Kamis sore (9/8) Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan calon wakil presiden (cawapres) yang akan mendampinginya di gelanggang pemilihan presiden (pilpres) pada 2019 mendatang.

Nama Mahfud MD, mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) sebelumnya cukup santer dikabarkan untuk menjadi pendamping Jokowi, meskipun pada akhirnya Ma’ruf Amin, ketua MUI dan Rais ‘Aam PBNU yang dipilih Jokowi.

Berita mengenai bursa cawapres Jokowi beredar sangat cepat dan luas di media sosial (medsos), terlebih karena clue yang ditunjukkan oleh rekan koalisi Jokowi yang seakan-akan sangat identik dengan Mahfud MD, namun pada akhirnya justru Ma’ruf Amin lah yang dimaksud.

Dinamika pemilihan wakil presiden juga terjadi pada kubu penantang, Prabowo Subianto yang menyusul mendeklarasikan calon wakil presidennya pada malam hari. Nama yang sangat kuat dikabarkan akan mendampingi Prabowo dalam dua pekan terakhir disebut Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), putra bungsu Presiden ke-6 Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Menguatnya nama AHY dalam bursa cawapres Prabowo terlihat pada komunikasi politik antarketua partai yang kian intensif beberapa hari terakhir jelang deklarasi. Nama pedakwah, Ustad Abdul Somad (UAS) juga sempat menguat dikabarkan akan mendampingi Prabowo untuk menuju kursi RI-1. Meskipun demikian, lagi-lagi tebakan publik meleset karena di saat-saat terakhir justru nama Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno (Sandi) yang dideklarasikan.

Samar-samar sudah mulai terlihat akan terjadi lagi pertarungan sengit antara Jokowi dan Prabowo untuk memperebutkan kursi presiden, setelah sebelumnya pada 2014 Jokowi yang memenangkan pertaruangan.

Pelbagai komentar bermunculan pasca diumumkannya para calon presiden dan wakilnya tersebut, ada yang langsung mengamini kedua pasangan ada pula yang mempertanyakan perihal alasan mengapa sosok tersebut yang menjadi pilihan. Terlepas pro dan kontra pendapat tersebut, satu hal yang menarik adalah kemungkinan munculnya poros ketiga yang akhirnya terbantahkan. Bahkan nama-nama yang selama ini bermunculan seperti Gatot Nurmantyo, Tuan Guru Bajang, Anies Baswedan, Amien Rais dan beberapa tokoh lainnya seperti meredup menjelang hari terakhir pendaftaran.

Terulangnya duel Jokowi dan Prabowo di Pilpres 2019 menandakan bahwa (sepertinya) masih belum ada tokoh lain mampu mengungguli mereka berdua dalam hal kriteria untuk menjadi Presiden.

Prediksi bahwa hanya akan muncul dua kubu memang sudah menguat sejak lama, pasalnya pertempuran pada 2014 menciptakan pemilih militan yang terbelah ke dalam dua tokoh tersebut. Masing-masing sudah memiliki suara yang kuat, sehingga pemilihan cawapres akan menjadi sangat menentukan kemenangan di 2019.

Terkait profil capres, tentu masyarakat Indonesia sedikit banyak sudah mengenali mereka melalui pelbagai media, terutama pascapilpres 2014 dan seluruh dinamika politik yang terjadi setelahnya. Namun masyarakat kini justru tertarik menggali lebih dalam mengenai rekam jejak cawapres. Memang keduanya adalah tokoh yang sudah sangat populer, akan tetapi menjadi cawapres tentu akan membuat mereka lebih disorot bahkan lebih jauh dari sekadar rekam jejak, yaitu kepribadian dan segala aspek yang melekat dalam diri masing-masing.

Cawapres yang sangat kontras di kedua belah pihak membuat Pilpres semakin menarik. Di kubu Jokowi terdapat Ma’ruf Amin yang merepresentasikan cendekiawan, ulama, dan sosok yang sepuh yang konon akan mampu memberikan intensif elektoral di hampir semua kalangan mengingat posisi Ma’ruf Amin sebagai pemimpin tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Sementara di kubu Prabowo terdapat Sandiaga Uno yang mana merupakan representasi dari tokoh muda, enerjik, dan selalu diasosiasikan dunia wirausaha. Kontrasnya latar belakang cawapres tersebut tentu tidak tanpa efek, karena keduanya memiliki nilai tawar yang tidak bisa disepelekan di sektor yang menjadi keahliannya masing-masing.

Terlepas nanti siapa yang akan terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden, tentu hal yang lebih penting adalah kesejahteraan rakyat yang tidak boleh digadaikan dengan nafsu dan ambisi pribadi untuk berkuasa. Berpolitik dengan santun dan tetap menjaga persatuan harus terus digaungkan di pelbagai media, khususnya media sosial yang selama ini penuh dengan berita bohong (hoaks) dan ujaran kebencian. (ila)

*Dosen Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, Alumnus Interdisciplinary Islamic Studies Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta

Opini