SULTAN Agung benar-benar memikirkan mekanisme peralihan takhta kepada penggantinya bisa berjalan mulus.  Jangan ada gejolak. Apalagi  demo, tapa pepe alias berjemur di alun-alun dari kubu yang kontra. Ujung-ujungnya justru membuat elite Mataram terbelah.

Pengalaman  pernah dirasakannya saat menggeser takhta sang adik, Raden Mas (RM) Wuryah. Kala itu, harus dibentuk mahkamah keraton (MK). Tujuannya, agar proses alih takhta dari Wuryah kepada dirinya punya legitimasi. Sultan Agung tak ingin dituding berbuat curang kepada adiknya. Harus diakui, takhta itu awalnya bukan menjadi haknya.

Menyadari itu, Sultan Agung tidak ingin peristiwa kurang mengenakkan itu menimpa putra mahkota. Sedari awal, Sultan Agung didampingi permaisuri Ratu Kulon alias Ratu Batang mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi. Persiapan dilakukan selama  setahun. Khususnya saat Sultan Agung mulai menderita sakit. Tanda-tanda akan wafatnya raja itu telah terbaca sejak dirinya menolak minum obat.

Sultan Agung segera mengeluarkan sabdaraja atau perintah raja. Isinya aturan mencegah perebutan takhta antara RM Sayidin, sang putra mahkota melawan adik kandungnya Pangeran Alit.

Selain itu, raja juga menaruh curiga dengan kakak sulungnya Pangeran Purbaya. Sang kakak berpotensi melakukan kudeta. Ini karena posisinya sangat strategis. Panglima tentara merangkap kepala bhayangkara negara.

Karena itu, Sultan Agung memanggil para pembantu setianya. Mereka seperti Tumenggung Wiraguna dan Pangeran Surabaya. Sultan Agung meminta dukungan agar pilihannya mengangkat Sayidin disetujui. Wiraguna dan Pangeran Surabaya diminta memperkuatnya.

Mencegah terjadinya aksi-aksi di luar istana, sejumlah pejabat Mataram ditahan di dalam istana. Pangeran Alit, Pangeran Purbaya, dan pejabat kerajaan lainnya tidak dizinkan  meninggalkan istana. Semua gerbang dijaga ketat. Tak ada rakyat yang bisa mendekat.

Semua kekuatan tentara dan bhayangkara Mataram disiagakan. Meriam disiapkan di depan istana. Gudang senjata dijaga. Tidak boleh ada senjata keluar tanpa ada perintah  istana. Situasi Mataram benar-benar tegang.

Tak lama kemudian, Sultan Agung wafat. Peristiwanya pada awal Februari 1646. Raja keempat Mataram ini memerintah selama 32 tahun. Dari 1613 hingga 1645. Dia memindahkan ibu kota Mataram dari Kotagede ke Kerta pada 1618. Ibu kota baru  resmi ditempati pada 1622. Dengan begitu, Kerta menjadi ibu kota kedua Mataram selama 22 tahun.

Di bawah pengawalan ketat pasukan pengamanan raja (paspamraja), Sayidin diumumkan sebagai pengganti. Dia menjadi raja baru. Gelarnya ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Ing Ngalaga Mataram. Kelak kemudian dikenal dengan sebutan Susuhunan Hamangkurat Agung atau Amangkurat I.

Setelah pengumuman itu, semua regol dibuka. Proses pemakaman raja dimulai. Sultan Agung dikebumikan di Imogiri. Sejarahnya, pembangunan makam di atas bukit itu berhubungan dengan pengangkatan Sultan Agung menjadi Susuhunan. Momentumnya setelah mengalahkan Madura 1624.

Dahulu kala hanya para wali yang berhak atas gelar susuhunan. Usaha melestarikan pengaruh para wali di bidang spiritual dilakukan dengan memakamkan jenazahnya di atas bukit. Kebiasaan ini berlangsung sejak masa Hindu Jawa. Sultan Agung meniru itu. Dia memutuskan membangun makam di atas  bukit untuk dirinya maupun keturunannya.

Pembangunan makam berlangsung antara 1629-1630. Berdekatan dengan tahun-tahun petaka, 1628-1629 saat dua kali gagal menyerbu benteng VOC di Batavia. Dengan  karya besar membangun makam Imogiri, Sultan Agung  ingin memulihkan kewibawaan yang hilang akibat peristiwa pengepungan Batavia. (zam/rg)

Opini