami. Ini berasal dari kata berdamai.

Serangan dilakukan di sekitar Bukit Bergota pada Minggu 16 Desember 1741. Daerah ini sebelumnya dikuasai laskar Kapitan Sepanjang. Lantaran hanya sinetron, saat penyerangan terjadi pasukan Mataram justru memberikan keleluasaan bagi laskar Tionghoa. Mereka dibiarkan meninggalkan Semarang.

Notokusumo mempersilakan Martapuro berpisah dengan pasukan Mataram. Martapuro akhirnya memilih bergabung dengan kekuatan Tionghoa. Tindakan patih Kartasura ini rupanya berhasil meyakinkan VOC.

Keinginan kongsi dagang Belanda agar Mataram berpisah dan balik menyerang orang-orang Tionghoa sudah dijalankan. Sebaliknya, Sunan Paku Buwono II juga mengajukan tuntutan balik. Raja meminta garnisun VOC agar tetap tinggal di Kartasura. Tujuannya ikut menjaga istana.

Namun permintaan ini ditolak penguasa VOC di Semarang. Mereka tidak mau mengambil risiko menempatkan pasukan di Kartasura dalam situasi politik yang belum menentu. Akhirnya anggota garnisun yang pernah menyerah pada pasukan Mataram pulang ke Semarang pada Januari 1742.

Sunan kemudian minta dikirim anggota garnisun yang baru. Lagi-lagi permintaan ini tidak dikabulkan. Para petinggi Kompeni masih meragukan sikap baik Sunan. Dukungan membantu VOC apakah benar-benar dilakukan atau sekadar siasat.

Setelah menyingkir dari Semarang, orang-orang Tionghoa membangun kekuatan di Grobogan, Demak, Kudus, Pati, Jepara, dan Lasem. Enam daerah ini dikenal sebagai lumbung beras dan penghasil kayu berkualitas.

Jauh sebelum terjadi perang orang-orang Tionghoa sudah banyak yang menetap di daerah-daerah tersebut. Hubungan mereka dengan masyarakat Jawa setempat sudah sangat erat.

Kondisi ini tidak diinginkan VOC. Sebab, bersatunya orang Jawa dan Tionghoa sangat berbahaya bagi masa depan kongsi dagang  Belanda itu. Fakta membuktikan, Belanda sempat kedodoran menghadapi koalisi pasukan Mataram-Tionghoa. Benteng Kompeni di Kartasura sempat jatuh di tangan koalisi Mataram-Tionghoa. Begitu pula dengan benteng di Semarang. Pasukan VOC sempat dibuat frustasi menghadapi gempuran pasukan koalisi.

Tak ingin itu terulang, Batavia menetapkan kebijakan disintegrasi antara Tionghoa dan orang Jawa. Permukiman kedua etnis itu harus dipisah. Tidak boleh berbaur. Orang-orang Tionghoa di Batavia hanya diizinkan tinggal di Glodok.

Kebijakan serupa diterapkan di Jawa.  Contohnya di Juwana, Pati. Orang-orang Tionghoa yang bermukim di daerah itu diusir. Mereka dipindahkan ke permukiman khusus yang terpisah dengan komunitas orang Jawa.

Kendati demikian, VOC menghadapi ganjalan di daerah Lasem. Hubungan masyarakat Jawa dan orang Tionghoa di wilayah itu sudah terbina dengan baik. Kebijakan pemisahan itu tak bisa berjalan efektif. (yog/by/bersambung)

Opini