Raja-raja Mataram sedari awal berkuasa tak pernah menggunakan gelar sultan. Raja pertama Danang Sutawijaya memilih sebutan panembahan. Maknanya orang yang disembah. Gelar lengkapnya Panembahan Senopati ing Ngalaga.

Senopati merasa tak percaya diri memakai sebutan sultan. Pertimbangannya, meski Mataram melanjutkan Dinasti Pajang, Senopati bukan keturunan langsung raja Pajang Sultan Hadiwijaya. Dia hanya berstatus anak angkat. Gelar panembahan kemudian yang menjadi pilihan.

Sebutan panembahan dilanjutkan penggantinya Raden Mas (RM) Jolang. Panembahan Hanyakrawati, demikian gelarnya saat jumeneng sebagai raja kedua Mataram. Hanyakrawati bertakhta selama 12 tahun, dari 1601-1613. Kekuasaannya yang relatif singkat menjadi persoalan saat menunjuk pengganti. Suksesi Mataram menghadapi polemik.

Sebelum meninggal, Hanyakrawati mendengarkan ramalan Sunan Tembayat. Mataram menjadi kerajaan besar jika dipimpin RM Rangsang, anak sulung Hanyakrawati. Ketika Rangsang naik takhta, dia memutuskan tetap memakai gelar panembahan. Kompletnya Panembahan Agung Abdulrakhman.

Gelar panembahan digunakan selama 11 tahun. Tujuh tahun setelah pembangunan ibu kota baru di Kerta, gelar panembahan itu ditanggalkan. Rangsang kemudian memakai sebutan susuhunan. Yakni Susuhunan Agung Hanyakrakusuma. Nama Hanyakrakusuma sama yang digunakan Sunan Bonang.

Penggunaan gelar susuhunan itu dipakai setelah Mataram mengalahkan Madura pada 1624. Proklamasi pemakaian gelar baru diadakan pada Garebek Pasa pada 15 Agustus 1624. Tahun itu merupakan kenaikan takhta yang sebenarnya bagi Susuhunan Agung. Di istana baru itu, Rangsang benar-benar merasakan sebagai raja.

Susuhunan berasal dari kata suhun yang berarti punji. Jadi susuhunan berarti yang dipunji atau ditaruh di atas kepala.  Gelar susuhunan atau sunan itu juga dipakai para pemuka agama. Lebih-lebih para wali. Mereka dihormati dan mendapatkan penghormatan yang tinggi. Para wali punya pengaruh luas dan kekuasaan yang besar. Mereka merupakan raja-raja di daerahnya. Setara dengan daerah Mataram asli. Tak heran para wali ini menggunakan gelar sebagaimana raja-raja di masa lalu.

Ambil contoh Sunan Giri memakai gelar Prabu Setmata. Bahkan dalam Babad Tanah Jawi, Sunan Giri ditulis sebagai raja-pandita. Sedangkan Sunan Bonang bergelar Prabu Nyakrakusuma. Nama itulah yang diadopsi raja Mataram Susuhunan Agung Hanyakrakusuma. Memakai gelar susuhunan ini bagi Rangsang jauh lebih mentereng dibandingkan sebutan panembahan.

Penggunaan gelar susuhunan ternyata belum memuaskan hati raja keempat Mataram ini. Dia mendengar raja Banten yang merupakan rivalnya memakai gelar sultan. Karena itu, pada 1641 atau 17 tahun setelah memakai sebutan susuhunan dia kembali mengubah gelar. Dari Susuhunan Agung menjadi Sultan Mataram.

Gelar Sultan Agung seperti yang dewasa ini kita kenal sesungguhnya baru muncul pasca Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755. Nama tersebut ditemukan di redaksi babad yang disusun di era raja Surakarta Susuhunan Paku Buwono III pada 1749-1788.

Gelar sultan ini menggambarkan ketataan raja pada agama. Di usia tuanya Sultan Agung menaruh perhatian terhadap agama. Setiap tahun dia mengikuti upacara gerebek. Dia  memelopori perubahan bangunan masjid di Jawa yang dilengkapi dengan serambi. (zam/zl/bersambung)

Opini