DI TENGAH pusaran keadaan politik yang pengap, perbedaan pilihan menjadi gejala. Fanatisme dukungan muncul dengan berbagai varian dari kelompok politik untuk menciptakan kemenangan. Berbeda pilihan bukan lagi acuan untuk saling menghormati, melainkan keanehan yang bermuara pada caci maki sebagai pembelaan terhadap dukungan  masing-masing.

Pandangan subjektif menjadi hal yang lumrah, rasionalitas dibuat-buat dengan  data-data manipulatif yang berdampak akan tindakan-tindakan emosional. Saling cibir di dunia maya contohnya. Begitulah kira-kira keadaan masyarakat  menjelangan pemilhan tiba.

Pada umumnya, situasi panas di lingkungan masyarakat menjelang pemilhan menjadi hal yang biasa terjadi. Perbedaan pilihan adalah warna pada setiap pemilihan. Harapan-harapan tergantung pada setiap calon untuk mengemban amanah masyarakat. Tetapi spekulasi-sepukalasi bermunculan sebagai alasan untuk memilih pasangan. Menjatuhkan pilihan pada Jokowi misalnya, sebab selama  empat  tahun memimpin, infrastruktur terjadi dimana-mana  dengan citra presiden yang sederhana meskipun hutang negara semakin drastis kenaikannya. Atau pada calon lainnya, Prabowo dengan daya tarik ketegasan dan tawaran program swasembada untukk menaikan kualitas perekonomian masyrakat meskipun terdapat asumsi otoritarinisme akan bangakit jika dirinya menang.

Spekulasi yang demikian digiring menjadi sebuah opini yang sifatnya subjektif dan menjadi mindshet yang terkonstruk untuk sebuah pembelaan pada pilihan yang sudah diyakini. Sehingga timbul fanatisme yang menafikan asas-asas perbedaan  apabila sikap pembelaan tersebut berlebihan.

Pemilihan serentak pada 2019 mempunyai tensi yang cukup panas. Berbagai macam politisasi terjadi  yang diangkat menjadi isu propaganda  lemah dan kuatnya elektabilitas dari setiap calon.

Politisasi agama mencuat menjadi faktor yang dominan. Timbulnya istllah Islam moderat yang notabenenya dalam lingkaran kubu petahana dan Islam konservatif yang digenggam oleh kubu oposisi menjadi hitam dan putih antara politik dan agama.

Agama dijadikan mediasi untuk kepentingan politik adalah hal yang naif namun jika sebagai mediasi kemaslahatan hal tersebut menjadi obligasi. Dari sinilah letak keambiguan masyarakat menilai dimana titik kebenarannya. Sehingga  lebih memilih dengan alternatif yang subjektif untuk mengetahuinya, lalu berdampak pada pemahaman yang berbeda-beda dengan hasil saling mengkalaim dan menjustifikasi. Tidak ada klarifikasi yang objektif sebab lebih yakin terhadap perasaan pribadi yang fanatik akan pilahan yang sudah diyakini.

Hal  lain yang menjadi sorotan di tengah panasnya realitas politik masa kini adalah, kecilnya interpetasi nlai-nila kemanusian. Perbedaan yang fanatik menjadi dalih akan hal itu. Saling hujat, bahkan caci maki menjadi perilaku yang dipertontonkan baik di media sosial maupun realita yang berkibat permusuhan entah itu dalam hubungan peretemanan bahkan keluarga. Bahkan tidak jarang berujung pada tidakan-tidakan di luar nalar, seperti kasus pembunuhan pemuda yang terjadi di Sampang Madura hanya karena perbedaan pilhan presiden. Tidak lepas dari itu, kasus sengketa kuburan di tanah pemakaman yang terjadi di Grontalo dibongkar hanya karena tidak mempunyai kesaaman pilhan politik. Kejadian-kejadian tersebut sebagai bukti betapa mirisnya perbeedaan yang fanatik timbul dari persoalan poltik sehingga harus melupakan nila-nilai kemanusian. Maka tidak salah Sok Hogie mengatakan politik itu kotor, lumpur-lumpur yang kotor sebab mereka lupa memanusiakan manusia.

Pada hakikatnya Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman Suku, agama, dan  ras yang mempunyai unsur perbedaan satu sama lain. Perbedaan bukan hal yang asing lagi menjadi pembicaraan. Akan tetapi rasa nasionalisme yang dipelopori oleh Soekarno menjadi gagasan permersatu di tengah kerumunan perbedaan yang berujung  kecintaan pada negeri ibu pertiwi

Maka selayaknya, menguatakan nila-nila perbedaan yang harmonis menjadi kesadaran bersama disituasi poltik yang keruh. Salah satunya dengan menjung-jung sikap toleransi yang berawal saling hormat atas realitas perbedaan yang terjadi khususnya dimomentum pesta demokrasi nanti. Sehingga dapat menimalisir perbedaan dukungan yang fanatik akan pilhan tampa ada argumentasi yang bisa dipertanggung jawabkan. Persoalan demikian menjadi tantangan untuk tetap manjaga rasa kedamain dan ketentraman berbangsa. Menghargai satu sama lain merupakan kewajiban antar masyarakat demi meredam dan bentuk antipati timbulnya sikap fanatisme dan intolerasi

Menempatkan nilai-nila kemanusiaan dalam arus perbedaan yang fanatik menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Persatuan akan tercapai bila mana masyarakat mengerti sebuah nila-nila kemanusiaan, apalagi diajang kontestasi poltik dimana saling caci, menghujat menjadi new habit. Sebuah tindakan yang tidak bisa dianggap remeh temeh. Seperti halnya perktaan Gusdur “ yang terpenting dari politik adalah kemanusia” hal tersebut menujukkan bukan perihal siapa yang menang tapi bagaimana masyarakat salaing menghargai perbedaan pilhan tampa ada unsur benci sehinggah nila kemanusiaan menjadi titik yang paling diperhatikan.

Tokoh-tokoh seperti halnya Gusdur, Nelson Mandela, dan Mahatma Ghandi menjadi bukti sejarah bagaimana mereka menjadikan politik alat mediasi untuk mencapai kemanusiaan yang bermatabat. Tidak hanya terpaku pada rung lingkup dominasi otoritas  berlebihan yang menyebabkkan keruhnya keadaan sosial. Maka ciptakanlah pemilihan yang damai, bermatabat dengan adanya perbedaan, selalu ingat akan semboyan para leluhur bangsa yang sampai hari ini menjadi jati diri negara. Ya! Jangan lupakan Bhinneka Tunggal Ika. (ila)

*Penulis merupakan warga Sumenep Madura, Jawa Timur sekaligus mahasiswa UIN Sunan Kalijaga jurusan Hukum Tata Negara dan aktif di Komunitas Kutub Bantul.

Opini