TELAH kita ketahui, melalui media sosial (medsos) setiap pengguna bisa saling berhubungan satu sama lain secara real time. Dengan kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), jarak dan waktu bukan lagi penghalang bagi kita untuk saling berinteraksi.

Namun berbagai kemudahan itu, bukan berarti tanpa cacat. Hadirnya, medsos juga memicu berbagai konflik di ruang virtual. Karenanya, sikap saling maaf dan memaafkan perlu digalakkan di medsos.

Sebagaimana telah kita pahami, bahwa medsos memberi dampak besar pada paradigma berkomunikasi. Hal ini juga akan semakin membuka celah kesalahan yang dilakukan oleh para user ataupun netizen di dunia maya. Ujaran kebencian ialah salah satu contoh pemicu konflik maya yang selama ini marak terjadi. Sudah semestinya, kita sebagai makhluk sosial di ruang digital menyebarkan virus maaf dan memaafkan dalam bermedia sosial.

Manakala terjadi kesalahan sekecil apapun dalam bermedsos, segera kita minta maaf. Jangan sampai sebab kesalahan kecil ini, menjadi benih permusuhan yang menjadi besar di kemudian hari. Perilaku memaafkan harus selalu ditumbuh kembangkan dalam diri seseorang dalam berhubungan di dunia maya. Ini memang hal sederhana, akan tetapi dampaknya sungguh luar biasa bagi kedamaian.

Di era digital seperti sekarang ini, perilaku memaafkan merupakan suatu bentuk manivestasi tindakan dan aset baik secara pribadi maupun sosial untuk menyelesaikan konflik atau permusuhan di ruang virtual. Mengembangkan perilaku memaafkan dapat mendatangkan banyak keuntungan, yaitu memberikan kesehatan baik itu fisik, psikis, maupun jiwanya. Selain itu, hal yang terpenting ialah dapat memperbaiki hubungan dengan orang lain, memberikan perhatian terhadap well being orang lain, serta merupakan bentuk etika bermedsos.

Bahkan hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), yaitu bahwa umat Islam boleh menggunakan media sosial dan perangkatnya untuk memohon maaf atau menjalin silaturrahim tak terkecuali di jagat maya. Mengingat kesalahan di media sosial juga perlu diselesaikan. Kita bisa menggunakan sarana seperti Facebook, Twitter, IG, dan media sosial lainnya untuk saling maaf memaafkan dan silaturrahim.

Saling memaafkan di medsos juga perlu bagi orang yang terkendala jarak untuk bertemu langsung. Padahal kita tahu setiap kesalahan kita terhadap manusia harus diselesaikan dengan orang tersebut. Apabila Allah SWT sudah menjanjikan pengampunan dosa, maka tinggal demikian bagaimana meminta maaf kepada manusia. Sebab, dosa yang bersifat langsung kepada Allah SWT pasti diampuni sesuai dengan janji Allah SWT selepas bertobat nasuha. Tapi, bagaimana dengan dosa kepada sesama manusia. Maka disinilah kita harus membersihkannya dengan cara meminta maaf, sekalipun di media sosial.

Memang memohon maaf secara langsung jauh lebih utama dibandingkan dengan lewat medsos. Namun, jika tidak memungkinkan apa hendak dikata, lewat media sosial pun bisa dilakukan. Hal yang terpenting ialah bagaimabna kita sadar bahwa perilaku maaf dan memaafkan harus digencarkan di mana saja, termasuk di jagat maya. Apalagi, di tahun politik seperti saat ini potensi kesalahan di media sosial sangatlah tinggi. Terkadang kita tanpa sadar menyinggung ataupun berbuat salah terhadap orang lain lantaran demi membela pasangan calon tertentu.

Oleh karena itu, perlu ditekankan sekali lagi bahwa maaf memaafkan di medsos harus sering kita biasakan ketika kita berkomunikasi di medsos. Konten-konten yang kita sebarkan di jagat maya juga harus bersih dari ujaran kebencian serta pemicu konflik permusuhan. Dengan kesadaran maaf memaafkan di medsos inilah, harapannya akan tercipta medsos yang sejuk, sehingga perdamaiaan pun akan terwujud, termasuk di ruang digital, semoga. (ila)

*Penulis adalah peneliti pada Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan UIN Sunan Kalijaga

Opini