Bergabungnya Nerangkusuma menambah kekuatan Untung Suropati. Patih Amangkurat II itu memilih mundur dari jabatannya.  Peristiwanya tak lama Komandan Pasukan VOC Kapten Tack terbunuh  di depan istana Kartasura.

Untung memusatkan kekuatan di Pasuruan. Bersama Nerangkusuma, Untung membentuk pemerintah yang merdeka. Bebas dari pengaruh Mataram. Hingga akhir 1690-an, kekuasaan Untung semakin luas. Hingga mendekati Madiun. Ini berarti semakin dekat dengan kekuasaan Mataram. Susuhunan Amangkurat II mulai cemas dengan keadaan ini.

Apalagi di internal Kartasura terjadi perpecahan. Muncul dua kubu yang saling bersaing memperebutkan pengaruh. Kubu itu berasal dari kelompok Raden Mas (RM) Sutikna atau putra makhkota. Kubu satu lagi ada di Pangeran Poeger, adik Amangkurat II atau rayi dalem.

Melihat situasi itu, raja berkesimpulan membutuhkan dukungan VOC. Persis seperti di awal-awal dirinya merintis kekuasan pada 1677-1680. Karena itu, bekunya hubungan dengan VOC harus secepatnya dicairkan.

Pemulihan hubungan itu akhirnya ditempuh dengan kesediaan Sunan Amral mengangsur utang-utang Mataram kepad VOC. Angsuran itu dibayarkan tiga kali. Dari 1694, 1696 dan 1699. Sunan berjanji terus melanjutkan pembayaran. Kartasura juga memberikan sinyal akan mengirimkan utusan khusus ke Batavia.

Paman Sunan, Adipati Natakusuma pada Oktober 1696 melakukan kunjungan kerja ke Batavia. Dia memimpin duta Kartasura. Dalam kesempatan itu sepucuk surat dari Amangkurat II diserahkan.

Nadanya cukup merendah. Berisi permintaan maaf atas kesalahan yang terjadi di masa-masa sebelumnya. Sunan juga meminta penjelasan tertulis dari VOC menyangkut utang-utang yang masih menjadi kewajiban Mataram.

Dalam surat itu juga menyertakan keterangan tentang kondisi keuangan kerajaan. Mataram sedang dilanda krisis. Beberapa Badan Usaha Milik Mataram (BUMM) tengah tekor. Sebagian teracam bangkrut. Ekspor Mataram selama lima tahun terakhir minus. Beberapa tenaga kerja terpaksa dirumahkan. Itu menjadi pemicu Mataram tak mampu mencicil utang dalam jumlah besar.

Amangkurat II juga minta bantuan militer VOC. Akhir 1698, Mataram menginformasikan kekuatan Untung Suropati telah menaklukan Madiun. Selanjutnya bersiap-siap menyerbu Kartasura.

Menanggapi itu, VOC memberikan jawaban Bernada tajam. Mem-blejeti kekurangan Amangkurat II. Kompeni kembali meminta imbalan atas semua biaya untuk membantu  Mataram. Bukan hanya ganti rugi yang belum diterima. Sebaliknya, Kapten Tack justru dibunuh. Satu tindakan yang berlawanan dengan kaidah masyarakat. Biadab dan tidak beragama. Begitu isi surat balasan VOC kepada Amangkurat II. Raja Mataram juga dianggap membiarkan Untung Suropati melarikan diri dari Kartasura.

Menyangkut utang, VOC menuntut 2,5 juta gulden. Satu jumlah yang teramat besar. VOC bersedia menerima sebagian pelunasan dengan cara barter. Beras dan hasil pertanian lainnya. Surat VOC jelas menunjukkan bukan berisi langkah mencapai rekonsiliasi atau kompromi.  Kompeni tengah melakukan tekanan ke Mataram.

Belum lagi semua tuntutan dan utang Mataram terbayar, Amangkurat II wafat pada 1703. Raja Mataram keenam itu bertakhta selama 25 tahun. Dari 1677-1703. (zam)

Opini