Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Harus Perhatikan Aspek Spiritualitas

Editor Content • Selasa, 6 Juni 2023 | 14:41 WIB
RAMAI: Pada kajian lapangan terbuka, para pengunjung, baik domestik maupun mancanegara diperbolehkan naik ke struktur Candi Borobudur dengan sejumlah ketentuan. Termasuk penggunaan sandal upanat dan pendampingan dari pemandu wisata.(NAILA NIHAYAH/RADAR JO
RAMAI: Pada kajian lapangan terbuka, para pengunjung, baik domestik maupun mancanegara diperbolehkan naik ke struktur Candi Borobudur dengan sejumlah ketentuan. Termasuk penggunaan sandal upanat dan pendampingan dari pemandu wisata.(NAILA NIHAYAH/RADAR JO
RADAR JOGJA - Pengembangan Candi Borobudur di Kabupaten Magelang tidak hanya dilihat dari aspek pariwisata saja. Melainkan juga harus memperhatikan aspek sejarah, konservasi, dan spiritualitas. Dengan demikian, ketiga aspek tersebut dapat mendukung Borobudur sebagai pariwisata berkelas dunia.

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo menuturkan, komitmen mengawal ketiga aspek itu tertuang dalam perjanjian antara Kementerian BUMN, Kemendikbudristek, Kementerian Agama, Kemenparekraf, dan Gubernur Jawa Tengah. Dia juga mengajak seluruh elemen masyarakat agar turut menjaga kelestarian Candi Borobudur.

Dengan begitu, ketiga aspek tersebut benar-benar dapat dioptimalkan secara maksimal. "Untuk kesejahteraan masyarakat dan spiritualitas dari umat Buddha di Indonesia dan Dunia," terang Kartika dalam Dharmasanti Waisak 2567 BE di Taman Lumbini, kompleks Candi Borobudur, Minggu malam (4/6).

Perjanjian itu, kata dia, berisi komitmen untuk menjadikan Borobudur sebagai satu kawasan wisata yang memperhatikan aspek heritage atau kesejarahan. Kemudian, harus ada konservasi yang baik dan memperhatikan aspek spiritual. Yang mana, Borobudur menjadi pusat spiritual umat Buddha di Indonesia dan dunia.

Pada kesempatan itu, Kartika juga terkesan dan mengapresiasi para biksu yang menjalani ritual Thudong dari Thailand ke Indonesia. Dia juga berterima kasih kepada masyarakat lantaran memberikan respons positif dan menyambut rombongan biksu dengan welas asih.

Hal tersebut dapat memberikan efek positif dan akan membawa Candi Borobudur dikenang sebagai bagian dari keharmonisan umat beragama di Indonesia. Selain itu, juga menjadi saksi jati diri bangsa Indonesia yang sesungguhnya. Yakni bangsa yang menjunjung sila Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Menteri BUMN Erick Thohir bakal terus memastikan, aset-aset yang dikelola BUMN dapat bermanfaat. Termasuk Candi Borobudur yang merupakan sebuah aset tidak ternilai. Untuk itu, BUMN akan terus menjaga keseimbangannya. Tidak hanya dari aspek pariwisata saja, tapi juga spiritual, pendidikan, dan sejarahnya.

Dia tidak ingin, nilai spiritual Candi Borobudur hilang begitu saja seiring pesatnya dunia pariwisata. "(Aspek) spiritual Borobudur jangan sampai hilang, hanya (menyisakan) wisata saja. Di sini tempat kita mendapat pendidikan dan sejarah. Mudah-mudahan kita bisa menjaga dan merawatnya," lontarnya.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno menuturkan, Candi Borobudur merupakan wisata religi dunia. Ditambah wisata tersebut mengusung semangat dalam menjaga kerukunan dan menyatukan keberagaman suku, budaya, hingga kepercayaan.

Dia menyebut, perayaan Waisak di Candi Borobudur ini mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar. Hal itu terbukti dengan banyaknya tamu yang menginap di balkondes, hotel, maupun homestay. Bahkan, okupansinya mencapai 100 persen. Termasuk para pelaku UMKM yang kebanjiran berkah dari Waisak.

Daya tariknya diperlihatkan saat kedatangan biksu Thudong. Geliat pariwisata dan ekonomi kreatif mulai meningkat. "Saya yakin akan membawa semangat kita untuk kebangkitan di mana harapannya ekonomi Indonesia semakin baik," paparnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengutarakan, ketiga aspek yang dituangkan dalam perjanjian komitmen tersebut menjadi bagian dari mimpi besar yang selama ini belum dieksekusi. "Saya ingat 10 tahun yang lalu, saya sampaikan, ada orang datang ke Borobudur punya keinginan.

Sebagain besar adalah ingin wisata, tapi sebagian lagi ingin ibadah," katanya.
Untuk itu, pengelolaan Candi Borobudur sebagai kawasan wisata juga harus memperhatikan aspek spiritualitas. Karena dia menilai, banyak pengunjung yang datang untuk beribadah. "Kebutuhan semua orang yang datang ke Borobudur harus difasilitasi dengan baik," ujar Ganjar. (aya/bah/sat) Editor : Editor Content
#Candi Borobudur #Magelang