REVOLUSI Industri 4.0 telah menggeser pola interaksi manusia dalam bentuk digital. Menurut Herman (2016) revolusi keempat ini menjunjung prinsip interkoneksi jaringan internet of things(IoT). Hampir semua penduduk Indonesia tersambung dalam jaringan internet (daring). Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJI) melansir data bahwa pada tahun 2016 sebesar 51,8 persen setara dengan 132,7 juta penduduk Indonesia tersambung dalam internet.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah memudahkan kita berkomunikasi dan mengakses informasi. Namun, banyak dari warganet kita tidak bijak dalam bermedia sosial. Ruang-ruang virtual kita telah dibajak oleh kepentingan kelompok tertentu. Dunia maya hari ini menjadi basis poliferasi penyebaran hoax, ujaran kebencian, dan paham radikalisme.

Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) melansir data bahwa periode Juli-September 2018 didapati sejumlah 230 hoax yang terverifikasi. Dari jumlah hoax itu, sebanyak 58,7 persen merupakan konten politik (tempo.co, 16/10/2018). Data ini menegaskan bahwa hoax yang bersifat politis akan menjebak publik ke dalam perpecahan horinzontal.

Belum lagi, kondisi politik Indonesia belum stabil. Sampai detik ini, hoax masih diproduksi sebagai alat propaganda dan klaim atas kepentingan kelompok tertentu. Kondisi ini menyeret masyarakat Indonesia ke dalam post-truth, di mana sentimen pribadi yang sarat dengan kebohongan dan kebencian lebih berpengaruh daripada fakta (Syuhada, 2017: 77).

Di tengah instabilitas politik, hoax yang sarat fitnah dan kebencian semakin mendapatkan pengaruhnya. Berdasarkan teori propaganda “the big lie” bahwa hoax yang dipublikasi dan disebar secara intens kepada publik lambat laun akan menjadi kebenaran yang diyakini (Mahzumi, 2017: 31).Oleh karena itu, hoax dapat menjadi ancaman serius bagi stabilitas nasional dan kesehatan pikiran publik

Persoalannya, warganet Indonesia cendrung menampilkan budaya instan dalam bermedsos. Tidak sedikit warganet kita tidak kritis dan bijak dalam mengkonsumsi informasi.

Dunia virtual sebagai ruang bersama harus kita rawat kesehatannya. Komunikasi online harus steril dari beragam hoax, ujaran kebencian, dan paham radikalisme. Masyarakat Indonesia harus bersinergi memerangi hoax. Ujaran kebencian harus diredam dengan ujaran kasih sayang.Kita harus membendung arus radikalisme yang merebak di ruang virtual.

Upaya menjaga kesehatan ruang publik virtual, kita harus melibatkan warganet Indonesia. Pertama, membekali warganet dengan literasi digital. Di tengah tsunami informasi (big data) dan post-truth, warganet Indonesia harus memiliki kompetensi literasi digital agar menjadi smart netizen. Kompentasi ini menjadialat penyaring arus informasi yang masuk kepada kita.

Literasi digital akan membentuk karakter warganet yang kritis dan bijakserta mereka dapat melakukan self control dalam bermedia. Pendidikan literasi digital juga harus diberikan kepada pelajar sebagai warganet aktif. Output yang diharapkan adalah mencetak pelajar digital natives yakni pelajar yang kritis, bijak, serta kreatif dalam bermedia.

Kedua, menyemai konten damai di medsos. Artinya, warganet yang cerdas dituntut menarasikan perdamaian sebagai bentuk deklarasi perang atas hoax dan ujaran kebencian. Misalnya, mengubah orientasi status dari personal branding sematamenjadi status deklarasi anti-hoax. Secara kreatif, merekamampu membuat meme komik yang menarasikan bahaya hoax, ujaran kebencian, dan radikalisme.

Ketiga, melakukan siskamling digital 4.0. Warganet yang cerdas perlu melakukan siskamling 4.0 sebagai digital securitydengan memeriksa sumber berita dan melacak pemilik website tersebut melaluiIP Address. Apabila ditemukan oknum pelaku atau penyebar hoax, ujaran kebencian dan radikalisme, warganet yang cerdas harus melakukan pelaporan kepada Kemkominfo lewat adukonten.id.

Keempat, orang tua harus melakukan digital parenting. Orang tua perlu mengenalkan fungsi dan cara penggunaan perangkat digital secara baik kepada anak. Selain itu, mereka perlu mendampingi dan mengawasi aktivitas anak dalam bermain gawai. Digital parentingmerupakan upaya pencegahan bagi arus masuk hoax, cyber bullying, doktrin radikalisme yang menyasar seorang anak. Harapannya, anak bisa berhati-hati, bijak, dan cerdas dalam bermedia

Ke empat strategi di atas sangat efektif untuk membentuk warganet Indonesia yang cerdas dalam bermedia. Menjaga kesehatan ruang virtual merupakan tanggung jawab warganet Indonesia. Tidak cukup tanggung jawab ini diemban oleh pihak Kemkominfo semata. Pemberantasan ketiganya menuntut kerja sama semua pihak warganet Indonesia.

Perlu kita sadari bersama bahwa hoax, ujaran kebencian, dan paham radikalisme yang menjamur di jagat maya kelak akan menjadi bom waktu. Kapan pun dan dimana pun, ia akan meledak dan memporak-porandakan persatuan bangsa. Sudah selazimnya kita warganet Indonesia bersama-sama memerangi perbuatan yang mengancam dan merusak persatuan bangsa. (ila)

*Penulis merupakan Ketua Studi &Pengembangan Bahasa Asing sekaligus Duta Kampus UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta Tahun 2018

Opini