BAGAIMANA suasana Idul Fitri di Makkah, tepatnya di Masjidil Haram? Rasa penasaran itu terus berseliweran dalam pikiran saya. Bersama rombongan umrah i’tikaf Ottoman, kami sekeluarga berada di Makkah pada 10 hari akhir Ramadhan hingga Idul Fitri, sebelum berlanjut ke kota Madinah al-Munawwaroh.

“Kalau mau salat Id dekat Ka’bah, paling tidak harus datang 10 jam sebelumnya,” pesan Khabier Ahmad, pria asal Pamekasan, Madura yang sudah 9 tahun tinggal di kota Makkah al-Mukarromah. Khabier yg masih lajang, lulusan pesantren Bata-bata Madura bekerja sebagai mutawwif, semacam tour guide, khusus untuk jama’ah umroh dan haji dari Indonesia.

Sebetulnya kami memperkirakan Idul Fitri akan jatuh pada hari Rabu, 5 Juni 2019 seperti informasi di tanah air. Karena itu kami sudah merencanakan ikut qiyyamul layl dan i’tikah terakhir Senin malam hingga Selasa dinihari waktu Saudi. Tetapi Senin sore sudah beredara WA Group pengumuman dari otoritas Saudi Arabia bhw “bulan sabit untuk syawal 1440 H telah terlihat di Saudi. Makan Idul Fitri dipastikan Selasa, 4 Juni 2019”. Benar saja, usai salat maghrib mulai dikumandangkan takbir dari Masjidil Haram.

Tidak sama dengan ditanah air, beberapa kali saja takbir dikumandangkan. Itu pun hanya oleh suara di loudspeaker yg tersebar di radius 2 km sekeliling Haram. Tidak diikuti bergantian oleh takbir jamaah, seperti umumnya Indonesia. Saya membayangkan dipakai tradisi di tanah air, jamaah serentak dan serempak melanturkan takbir. Pasti sangat menggetarkan. Mengingat luapan jamaah di masjidil haram dan sekitarnya luar biasa.

Pukul 01.00 waktu Makkah kami berangkat menuju Masjidil. Tentu setelah menunaikan sunnah sebelum salat Id, yakni mandi besar, makan kurma, berpakaian terbaik, menggunakan wewangian. Jarak hotel kami dengan Masjidil Haram sekitar 600 meter. Sepanjang jalan kami bertakbir. Tapi saya lihat jamaah lainnya sebagian besar tidak demikian. Mereka tidak bertakbir. Atau mungkin bertakbir di dalam hati.

Jalanan penuh sesak. Ruas2 jalan menuju Masjidil mulai ditutup. Lautan jamaah berjubel di pintu-pintu masuk masjid. Disana-sini nampak jamaah bersitegang dengan para petugas yang sudah menutup pintu2 masuk masjidil Haram. Bahkan jamaah yg mengenakan pakaian ihram -yang biasanya selalu diprioritaskan masuk masjid- kali ini tidak boleh masuk. Tetapi ada segelintir jamaah yg dibolehkan masih, sementara lainnya dihalau menyingkit. “Arabia.. arabia,” saya ucapan itu keluar dari mulut petugas. Oo, rupanya kali ini, di Idul Fitri ini, prioritas memasuki Masjidil Haram diberikan kepada warga setempat. Maklum saja mengingat dari layar raksasa di komplek Zamzam Tower yg persis berhadap-hadapan dengan King Abdul Aziz Gate no 1, pintu utama masjid haram nampak area dalam masjid dan sekeliling sudah tak tersisa celah sedikitpun.

Takbir terus dilantunkan dari corong pengeras. Namun tidak diikuti gemuruh takbir jutaan jamaah. Jadinya kurang menggetarkan. Yang terdengar justru reriungan jamaah yg berjuang berebut agar bisa masuk masjid. Juga teriakan petugas yang menghalau jamaah. “Hajji.. hajji… thariiq.. thariiq”, suara meninggi patugas. Maksudnya jamaah jamaah jalan terus saja, jangan memaksa masuk.

Begitulah, 5 jam sebelum palaksaan salat Id Masjid Haram sudah penuh sesak. Massa jamaah di sekeliling Kabah sdh tidak bisa bergerak. Untuk tawaf saja sudah tidak bisa lagi. Begitup di lantai dua. Satu-satunya yang masih nampak ada gerakan jamaah melakukan tawah -berjalan mengelilingi Ka’bah– tinggal ada di lantai tiga Masjidil Haram. Di hari-hari selain Idul Fitri, kendati sudah ada luapan jamaah, masih saja ada celah utk jamaah utk melalukan gerakan tawaf. Tetapi kali ini tidak, kecuali tersisa di lantai paling atas masjidil Haram.

Yang menarik, senyampang menunggu saat salat Id, beberapa orang¬† membagi-bagikan makanan kepada jamaah yg sudah duduk rapi dalam deretan shaf-shaf. Ada kurma, kue kering, roti, minuman dll. Sementara beberapa anak kecil menyalami petugas. Yang lainnya menghampiri deretan jamaah sambil berucap, “minal aidin.. “. Mereka meminta “hadiah” dari jamaah 1 sampai 5 real. Anak-anak perempuan otu bukan pengemis. Pakain mereka bagus-bagus. Mereka juga bersolek. Rambutnya dibiarkan terbuka, tidak seperti kalangan dewasa yang tertutup rapat. Rupanya mereka sedang bergembira ria memunguti semacam “angpao”.

Tepat pukul 06.00 salat Id dimulai. Suara riuh jamaah mendadak senyap. Tinggallah suara merdu imam salat Id yang melantunkan ayat-ayat Qur’an didalam salat. Merinding rasanya. Menghanyutkan. Inilah saat paling menggetarkan kalbu… Allahu Akbar.

Usai salat Id 2 rakaat dilanjutlan khutbah Idul Fitri. Seiring pembacaan khutbah, para jamaah mulai beranjak meniggalkan Masjidil Haram. Tidak ada saling berjabatan-tangan dan ucapan memaafkan seperti di tanah air. Kalau pun ada kerabat, atau kenalan baru staf hotel yang berjabatan tangan dengan kami, ucapan yang keluar dari bibirnya cukup, “Ied mubarrok…” . Berbeda sekali dengan di tanah air. (ila)

Opini