Tenaga ahli PDIN yang membidangi Desain dan Pengembangan Community Tosan Tri Putro menjelaskan, ragam prototype desain industri yang dibuat oleh peserta terpilih antara lain seperi tumbler minum berbentuk Tugu Golong Gilig Jogjakarta, prototype sumbu filosofis, hingga desain bakpia dan topi udheng.
Proses kurasi dan penilaian yang dilakukan meliputi orisinalitas karya desain dan kesesuaian akan tema yang diberikan. "Kami cukup susah memilih 20 terbaik, karena jujur banyak yang bagus, tapi selain bagus urgensinya adalah kesesuaian tema itu," lontar Tosan Rabu (14/6/23).
Diakui Tosan, para prototype yang dipilih tersebut secara intelektual properti (IP) masih milik para peserta. Sementara PDIN selaku penyelenggara, siap melakukan proses pendampingan dan pendistribusian lebih lanjut terhadap ragam potensial market ke depannya.
"Tentu kami siap membantu mereka untuk kolaborasi lebih lanjut ke depan dengan ragam stakeholder kami," bebernya.
Harapannya dengan adanya kompetisi ini, akan ada pertemuan dan kolaborasi lebih lanjut yang terjalin. Sebab peserta yang ikut berkontribusi berasal dari berbagai provinsi. "Datang dari sembilan provinsi berbeda," sebut Tosan.
Tosan juga tak menampik bahwa kemungkinan kompetisi serupa akan dilakukan secara berkala. Untuk terus menumbuhkan industri kreatif dalam konteks desain industri. "Ketika IP sudah dilindungi nanti industri dan pelakunya juga akan hidup secara beriringan, itu salah satu capaian kami di PDIN," harapnya.
Dheni Nugroho, peserta peraih juara 3 asal Sleman ini mengaku kaget karena terpilih sebagai 3 besar. Dheni mengaku keterlibatan awalnya hanya ingin menunjukkan hasil desain dan mengenalkan produk UMKM yang dirintisnya secara lebih luas.
Dalam kompetisi ini, Dheni mendesain sebuah dompet yang diadaptasi dari Panggung Krapyak.
"Dompet ini saya desain sedemikian rupa mengikuti tekstur, bentuk dan warna bangunan aslinya," jelasnya. (cr1/eno/sat)