Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jadi Pesing, Ah...Kawasan Elite tapi Toilet Sulit

Khairul Ma'arif • Selasa, 13 Juni 2023 | 01:14 WIB

MASIH KURANG: Toilet umum yang berada di kawasan Malioboro Jogja. Keberadaan toilet umum di Malioboro dikeluhkan wisatawan masih kurang.
MASIH KURANG: Toilet umum yang berada di kawasan Malioboro Jogja. Keberadaan toilet umum di Malioboro dikeluhkan wisatawan masih kurang.
RADAR JOGJA - Malioboro sebagai salah satu ikon di Kota Jogja masih menjadi jujukan wisatawan. Rasanya belum lengkap jika ke Jogja belum singgah di Malioboro. Namun demikian, tidak sedikit wisatawan yang mengeluhkan minimnya keberadaan toilet umum di kawasan ini. Alhasil, ada beberapa sudut atau lokasi yang beraroma tak sedap alias pesing.

Beberapa pelancong di Malioboro yang ditemui Radar Jogja mengeluhkan masih minimnya ketersediaan toilet umum di kawasan ini. "Jumlahnya sedikit. Harusnya kan ditambah karena Malioboro juga sudah sangat ramai," ujar salah seorang wisatawan Heni Lestari.


Selain jumlah yang terhitung minim, Heni juga mempermasalahkan jarak antartoilet umum yang cukup jauh. "Saya dari Beringharjo tadi jalan cukup jauh, baru nemu toilet umum. Jadi selain jumlah, jarak juga kendala bagi wisatawan," lontarnya.


Meskipun demikian, ia mengapresiasi kebersihan toilet umum yang cukup terjaga dengan baik. Selain itu retribusi toilet yang dikenakan di Malioboro juga masih tergolong wajar. "Bayarnya Rp 2.000, normallah untuk di lingkungan wisata seperti Malioboro ini," ujarnya.


Penuturan lain datang dari Dery Muhammad. Ia mengaku perlu ada tanda atau petunjuk arah yang lebih besar dan jelas agar makin memudahkan wisatawan. "Pasti kan ada yang baru pertama ke sini. Jadi sangat perlu ada tanda atau petunjuk keberadaan toilet," tandasnya.
Ia membeberkan, dirinya bahkan memilih untuk mengunjungi toilet Alfamart atau Indomaret terdekat jika situasinya darurat dan tidak menemukan toilet umum. "Saya bawa anak kecil, mereka kan sulit untuk menahan kencing. Jadi ya pilihannya ke toilet toko terdekat," jelasnya.


Menurut pantauan Radar Jogja, di sepanjang Jalan Malioboro hanya didapati dua toilet umum yang tepat berada di sisi jalan. Jika dari arah utara, dua toilet umum itu terletak di sisi sebelah kiri Jalan Malioboro.
Nampaknya, jika tidak memperhatikan secara seksama, bakal tidak mengetahui terdapat toilet umum. Dua toilet umum itu berada di dekat Teras Malioboro (TM) 2 dan di belakang halte TransJogja Malioboro 2. Jarak di antara keduanya sekitar 400 meter.


Wisatawan dari Klaten, Gayu Pratama Sulhan juga mengeluhkan jumlah toilet umum di semipedestrian Malioboro. Menurutnya, karena jumlahnya sedikit memaksa ia menumpang buang air kecil ke mal atau minimarket.
Tidak hanya itu, ia juga menyayangkan papan keterangan toilet umum yang tidak dapat dilihat dari kejauhan. Hal itu karena keterangan plang toilet umum itu berukuran kecil. "Sebagai masyarakat, kalau bisa toiletnya ditambah untuk wisatawan dari mancanegara. Dan nanti dikasih nama yang jelas," katanya (4/6). Pria 21 tahun ini menyempatkan berkunjung ke Malioboro usai menjenguk saudaranya di Jogja.


Gayu mengatakan, jumlah toilet umum itu penting untuk ditambah di Jalan Malioboro. Menurutnya, setiap wisatawan pasti merasa ingin buang air kecil ataupun buang air besar saat sedang berjalan-jalan.
Hal serupa juga dikeluhkan Kakang, wisatawan dari Bandung. Saat ditemui ia mengaku hampir empat jam jalan-jalan di kawasan Malioboro. Ia sendiri menilai untuk sekelas destinasi wisata seramai Malioboro, toilet umum masih sulit dijangkau. "Masuk-masuk ke kampung. Kaya tadi juga masih di belakang (toilet umumnya), masih jauh. Tidak dekat dengan pedestarian Malioboronya," ungkapnya.


Pria 29 tahun ini terpaksa buang air kecil lebih jauh, karena tidak mengetahui di pinggir pedestrian Malioboro terdapat toilet umum. Hal itu karena papan petunjuk adanya toilet umum tidak terlihat.
Ia menuturkan saat sedang di Malioboro sempat kebelet buang air kecil. Tetapi, karena kesulitan mencari toilet umum, harus ditahan hingga sampai penginapan. "Kira-kira 10 menit ada nahan buang air kecil," tuturnya.


Kakang menyebut sudah seharusnya lokasi toilet umum di Malioboro lebih terjangkau lokasinya. Tidak perlu sampai masuk-masuk gang di sekitar Jalan Malioboro hanya untuk sekadar buang hajat.


Tidak hanya pengunjung, tukang becak motor Jono yang sehari-hari mangkal di Jalan Malioboro juga mengeluhkan jumlah toilet umum. Pria 56 tahun ini menjelaskan, ada tiga toilet umum, dua di antaranya di Jalan Malioboro dan satunya di dekat tempat parkir Abu Bakar Ali.


Menurutnya, memang toilet umum di sekitar Jalan Malioboro tidak banyak. Ia menambahkan ada baiknya toilet umum ditambah. "Mbok ditambah karena kan semakin banyak toilet makin memudahkan wisatawan," ucapnya.

Per 600 Meter Harus Ada Toilet

Dalam pengembangan tempat wisata, ada tiga aspek yang harus terpenuhi, yaitu daya tarik wisata, akses, dan amenitas. Minimnya toilet umum di Malioboro, bisa menjadi masalah. Sebab, layanan itu kurang merata.


Sebaiknya dari Stasiun Tugu hingga Titik Nol Km ada toilet per 600 meter," ujar pengamat perkotaan dan dosen Departemen Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik UGM Ikaputra saat dimintai tanggapan Radar Jogja (4/6).


Menurut Ikaputra, harus adanya suatu layanan informasi yang mudah diakses oleh wisatawan dan masyarakat. "Itu membuat orang yang berkunjung tahu kalau ada layanan toilet di tempat tersebut," kata kepala Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM ini.


Dikatakan, toilet yang ideal di tempat umum atau wisata harus bisa digunakan buat semua orang, termasuk difabel. Selain itu juga harus berfungsi dengan baik.


"Kalau untuk difabel ruang geraknya harus disesuaikan dan ada fasilitas-fasilitas yang sesuai. Kalau untuk ibu-ibu, harus bisa buat mengganti popok anaknya. Dan itu sudah ada di aturan Permen PU dan Perda tentang peraturan bangunan dan lingkungan," jelasnya.


Ia menjelaskan, ukuran satu akses toilet untuk difabel biasanya bisa dua kali dua meter. Karena penyandang disabilitas banyak menggunakan alat-alat.


Sedangkan untuk yang umum, biasanya yang laki-laki hanya disediakan hanya orang dewasa atau tinggi. Dan itu seharusnya harus diadakan untuk anak-anak dengan desain anak dan dewasa. "Itu harus diadakan standar toilet untuk semua orang," jelas Ikaputra.


Ia juga menjelaskan harus ada pendidikan untuk menggunakan fasilitas publik seperti toilet umum. "Kadang juga ada orang yang kencing sembarangan hingga menyebabkan ada sudut kota yang bau pesing dan membuat orang tidak nyaman," terangnya.


Ditambahkan, untuk toko-toko atau mal di sekitar Malioboro, akses toiletnya itu boleh atau tidak untuk dipakai umum. "Jika diperbolehkan maka harus dikasih informasi juga. Ini bisa membantu para wisatawan juga," katanya


Ikaputra berharap seharusnya di Malioboro memiliki fasilitas toilet yang lebih bisa diakses dengan gampang oleh masyarakat dan pengunjung. "Ya, setidaknya per 600 meter harus ada satu toilet," tandasnya. (cr1/cr2/cr3/laz)

Editor : Satria Pradika
#toilet #Titik Nol KM #wisatawan jogja #Stasiun Tugu Jogja #Malioboro