BOOK are the carriers of civilation. Without books, history is silent, literature dumb, scince crippled, thought and speculation at a standstill. They are engines of change, windows on the world, lightouses erected in the sea of time. (Barbara W. Tuchman).

Begitulah sepenggal kalimat sederhana namun dalam maknanya mengenai buku. Buku adalah pembawa peradaban. Tanpa buku, sejarah itu sunyi, sastra itu bodoh, sains itu lumpuh, pemikiran dan spekulasi terhenti. Buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, dan mercusuar yang didirikan di lautan waktu.

Membaca kutipan di atas ingatanku terbawa ke masa di bangku Sekolah Dasar dulu, guruku selalu bilang kalau buku itu jendelanya dunia. Bayangkan saja dunia seluas langit dan bumi ini memiliki jendela yang disebut buku. Hebat betul si buku, gumamku. Kata guruku lagi, lewat buku kita pun bisa mengenal dunia seisinya. Tak hanya itu mereka selalu ‘memaksa’ ku untuk gemar membaca buku.

Keluarga sebagai pilar ekosistem sosial terkecil memiliki peran strategis dalam upaya mewujudkan gerakan gemar membaca buku—mengkampanyekan keluarga dan anak cinta buku. Sudah selayaknya anak dikenalkan dengan sumber ilmu yaitu buku. Bagaimanakah keluarga mampu menjadi tumpuan mengkampanyekan gebrakan ini?

Anak sebagai investasi pertama tentulah orangtua akan mengupayakan segala daya untuk memanen produk terbaiknya. Tradisi baik haruslah ditabur sejak dini. Salah satunya pelibatan anak-anak sejak kecil dalam berbagai aktivitas literasi. Praktik sederhanannya, orang tua bisa membacakan sebuah cerita dari buku sejak bayi dan dilakukan setiap hari, nantinya anak akan candu membaca. Deborah (2006) dalam penelitiannya berjudul “Child and Maternal Contributions to Shared Reading: Effect on Language and Literacy Development” menyebutkan kalau ibu memiliki peran dalam perkembangan literasi anak serta ketertarikan anak membaca buku berhubungan kuat dengan cara ibu membaca buku.

Pembiasaan baik dan pelibatan orang tua di keluarga sedari kecil ini akan terbawa sampai anak beranjak remaja bahkan dewasa. Selain itu kegiatan rumah yang menyenangkan yang diciptakan orangtua kepada anak juga memberikan efek positif dalam mengembangkan kemampuan literasi anak.

Pelibatan orangtua menciptakan habit positif dalam penyediaan fasilitas, keikutsertaan orangtua secara aktif dalam kegiatan membaca. Fasilitas yang lengkap akan merangsang anak untuk beraktivitas dan menanamkan kecintaannya pada buku dan minat membaca.

Tak sedikit tokoh dunia yang menjadi hebat dengan ilmu pengetahuannya karena berawal dari kebiasaan membaca buku di keluarga. Thomas Alva Edison misalnya, ilmuwan yang dikenal sebagai penemu bola lampu ini memiliki pemikiran melampaui teman-temannya. Saat kecil Edison selalu berusaha menemukan jawaban rasa keingintahuannya melalui buku.

Selanjutnya, Stephen Hawking yang memang terlahir bukan dari keluarga berada. Meski demikian kedua orangtuanya sangat mengutamakan pendidikan. Salah satu kebiasaan unik uniknya yaitu makan sambal membaca buku. Hawking dikenal sebagai fisikawan hebat dengan kontribusinya Black Hole Theory.

Ada juga Imam Jalaluddin as Suyuthi, beliau dilahirkan di antara tumpukan buku-buku. Karenanya beliau mendapat julukan “anak buku”. Berkat kesungguhan dan kegigihannya belajar dan membaca sejak kecil serta didikan keluarga yang begitu kuat menuntut ilmu maka beliau menjadi penulis ratusan buku berbagai disiplin ilmu agama.

Melalui kampanye keluarga dan anak cinta buku di lingkup keluarga sejak anak kecil maka kita telah membantu upaya pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945. Gerakan Literasi Nasional (GLN) dan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) tidak akan maksimal dan berimbang tanpa diawali di lingkup sosial terkecil yaitu keluarga. Jadikan ini momentum terbaik ini bagi seluruh anak Indonesia untuk mulai menabur benih cinta dan sayangnya pada buku. Ketika kebiasaan baik di keluarga sudah terbentuk maka harapannya adalah di ekosistem sosial yang lebih luas seperti masyarakat dan sekolah kebiasaan baik ini tetap terjaga. Semoga. (ila)

*Penulis merupakan kandidat magister pendidikan dan peneliti di Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang.

Opini