Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BMKG Imbau Warga NTT Tetap Waspada Karhutla Meski Peringatan Dini Cuaca Nihil

M
Ilustrasi lahan kering di Nusa Tenggara Timur yang perlu diwaspadai terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau.
Ilustrasi lahan kering di Nusa Tenggara Timur yang perlu diwaspadai terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau.

Advertisement

Peringatan Dini Cuaca NTT Nihil, Risiko Kebakaran Lahan Tetap Mengintai

RADAR JOGJA – Masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta tetap mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan di tengah kondisi cuaca yang relatif kering. Meski tidak ada wilayah yang masuk kategori peringatan dini hujan sedang hingga ekstrem maupun angin kencang pada periode 27–29 Oktober 2026, risiko kebakaran tetap perlu diantisipasi.

Informasi yang disampaikan Stasiun Meteorologi Kelas I El Tari Kupang pada 27 Oktober 2026 menunjukkan seluruh kategori peringatan dini hujan dan angin kencang di wilayah NTT berstatus nihil selama periode tersebut.

Advertisement

Status nihil berarti tidak ada wilayah yang memenuhi kriteria peringatan dini dalam laporan itu. Kondisi tersebut tidak berarti hujan sama sekali tidak mungkin terjadi, sebab perubahan cuaca masih dapat berlangsung secara lokal.

BMKG menjelaskan bahwa angin Monsun Timur masih memengaruhi kondisi musim kemarau di NTT. Keadaan yang relatif kering perlu menjadi perhatian karena vegetasi yang mengering dapat lebih mudah terbakar ketika terkena sumber api.

Risiko tersebut terutama perlu diwaspadai di kawasan padang rumput, semak belukar, hutan, serta lahan pertanian yang memiliki banyak material kering. Api yang muncul di area tersebut berpotensi meluas apabila tidak segera ditangani.

Advertisement

Masyarakat diimbau menghindari pembakaran sampah maupun pembukaan lahan menggunakan api secara sembarangan. Pengawasan terhadap lingkungan sekitar juga penting dilakukan untuk mengantisipasi munculnya titik api, terutama ketika kondisi lahan sedang kering.

Bagi petani, kondisi cuaca perlu menjadi pertimbangan dalam mengatur kegiatan pertanian, termasuk pengelolaan lahan dan penggunaan air. Penyesuaian aktivitas dengan kondisi tanah serta ketersediaan air dapat membantu mengurangi dampak musim kemarau terhadap kegiatan budidaya.

Selain itu, pengelolaan sisa tanaman tanpa pembakaran dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi risiko kebakaran di lahan pertanian. Masyarakat juga perlu segera melaporkan indikasi kebakaran kepada pihak berwenang agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

BMKG mengingatkan masyarakat untuk terus memantau perkembangan prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui situs resmi BMKG, aplikasi Info BMKG, serta kanal komunikasi resminya. Informasi terbaru diperlukan karena kondisi atmosfer dapat berubah dan berpengaruh terhadap cuaca di setiap wilayah.

Advertisement
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Cegah TPPO dari Desa, Imigrasi NTT Bentuk 24 Desa Binaan Sepanjang 2026

Cegah TPPO dari Desa, Imigrasi NTT Bentuk 24 Desa Binaan Sepanjang 2026

Upaya mencegah tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Nusa Tenggara Timur (NTT) diperkuat melalui pembentukan Desa Binaan Imigrasi. Sepanjang 2026, Imigrasi NTT telah membentuk 24 desa binaan.

Gempa M 4,9 Guncang Nagekeo NTT, Getaran Terasa hingga Maumere dan Ruteng

Gempa M 4,9 Guncang Nagekeo NTT, Getaran Terasa hingga Maumere dan Ruteng

Gempa bumi bermagnitudo 4,9 mengguncang wilayah laut di dekat Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (26/10). Getaran gempa dirasakan di sejumlah wilayah, mulai dari Bajawa, Maumere hingga Ruteng.

Kemarau Panjang Bawa Berkah, Produksi Garam NTT Naik Signifikan

Kemarau Panjang Bawa Berkah, Produksi Garam NTT Naik Signifikan

Produksi garam rakyat di NTT tahun 2025 tembus 20.542 ton, naik 30 persen dari tahun sebelumnya. Potensi lahan pesisir dan cuaca mendukung NTT menjadi lumbung garam nasional serta meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer