Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Stop Menunggangi Gajah! Kenali Realita Pahit dan Dampak Buruknya bagi Satwa

Magang Radar Jogja • Kamis, 5 Februari 2026 | 11:18 WIB
Induk gajah dan kedua anaknya.
Induk gajah dan kedua anaknya.

RADAR JOGJA - Pariwisata satwa di Indonesia perlahan mulai membuka mata terkait isu kesejahteraan para satwa.

Tren hiburan wisata yang cenderung mengeksploitasi satwa kini mulai ditinggalkan demi kesejahteraan makhluk hidup yang lebih bermartabat.

Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan resmi menerbitkan Surat Edaran yang memerintahkan lembaga konservasi untuk menghentikan peragaan gajah tunggang.

Di tahun 2026 ini, beberapa pengelola di Kebun Binatang Surabaya, Mason Elephant Park & Lodge, dan Bali Zoo sudah mulai menghentikan aktivitas menunggangi gajah untuk para pengunjung.

Penerbitan kebijakan ini didasari oleh fakta bahwa praktik peragaan gajah tunggang dinilai tidak sejalan dengan prinsip perlindungan, etika, dan kesejahteraan satwa (animal welfare).

Aktivitas wisata tersebut melibatkan metode-metode pelatihan yang keras serta berdampak buruk pada fisik satwa, sebuah kondisi yang sering kali tidak diketahui oleh masyarakat umum.

Fakta Kelam dibalik Atraksi Menunggangi Gajah


Banyak wisatawan tidak menyadari apa yang harus dilalui seekor gajah agar bisa ditunggangi dengan aman.

Proses ini memaksa gajah untuk menjadi jinak sepenuhnya melalui pelatihan yang sangat keras.

Berikut realita pahit yang harus kita ketahui:

1. Proses Pelatihan yang Menyiksa


Gajah Asia bisa memiliki berat lebih dari 10.000 pon.

Secara alami, mereka adalah satwa liar yang sulit dikendalikan.

Agar bisa aman ditunggangi, gajah harus melalui proses bernama phajaan.

Ini adalah metode penyiksaan brutal untuk mematahkan semangat mereka, membuat mereka merasa tidak berdaya, dan akhirnya patuh karena rasa takut.

Gajah-gajah ini dipukuli dan disiksa agar tidak pernah memprotes perintah dari manusia, karena secara fisik mereka sebenarnya bisa dengan mudah melemparkan penunggangnya.

2. Struktur Tubuh yang Tidak Sesuai


Meski terlihat besar dan kuat, punggung gajah sejatinya tidak didesain secara fisik untuk menopang beban manusia, apalagi ditambah kursi untuk penunggangnya.

Banyak gajah yang ditunggangi untuk alasan wisata mengalami masalah tulang belakang yang serius dan luka-luka parah di punggung mereka akibat beban berat yang harus dipikul setiap harinya.

3. Eksploitasi Tanpa Henti dan Risiko Penyakit


Gajah yang dieksploitasi sering kali dipaksa bekerja terus-menerus.

Tidak peduli apakah mereka buta, terluka, atau memiliki patah tulang yang belum sembuh, mereka tetap dituntut menghasilkan uang.

Selain itu, interaksi jarak dekat dengan wisatawan sebenarnya berisiko bagi kesehatan manusia.

Gajah dapat membawa penyakit menular seperti Tuberkulosis (TBC), dan banyak gajah wisata yang teruji positif membawa penyakit ini.

4. Ancaman Kepunahan Gajah


Gajah (Elephas maximus) berstatus critically endangered atau sangat terancam punah menurut Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Permintaan pasar untuk wisata tunggang gajah justru memicu penangkapan gajah liar.

Selama wisatawan masih ingin menunggangi gajah, akan selalu ada permintaan untuk menjebak gajah dari alam liar dan menjualnya ke dalam penangkaran.

Dampak Buruk Menunggangi Gajah


Praktik eksploitasi dalam pariwisata membawa dampak yang sangat merusak bagi kondisi kesejahteraan gajah secara menyeluruh.

Rutinitas seperti memandikan dan menunggangi gajah seringkali memicu gangguan perilaku serta masalah psikologis serius, mulai dari stres, kecemasan, hingga depresi.

Tuntutan fisik yang berat dari aktivitas wisata ini juga mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan kronis.

Gajah pekerja kerap menderita nyeri sendi dan kaki, iritasi kulit, serta rentan terhadap infeksi saluran pernapasan.

Akibat akumulasi beban fisik dan mental tersebut, gajah yang dimanfaatkan untuk industri pariwisata memiliki harapan hidup yang jauh lebih pendek dibandingkan gajah yang benar-benar dirawat dan dilindungi di pusat konservasi atau suaka margasatwa.

Mengenal Tempat Konservasi Gajah yang Etis


Wisatawan perlu jeli memilih destinasi tempat wisata satwa.

Ada beberapa ciri untuk mengenali tempat konservasi yang memang benar-benar peduli pada satwa, khususnya gajah:

1. Minim Interaksi Langsung


Tempat konservasi yang etis tidak mengizinkan sentuhan fisik antara pengunjung dengan satwa.

Jika sebuah tempat membolehkan pengunjung menunggangi, memandikan, atau menyentuh gajah, itu tandanya gajah tersebut telah melalui pelatihan yang kejam.

2. Bebas Berperilaku Alami


Gajah seharusnya dibiarkan bergerak bebas dan bersosialisasi dengan sesamanya.

Hindari tempat yang mengurung gajah di kandang sempit atau merantai mereka sehingga tidak bisa mengekspresikan perilaku alaminya.

3. Tidak Ada Show Bayi Gajah

Bayi gajah memang lucu, tetapi tempat yang ramah bagi gajah tidak akan memisahkan bayi dari induknya demi tontonan atau foto bersama para pengunjung.

Lembaga konservasi yang benar tidak akan mengizinkan pengembangbiakan satwa untuk tujuan wisata.

4. Keamanan dan Jarak Aman


Di tempat yang baik, pawang akan mendampingi gajah dari jarak tertentu untuk menjaga keamanan, baik bagi gajah maupun para pengunjung.

Penggunaan alat atau senjata tajam pada gajah seharusnya tidak digunakan kecuali dalam keadaan yang benar-benar darurat.

Interaksi yang Benar: Observasi, Bukan Eksploitasi


Penghentian wisata tunggang gajah bukan berarti menghilangkan fungsi edukasi dari teempat wisata atau lembaga konservasi.

Hal ini justru menjadi momen transformasi menuju model wisata yang lebih etis.

Pengunjung didorong untuk mengamati gajah dari jauh, melihat mereka berinteraksi secara alami, dan belajar tentang konservasi tanpa perlu melakukan kontak fisik secara langsung.

Pendekatan ini bertujuan membangun kesadaran publik bahwa konservasi bukan tentang hiburan semata, melainkan penghormatan terhadap kehidupan para satwa.

Menjaga kesejahteraan gajah sebagai satwa yang dilindungi sejatinya adalah bentuk upaya untuk menjaga masa depan keseimbangan ekosistem alam.

Perlu diingat, konservasi bukan tentang seberapa dekat kita bisa berinteraksi dengan satwa liar, melainkan seberapa bijak kita memberi mereka ruang untuk hidup dengan bebas dan lestari sesuai kodratnya. (Aqbil Faza Maulana)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#dampak buruk #satwa #Realita Pahit Gajah #Stop Menunggangi Gajah #realita