Pangeran Poeger berhasil menguasai istana Kartasura. Ibu kota Mataram itu dalam keadaan kosong. Ditinggalkan Susuhunan Amangkurat III atau Sunan Mas. Raja meninggalkan istana sebelum Poeger tiba di Kartasura. Pasukan Poeger bergerak dari Semarang.

Poeger menduduki dampar kencana atau singgasana pada 17 September 1705. Kepada rakyat Mataram, putra Amangkurat I dari permaisuri Putri Kajoran, Klaten, ini mengumumkan gelarnya.

Lengkapnya Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono Senopati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama ingkang jumeneng Kaping Sepisan ing Keraton Mataram Kartasura Hadiningrat.

Selanjutnya populer dengan sebutan Sunan Paku Buwono (PB) I. Dengan sebutan itu, Poeger memakai nomenklatur gelar yang baru. Dia tidak lagi memakai sebutan Amangkurat sebagaimana ayahnya, kakaknya, Amangkurat II, dan keponakan sekaligus mantan menantunya, Amangkurat III.

Pemakaian gelar baru itu agaknya sebagai pembeda dengan kakaknya. Meski sama-sama putra Amangkurat I, Amangkurat II dan Poeger terlahir dari ibu yang berbeda. Kakaknya lahir dari permaisuri putri Surabaya atau Ratu Kulon. Sedangkan ibunda Poeger bernama Ratu Wetan.

Dengan bertakhtanya Poeger menjadi PB I telah terjadi suksesi yang menyamping. Dari keponakan kepada paman. Ini babak baru dalam suksesi Mataram. Paman menggantikan keponakan. Meski harus diakui suksesi itu penuh konflik dan darah.

Sunan Mas dipaksa turun dari takhtanya. Kesediaannya lengser keprabon meninggalkan Kartasura itu berkat operasi senyap Pangeran Arya Mataram. Adik Pangeran Poeger itu berhasil melobi Amangkurat III.

Raja diyakinkan demi menghindari pertumpahan darah yang lebih besar sebaiknya agar tidak lagi melawan Poeger. Sebab, pasukan Poeger didukung koalisi VOC dan Madura. Apalagi pasukan Amangkurat III terbukti kalah bertempur di Ungaran.

Sunan Mas diminta secara diam-diam meninggalkan Kartasura. Sunan Mas dipersilakan bergabung dengan Untung Suropati di Pasuruan, Jawa Timur. Kepergian Amangkurat III bersama pengikutnya tidak akan diganggu.

Lobi Arya Mataram itu sukses. Pangeran yang menjabat kepala telik sandi Mataram itu berhasil menjalankan misinya dengan sempurna. Ketika Poeger naik takhta tak terjadi tetesan darah di Kartasura.

Meski berkuasa di Kartasura, Poeger merasa ada yang kurang. Poeger duduk di singgasana tanpa disertai pusaka-pusaka kerajaan. Semua pusaka penting Mataram dibawa  Amangkurat III.  Tak ada satu pun yang tersisa. PB I menyadari tiadanya pusaka kerajaan itu berpengaruh terhadap legitimasinya.

Demi menenteramkan hati rakyatnya, Poeger mengumumkan pusaka tertinggi Mataram adalah Masjid Demak dan makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak. Selama dua pusaka itu ada, maka Mataram tetap tegak berdiri.

Selain hilangnya pusaka kerajaan, PB I dihadapkan dengan perjanjian baru dengan VOC menggantikan perjanjian lama yang ditandatangani Amangkurat II. Perjanjian lama berisi kewajiban melunasi biaya perang Trunajaya sebesar 4,5 juta gulden. Sedangkan perjanjian baru berisi kewajiban Mataram mengirimkan 13 ribu ton beras setiap tahun  kepada VOC. Kewajiban ini berlaku selama 25 tahun. (zam/fj)

Opini