Soroti Batik Indonesia, Sekjen PBB António Guterres Tekankan Pentingnya Multilateralisme

JAKARTA – Batik Indonesia mendapat perhatian dari Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres. Warisan budaya tersebut dinilai memiliki makna lebih luas daripada sekadar karya seni dan tradisi, yakni menggambarkan pentingnya keberagaman, keterbukaan, serta kerja sama dalam menghadapi tantangan dunia.
Pandangan itu disampaikan Guterres dalam agenda Foreign Policy Circle Talks di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Jakarta, Senin (19/10/2026). Dalam forum tersebut, batik menjadi gambaran bagaimana berbagai pengaruh budaya dapat berpadu dan berkembang tanpa menghilangkan identitas yang melekat pada tradisi Indonesia.
Perjalanan batik Indonesia tidak terlepas dari pertemuan berbagai kebudayaan. Pengaruh Arab, China, Eropa, Jepang, Asia Selatan, hingga Persia turut memperkaya perkembangan motif dan coraknya. Perpaduan tersebut menghasilkan beragam bentuk batik yang memiliki karakter tersendiri sekaligus tetap mencerminkan identitas budaya Indonesia.
Keberagaman dalam batik menunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi bagian dari proses pembentukan sesuatu yang lebih kaya. Berbagai unsur tidak harus saling meniadakan, tetapi dapat berpadu dan menghasilkan bentuk baru. Prinsip tersebut juga relevan dalam hubungan internasional, ketika negara-negara dengan kepentingan berbeda perlu membangun kesepahaman.
Dalam lingkup global, multilateralisme menjadi pendekatan penting untuk mempertemukan berbagai kepentingan negara melalui dialog dan kerja sama. Pendekatan ini memungkinkan negara-negara berpartisipasi dalam pembahasan persoalan bersama, termasuk menjaga perdamaian, memperjuangkan hak asasi manusia, dan mendorong pembangunan berkelanjutan.
Tantangan dunia yang terus berubah membuat kerja sama internasional membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi. Perkembangan kekuatan baru dan munculnya persoalan global menuntut lembaga internasional agar dapat menampung lebih banyak pandangan serta mempertimbangkan kondisi negara-negara yang terlibat.
Hal tersebut memiliki kemiripan dengan perkembangan batik yang terus mengalami pembaruan. Motif, garis, dan warna dapat berkembang mengikuti kreativitas pembuatnya. Meski demikian, perubahan tersebut tidak serta-merta menghilangkan identitas batik sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.
Batik juga telah mendapatkan pengakuan internasional. Pada 2009, UNESCO menetapkan batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. Pengakuan tersebut memperkuat kedudukan batik sebagai tradisi yang memiliki nilai sejarah, seni, dan sosial bagi masyarakat Indonesia.
Dalam kunjungannya ke Indonesia pada 17–19 Oktober 2026, Guterres juga melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Kabupaten Bogor. Selain itu, ia mengunjungi Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI di Kabupaten Bogor sebelum menyampaikan pandangannya mengenai multilateralisme di Kementerian Luar Negeri.
Sorotan terhadap batik dalam forum internasional tersebut memperlihatkan bahwa warisan budaya dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan yang lebih luas. Nilai keberagaman dan kemampuan beradaptasi yang tercermin dalam batik dapat menjadi pengingat pentingnya membangun hubungan antarnegara yang terbuka, saling menghargai, dan berorientasi pada kepentingan bersama.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




