Hari Sabtu tanggal 27 Mei 2006, masyarakat Daerah Istimewa Jogjakarta digoyang gempa 6,1 Scala Richter (SR) yang menghancurkan puluhan ribu rumah tinggal di Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman, dan Kota Jogjakarta. Gempa di pagi hari itu seolah tak peduli: menghancurkan apapun bangunan yang dibangun tanpa memperhatikan kaidah teknis bangunan tahan gempa.
Bangunan milik pemerintah pun banyak yang hancur rata tanah. Apalagi, rumah penduduk yang dibangun tanpa kolom praktis yang tak terangkai dalam konstruksi yang tak memadai. Rumah warga masyarakat yang umumnya dengan atap genting yang beratnya melebihi kapasitas pilar penyangga hancur total dan rata tanah.

Gempa bumi (lindu) di masa lalu tak hanya menghancurkan rumah masyarakat kecil saja. Tetapi, juga bangunan milik para penguasa. Menurut catatan gempa di DIJ, pendapa Puro Pakualam pun pernah hancur total pada tahun 1885 sebagai akibat gempa bumi. Gempa bumi tidak mengenal kelas sosial, tetapi berlaku bagi semua umat dan semua kehidupan yang ada dimuka bumi.
Meski gempa itu mempunyai potensi menghancurkan semua bangunan yang dibangun manusia, bukan berarti tidak bisa disiasati oleh umat manusia.

Bagaimana pun, umat manusia diberikan bekal ilmu pengetahuan untuk mengatasi semua ancaman bahaya gempa bumi. Itu karena ilmu kegempaan saat ini sudah demikian maju dan tentu dapat merancang bangunan yang mampu bertahan terhadap gempa dengan skala yang tinggi sekali pun.
Gempa bumi bukan peristiwa alam yang terjadi karena penyebab tunggal. Gempa bumi sebagai suatu sistem planet bumi mempunyai struktur yang terbentuk oleh alam raya dengan pola yang beraturan. Bumi bukanlah tiba-tiba terbentuk begitu saja menjadi planet yang ramah bagi kehidupan manusia. Tetapi, secara sistemik dari waktu ke waktu (jutaan tahun) berkembang secara evolitif menjadi tempat hunian dan kehidupan yang nyaman.

Bumi dengan bandul bulan berputar pada porosnya dan dijaga jaraknya dari matahari oleh planet lainnya agar berada pada jarak yang aman dari radiasi sang surya. Semua energi planet, satelit, dan matahari tersebut saling dayan-dinayan yang mempengaruhi kondisi internal planet bumi itu sendiri. Semuanya itu telah diketahui para ahli sehingga dapat memahami pergerakan platform yang membungkus api (magma) di dalam bumi dan pengaruhnya pada kerak-bumi.

Gempa bumi dengan pergerakan longitudinal pada kerak bumi bisa diketahui dan diukur panjang gelombangnya oleh para ahli geologi sehingga dengan besaran tertentu dapat diketahui seberapa jauh suatu gempa berpengaruh. Semua aspek kegempaan yang telah dikuasai manusia itulah yang mendorong penemuan dan rekayasa teknologi antigempa pada bangunan sipil.
Puluhan meter bangunan vertikal bisa dibangun berkat kemajuan ilmu pengetahuan yang dikuasai manusia. Kita bisa membangun stadion besar yang mampu menahan gempa besar dan mampu menjadi landmark suatu kota besar. Namun sayang, ternyata justru bangunan kecil rumah rakyat kecil yang tak tersentuh oleh ilmu dan pengetahuan yang sangat maju tersebut.

Sering kali kita menyaksikan gempa berkekuatan 6 SR dengan episentrum di daratan menghancurkan bangunan rumah bagi masyarakat kecil. Kenyataan pula, sering kita temukan bahwa sosialisasi bangunan tahan gempa untuk masyarakat tidak tersosialisasikan dengan baik dan kita menyaksikan rumah hancur rata tanah dalam setiap kejadian gempa bumi.

Bahkan, kita sering kali menyaksikan suatu bangunan untuk pelayanan publik seperti: sekolahan, masjid, dan lain-lain yang dibangun secara swadaya hancur total dan menjadi sumber bencana. Penyebab kematian manusia bukanlah gempa bumi. Tetapi, justru oleh olah-budi manusia yang tidak mempertimbangkan akibat suatu peristiwa alam yang sebetulnya dalam konteks sistems alam-raya merupakan peristiwa yang harus terjadi.

Bangunan yang hancur, pada umumnya, tidak didukung oleh suatu struktur yang tahan gempa dan dengan sendirinya mudah roboh dan membunuh manusia yang ada di dalamnya. Dari pengalaman kegempaan, hanya sedikit anak-anak yang jadi korban kerusakan bangunan karena pada umumnya anak-anak secara reflektif bereaksi cepat menuju tempat yang aman. Korban runtuhan bangunan justru lebih banyak menimpa orang lanjut usia atau dewasa yang lamban bergerak dan menjauh dari rumah. Sering kali karena ingin mengambil dulu harta yang sangat bernilai justru menjadi terlambat keluar rumah dan terperangkap bangunan runtuh.

Sering kali, manusia menganggap bahwa alam itu sesuatu yang tak akan bergerak dan tak berubah dari waktu ke waktu. Bahkan, kalau dimungkinkan alam harus dibentuk untuk memenuhi kepentingan manusia, yang berakibat daya dukung alam itu sendiri menjadi berkurang. Jika umat manusia menyadari bahwa alam pun melakukan pergerakan dan sekaligus perubahan maka pemanfaatan alam pun harus menyesuaikan dengan sistem alam raya pula.
Mengingat gempa pun bagian dari rutinitas sistem bumi itu sendiri maka bangunan yang dirancang harus memperhatikan perilaku alam setempat. Jika pada suatu wilayah punya potensi gempa yang tinggi maka setiap bangunan yang dibuat warganya harus diatur dalam mekanisme teknis yang sepadan ancaman alam yang potensial.

Apakah bencana alam yang diakibatkan oleh gempa bumi itu bisa dihindari dan diantisipasi? Itu adalah pertanyaan yang mengusik ketika menyaksikan liputan media televisi yang menunjukkan begitu banyak korban sebagai akibat konstruksi bangunan yang tidak memadai.

Dari peristiwa gempa bumi itulah sudah seharusnya di semua daerah yang rawan gempa bumi menata kembali kebijakan persyaratan teknis bangunan untuk kepentingan umum maupun untuk kepentingan privat. Bangunan yang dibangun secara swadaya pun harus memenuhi standar teknis. Begitu juga rumah hunian yang diproduksi para pengembang harus diperiksa kelayakannya sebagai suatu hunian.

Antisipasi terhadap gempa bukanlah kewajiban pemerintah pusat semata. Tetapi, justru merupakan kewajiban utama pemerintah daerah beserta aparatur pusat di daerah. Keterlambatan antisipasi terhadap kebencanaan di daerah justru akan berakibat luas yang akan membawa korban bagi warga yang sebetulnya tidak memahami bagaimana membangun rumah yang tahan terhadap gempa bumi. Gempa bumi sebetulnya bukan ancaman. Tetapi, ancaman gempa bumi adalah kesalahan manusia sendiri dalam membangun bangunan untuk kepentingan manusia itu sendiri. (*/amd/mg1)

Opini