RAMADAN telah berakhir. Puasa adalah upaya mengembalikan diri ini kepada fitrahnya. Artinya selama Ramadan, umat Islam berlatih menghiasi diri dengan sifat dan perilaku yang terpuji, menyucikan diri dari segala maksiat dengan mengharap ampunan dari Allah swt. Oleh karena itu, bulan Ramadan selalu ditutup dengan Idul Fitri.

Idul Fitri terdiri dari dua kata Bahasa Arab yaitu ‘aada-ya’udu berarti kembali dan fathoro-yafthiru berarti suci. Kembali fitri memiliki arti bahwa setiap individu muslim berpotensi terlepas dari noda dosa dan senantiasa berbuat baik. Idul Fitri juga disebut dengan hari kemenangan, yang diperuntukkan kepada setiap pribadi muslim yang mencapai derajat takwadengan berpuasa di Bulan Ramadan.

Untuk mencapai derajat fitri (kesucian diri), bersih dari dosa, umat muslim harus memperoleh ampunan dari Allah swt dengan cara beristighfar. Namun, cukupkah kita hanya memohon ampun kepada Allah swt tanpa perlu meminta maaf kepada pihak-pihak yang pernah kita zalimi? Penulis berpendapat untuk mendapatkan ampunan-Nya, kita terlebih dahulu harus meminta maaf kepada orang yang telah kita zalimi.

Pribadi yang mencapai derajat fitri akan memiliki perangai yang halus, santun, pemaaf, dan pengasih. Ia tidak akan memendam perasaan dendam, benci, hasut, dan dengki. Oleh karena itu, momentum Idul Fitri kali ini harus dimaknai sebagai momentum untuk saling memaafkan, berdamai agar tercapai rekonsiliasi damai. Bahkan Islam menuntut umat muslim untuk saling memaafkan setiap kali berbuat salah dan zalim kepada orang lain (QS. Ali Imran: 134).

Sungkeman dan Halal bi Halal

Perayaan Idul Fitri atau lebaran di Indonesia sangat selalu dilekat dengan tradisi “sungkeman” dan “halal bil halal”. Kedua tradisi ini menjunjung tinggi spirit persatuan dan persaudaraan islami (silaturahmi). Penyelenggaraan tradisi sungkeman dan halal bil halal pada momen idul fitri bertujuan untuk mewujudkan hidup yang damai dan diberkati oleh ampunan Allah SWT.

Dalam budaya Jawa, seseorang “sungkem” kepada yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan. Tradisi sungkeman merupakan simbol keluhuran budi, kerendahan hati (tawadhu), dan tidak sombong, yang tidak berarti kerendahan derajat atau kasta. Sungkeman yang mentradisi ini selaras dengan spirit silaturahmi dan ukhuwah islamiah yang ada dalam ajaran agama Islam.

Dalam momentum lebaran, seseorang bersilaturahmi kepada famili atau kerabat terdekat dan para tetangga yang diawali dengan saling berjabat tangan/cium tangan alias “nyungkem” yang dilanjutkan dengan bertamu. Tradisi ini menghimbau kepada kita agar saling memaafkan atas kesalahan orang lain yang telah diperbuat. Sebagai hamba Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Pemaaf, seharusnya kita ringan meminta dan memberi maaf kepada orang yang lain.

Tradisi menarik lainnya yang sarat dengan nilai silaturahmi adalah halal bi halal. Tradisi yang bersifat kolektif ini dilakoni setelah Idul Fitri. Meski secara penamaan menggunakan bahasa Arab akan tetapi halal bi halal merupakan tradisi perayaraan Idul Fitri khas Indonesia yang tidak dimiliki oleh budaya Arab.

Halal di sini berasal dari kata “halla” yang dalam Bahasa Arab setidaknya memiliki tiga makna yaitu halla al-habl (benang kusut yang terurai kembali), halla al-maa’ (air keruh yang diendapkan), dan halla as-syai (sesuatu yang dibolehkan). Berdasarkan pada tiga pengertian tersebut dapat ditarik benang merah bahwa halal bi halal bertujuan untuk menetralkan dan meleburkan kekusutan, kekeruhan, kesalahan dalam hubungan manusia agar kembali sediakala (fitri/suci).

Secara singkat, kedua tradisi di atas memuat spirit persatuan dan persaudaran. Lebaran hari ini merupakan momentum yang tepat untuk meneguhkankembali integritas dan komitmen kebangsaan (ukhuwah wathaniah) dengan cara menjalin tali silaturahmidan saling memaafkan antara satu dengan yang lain. Sebab, tanpa adanya komitmen kebangsaan mana mungkin bangsa yang plural dapat bersatu dan hidup harmonis.

Menyemai silaturahmi pasca-pemilu 2019 menjadi penting, sebab kita sadari bahwa kerukunan dan keharmonisan masyarakat Indonesia mengalami keretakan yang cukup serius akibat konfrontasi politik. Bentrokan kepentingan membombandir dan mengkoyak habis integritas bangsa. Para politisi tiada habisnya melancarkan manuver politiknya dengan membuat hoax, mengadudomba dan menyebarkan hate speech yang semua menjadi penyebab utama runtuhnya persatuan bangsa.

Pada momen yang suci ini, mari bersama-sama kita sucikan pikiran dan hati ini dari perasaan permusuhan, benci, dan dengki dengan cara menjalin cinta –kasih melalui silaturahmi dan saling memaafkan. Model silaturahmisangat beragam dan dapat dilakukan sesuai dengan budaya setempat. Silaturahmiadalah cara terampuh untuk menyadarkan kita pentingnya saling mencintai, menghormati dan menghargai satu sama lain.

Hari yang fitri ini menjadi momentum yang tepat untuk menyembuhkan luka-luka politik yang sudah lama menganga di antaran pihak-pihak yang bersiteru. Dengan menyemai spirit silaturahmi dan saling memaafkan, bangsa yang plural ini mampu mencapai rekonsiliasi damai. Idul Fitri kali ini tidak cukup dimaknai sebagai momen kembali kepada fitrah diri yang suci. Dalam konteks Indonesia, Idul Fitri momen untuk mengembalikan bangsa yang sakit ini kepada fitrah kebangsaan untuk menggalang persatuan demi kemajuan bangsa. (ila)

*Penulis merupakan Aktivis Pengembangan Bahasa Asing dan Duta Kampus UIN Sunan Kalijaga.

Opini