MEMBURUKNYA hubungan Batavia-Kartasura membuat komunikasi Susuhunan Amangkurat II dengan sekutu politiknya itu terputus. Upaya keluar dari krisis ekonomi akibat jeratan utang VOC tengah dipikirkan Mataram.

Ada dua pilihan yang sedang dipikirkan Sunan. Mengadakan rekonsiliasi dengan melunasi utang-utang kerajaan yang menggunung. Atau membiarkan  utang itu tidak terbayar. Konsekuensinya Mataram harus menempuh politik konfrontasi.

Situasi krisis ternyata tidak hanya dihadapi Mataram. VOC juga menghadapi masa sulit setelah Gubernur Jenderal Speelman meninggal 1684. Terkuak korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan selama menjabat.

Selama tiga tahun menjabat 1681-1684, kinerja keuangan merosot. Penjualan tekstil turun 90 persen, monopoli candu berjalan tidak efektif, dan para pedagang swasta dibiarkan melanggar monopoli VOC. Speelman diketahui menggelapkan sejumlah dana yang nilainya besar.

Setahun setelah kematiannya pada 1685,  VOC menyita semua harta peninggalan Speelman. Namun  masih banyak dana yang tidak terlacak. Diyakini Speelman melakukan pencucian uang. Bentuknya dengan menyelundupkan harta kekayaan ke Belanda. Di antaranya dikemas dalam bentuk permata.

Kembali ke hubungan Batavia-Mataram, Amangkurat II berusaha mencairkan hubungan. Khususnya menyangkut tuduhan keterlibatan elite Mataram di balik tewasnya Kapten Tack di depan Istana Kartasura pada Februari 1686. Batavia mencurigai pejabat-pejabat Mataram sengaja berkolaborasi  dengan Untung Suropati. Mereka berkoalisi menyerang pasukan VOC yang tengah memburu Untung.

Atas kejadian itu, Sunan menyurati VOC. Isinya mengklarifikasi  peristiwa tersebut. Sunan menegaskan tidak terlibat dalam insiden berdarah. Namun tak seorang pun pejabat Kompeni percaya dengan alibi Amangkurat II.

Terbukti, tidak lama berselang, VOC menemukan surat-surat Sunan yang dikirim ke beberapa kerajaan. Raja Mataram itu tengah membangun persekutuan melawan VOC. Surat-surat itu ditulis sebelum tewasnya Tack di Kartasura.

Sunan diketahui menjalin kontak dengan tokoh asal Minangkau Raja Sakti. Dia punya nama asli Ahmad Syah ibn Iskandar. Jejak rekamnya, Raja Sakti mengancam Banten dan VOC di Sumatera. Amangkurat II juga menyurati Cirebon pada 1686 dan Siam pada 1687. Hubungan serupa dijalin dengan Palembang dan Johor.

Bahkan Sunan juga minta bantuan ke Inggris.  Beredar isu pada 1686-1689 akan muncul gerakan besar-besaran melawan VOC. Menyikapi itu, Belanda percaya gerakan itu dibangun atas dasar sentimen Islam terhadap hal-hal berbau asing.

Baik VOC maupun Amangkurat II sama-sama dalam posisi sulit. VOC tidak menginginkan terjadi perang kembali berkecamuk di Jawa. Mereka menyadari sedang dalam posisi lemah. Krisis keuangan berimbas dan turunnya kekuatan bersenjata VOC di Jawa. Saat itu kekuatannya tinggal 800 personel.

Sebaliknya, berperang melawan VOC  secara politik juga kurang menguntungkan.

Perpecahan tengah mengintai Mataram. Usai meninggalkan Kartasura, Untung Suropati membangun kekuatan di Jawa Timur.

Pusat kekuasaannya berada di Pasuruan. Lambat laun wilayahnya melebar hingga memasuki daerah Mataram. Beberapa elite Mataram seperti Patih Nerangkusuma mengajukan pensiun dini. Dia mundur dari jabatan aparatur sipil Mataram (ASM). Memilih bergabung dengan Untung Suropati di Pasuruan.(yog/rg/bersambung)

Opini