TERLALU sering menonton televisi secara terus-menerus bisa berdampak buruk bagi perkembangan anak. Apalagi jika acara TV yang dipilih tidak cocok untuk usia anak. Menonton televisi juga berpengaruh terhadap belajar dan pola makan anak.

American Academy of Pediatrics (AAP) melaporkan manfaat yang bisa diperoleh dari program televisi adalah yang bersifat pendidikan. Atau acara yang bisa menunjang kreativitas anak. Sebaliknya, televisi akan memberikan efek negatif jika waktu anak dihabiskan untuk menonton TV.

Unsur kekerasan yang ditayangkan di media massa, termasuk televisi,  akan berpengaruh terhadap tingkah laku anak sehingga lebih agresif.

Survei Annenberg Public Policy Centre terhadap rumah tangga di Amerika Serikat menunjukkan bahwa rata-rata anak di Negeri Paman Sam menghabiskan waktu mereka sebanyak 25 jam per minggu di depan layar kaca. Hal ini melampaui standar yang diajukan oleh AAP.

Pada tahun 1990 AAP menganjurkan agar anak tidak menonton televisi lebih dari 2 jam per hari. Acara yang ditonton pun harus berkualitas. AAP juga mengeluarkan peraturan yang lebih ketat lagi. Anak-anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya tidak menonton televisi sama sekali. Sedangkan anak-anak di atas usia tersebut sebaiknya tidak mempunyai pesawat televisi sendiri di kamar mereka.

Adapun rekomendasi AAP, di antaranya,  bagi anak usia kurang dari 18 bulan, hindari penggunaan media layar selain video-chatting. Orang tua anak usia 18-24 bulan yang ingin mengenalkan media digital harus memilih program tayangan yang  berkualitas tinggi. Dan selalu mendampingi anak saat menonton media digital tersebut. Itu guna membantu anak memahami apa yang mereka lihat.

Sementara bagi anak usia 2-5 tahun, batasi screen time  hingga 1 jam per hari dengan program yang berkualitas tinggi. Orang tua harus mendampingi anak saat menonton media digital untuk membantu mereka memahami apa yang mereka lihat dan menerapkannya pada dunia di sekitar mereka. Screen time adalah waktu yang digunakan untuk menggunakan komputer, menonton televisi, atau bermain video games. Berbagai ahli menganjurkan screen time tidak lebih dari 2 jam setiap hari untuk anak yang berusia lebih dari 2 tahun.

Bagi anak usia 6 tahun atau lebih, berikan batasan yang konsisten pada screen time dan jenis media digitalnya. Pastikan media digital tidak menggantikan waktu tidur, aktivitas fisik, dan perilaku lain yang penting bagi kesehatan.

Tak kalah penting, orang tua dan anak perlu menentukan secara bersama-sama waktu bebas media digital. Seperti makan malam. Atau mengobrol di lokasi bebas media digital di rumah. Misalnya di kamar tidur. Miliki keamanan komunikasi online. Termasuk memperlakukan orang lain dengan hormat secara online maupun offline.

Selain membatasi screen time, orang tua juga perlu mengawasi computer dan gawai yang digunakan anak. Aktivitas online anak akan lebih mudah diawasi apabila penggunaan komputer dan gadget dilakukan di tengah rumah Anda. Misalnya di ruang keluarga atau ruang makan. Hindarkan anak menyendiri dan bermain komputer atau gadget di kamar tidur mereka.

Orang tua juga perlu menelusuri aktivitas anak di dunia maya. Anda dapat memonitor situs web yang pernah dikunjungi anak. Pastikan anak Anda tidak mengunjungi situs yang tidak sesuai usia. Saat ini telah terdapat program piranti lunak penyaring (web-filtering) yang dapat membantu orang tua dalam melakukan scan ataupun memblok alamat website yang mengandung materi seksual, kekerasan, maupun fitur lainnya yang tidak sesuai untuk anak. Misalnya ruang chatting tanpa pengawasan dan iklan untuk situs web tertentu.

Karena itu, luangkan waktu untuk melihat situs yang pernah dikunjungi anak Anda. Jalinlah komunikasi terbuka kepada anak. Terutama terkait keamanan internet dan perilaku lain di dunia maya. Beritahu dengan jelas jenis situs mana yang dapat dikunjungi oleh anak dan mana yang harus dihindari. Ajarkan anak tentang apa yang harus dilakukan apabila mendapat ancaman atau pelecehan melalui surat elektronik (surel) atau pesan elektronik lainnya. Pastikan anak tidak merespons pesan tersebut, laporkan atau blok pengirim pesan, catat nama atau alamat surel pengirim pesan, segera keluar dari internet, dan beritahu orang tua atau orang dewasa lain yang dapat dipercaya, misalnya guru.(*/yog/fj)

Opini