NAIK takhtanya Pangeran Poeger bergelar Susuhunan Paku Buwono I mengawali babak baru sejarah Dinasti Mataram. Jika diurutkan sejak Panembahan Senopati, maka Poeger merupakan raja ke-8.

Ini sesuai perjanjian antara ayah Senopati, Ki Ageng Pemanahan dengan sahabatnya Ki Ageng Giring yang tinggal di Desa Sada, Paliyan, Gunungkidul. Takhta Mataram bergeser dari trah Ki Ageng Pemanahan kepada Ki Ageng Giring setelah keturunan ke-7. Begitulah kisah yang termuat di Babad Tanah Djawi. Poeger disebut sebagai keturunan ketujuh.

Ihwal perjanjian antara Ki Ageng Pemahanan dan Ki Ageng Giring mengemuka ke publik saat disinggung dalam pisowanan ageng di Bangsal Sitihinggil Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada 30 April 2015 silam.

Di acara tersebut, Sultan Hamengku Buwono X mengeluarkan dekrit kerajaan bertajuk sabdaraja. Isinya berisi lima hal. Kata Buwono diganti menjadi Bawono. Gelar khalifatullah dihilangkan. Kata kaping sedasa diganti kasepuluh. Mengubah perjanjian pendiri Mataram antara Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring. Menyempurnakan keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek dengan Kanjeng Kyai Ageng Joko Piturun.

Apa sebenarnya isi dari perjanjian Pemanahan dan Giring itu? Sekali lagi, Babad Tanah Djawi mengisahkan Ki Ageng Giring Paderesan (degan) yang mendapatkan wahyu dalam rupa degan atau kelapa muda. Siapa yang  minum air degan itu sekaligus, dia akan menurunkan raja.

Sial bagi Giring. Saat berkunjung ke rumahnya, Pemanahan mendahului meminumnya. Menyadari kekeliruan itu, Giring minta belas kasihan agar keturunannya kelak dapat menggantikan kedudukan keturunan Pemanahan sebagai raja.

Barulah setelah minta sampai keturunan ke-7 Pemanahan yang semula acuh menjawab terserah besok. Kita tidak tahu. Artinya setelah keturunan Pemanahan ke-7, ada kemungkinan keturunan Giring menjadi raja.

Apakah Poeger menjadi raja setelah tujuh keturunan Pemanahan bertakhta? Kita telisik dan urutkan satu demi satu. Raja pertama Mataram adalah Panembahan Senopati, anak Pemanahan. Kedua, Panembahan Hanyakrawati. Ketiga, Panembahan Martapura. Keempat, Sultan Agung. Kelima, Amangkurat I.

Keenam, Amangkurat II dan ketujuh, Amangkurat III. Dengan perhitungan itu, maka Poeger menjadi raja setelah keturunan ke-7 dari Pemanahan. Apalagi Poeger bertakhta setelah mengalahkan Amangkurat III.

Dugaan Poeger merupakan keturunan Giring berasal dari Babad Nitik Sultan Agung. Babad itu menceritakan, Ratu Labuhan, permaisuri Amangkurat I melahirkan bayi yang kurang sempurna. Bersamaan itu, istri Pangeran Arya Wiramanggala dari Kajoran, Klaten yang masih keturunan Giring, Gunungkidul melahirkan seorang bayi sehat dan tampan.

Amangkurat I mengenal Panembahan Kajoran sebagai orang sakti. Mampu menyembuhkan orang sakit.  Bayi yang kondisinya kurang sempurna tadi di bawa ke Kajoran untuk dimintakan penyembuhan.

Panembahan Kajoran merasa inilah momentum untuk menjadikan keturunannya sebagai raja. Dengan cerdik bayi Wiramanggala dikembalikan ke Amangkurat I dengan menyatakan upaya penyembuhan berhasil.

Degan dalam Babad Tanah Djawi bukan air kelapa muda dalam makna sesungguhnya. Lebih merupakan sasmita alias bahasa isyarat. Air degan itu sebenarnya  wanita. Banyak kisah menceritakan pembawa wahyu kekuasaan Jawa ada di garis perempuan. (zam/rg)

Opini