RADAR JOGJA - Dedi Mulyadi adalah sosok yang mencerminkan perjalanan hidup dari bawah menuju puncak kepemimpinan.
Lahir pada 11 April 1971 di Kampung Sukadaya, Desa Sukasari, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Dedi tumbuh dalam keluarga sederhana.
Ayahnya, Sahlin Ahmad Suryana, adalah seorang pensiunan tentara.
Sementara ibunya, Karsiti, meskipun tidak mengenyam pendidikan formal, memiliki semangat sosial tinggi sebagai aktivis Palang Merah Indonesia.
Sejak kecil, Dedi Mulyadi sudah terbiasa bekerja keras membantu ibunya menggembala domba dan berladang, sebuah pengalaman yang membentuk karakter kepemimpinannya kelak.
Pendidikan dasar dan menengahnya diselesaikan di Subang, sebelum melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Hukum Purnawarman, Purwakarta, dan lulus pada tahun 1999.
Selama menempuh pendidikan, ia aktif di berbagai organisasi, termasuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Senat Mahasiswa, dan serikat pekerja.
Karier politik Dedi dimulai sebagai anggota DPRD Purwakarta pada periode 1999-2004.
Ia kemudian menjabat sebagai Wakil Bupati Purwakarta pada tahun 2003, menjadi yang termuda di posisi tersebut pada usia 32 tahun, berpasangan dengan Lily Hambali Hasan.
Dalam posisi ini, ia mulai dikenal karena pendekatannya yang inovatif dan kepeduliannya terhadap Masyarakat.
Kang Dedi Mulyadi dikenal dengan pendekatan kepemimpinan yang unik dan penuh warna.
Baca Juga: Beukenhof Restaurant: Permata Kuliner Eropa di Kaki Gunung Merapi
Sebagai Bupati Purwakarta, ia menerapkan berbagai kebijakan yang mencerminkan kecintaannya terhadap budaya Sunda.
Salah satu kebijakan yang paling mencolok adalah penempatan patung tokoh wayang di berbagai sudut kota.
Kebijakan ini sempat menuai kontroversi, terutama dari Front Pembela Islam (FPI), yang menuduhnya melakukan perbuatan musyrik dan menganggap salam "sampurasun" yang sering ia gunakan sebagai bentuk penistaan agama.
Namun, Dedi menegaskan bahwa upayanya semata-mata untuk menjaga warisan budaya Sunda.
Pada Pilkada Jawa Barat 2024, Dedi Mulyadi maju sebagai calon Gubernur dari Partai Gerindra.
Dengan dukungan mayoritas, ia berhasil memenangkan pemilihan dan resmi menjabat pada 20 Februari 2025.
Sebagai Gubernur, Dedi menunjukkan komitmennya terhadap kesejahteraan masyarakat.
Ia memberikan bantuan sebesar Rp 3 juta per kepala kepada sopir angkot, tukang becak, kusir delman, hingga tukang ojek di sejumlah daerah yang kerap dilalui pemudik saat momen mudik dan arus balik Lebaran 2025.
Bantuan ini diberikan agar mereka tidak mangkal pada periode mudik, sehingga bisa mengurangi potensi kemacetan.
Dedi Mulyadi juga dikenal dengan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada masyarakat kecil.
Ia berjanji akan memperjuangkan upah tukang sapu agar minimal setara dengan UMK setempat.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menyediakan seragam layak dan peralatan keselamatan kerja bagi tukang sapu, mengingat pekerjaan mereka penuh risiko.
Perjalanan hidup Dedi Mulyadi dari seorang anak desa yang menggembala domba hingga menjadi Gubernur Jawa Barat adalah bukti nyata bahwa dengan kerja keras, dedikasi, dan komitmen terhadap masyarakat, segala impian dapat terwujud.
Ia tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pelestarian budaya dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dengan kepemimpinan yang penuh warna dan inovatif, Dedi Mulyadi berusaha membawa Jawa Barat menuju kemajuan yang berkelanjutan. (Anicetus Awur)
Editor : Meitika Candra Lantiva