Memaknai Borobudur tak hanya sekadar candi saja. Justru keberadaannya bisa dipakai sebagai inspirasi berkarya. Seperti pelukis asal Borobudur, Easting Medi, 47. Pikirannya selalu tertuju pada rupa Buddha yang membuatnya terpana. Hingga ia berhasil mencipta ratusan karya lukis dengan rupa Buddha sebagai objek utamanya.
NAILA NIHAYAH, MUNGKID, Radar Jogja
Borobudur acapkali dijadikan sebagai objek untuk melahirkan karya seni yang ciamik. Hal itu membuat para pelukis tak bosan merekam Borobudur secara realistik, simbolik, hingga abstraksionistik. Dalam perspektif pasar pun, lukisan bertema Borobudur kerap diburu dan tak pernah sepi dari industri suvenir.
Ismedi, 47 atau yang dikenal dengan nama Easting Medi menjadi satu pelukis yang tak pernah bosan melukis Borobudur. Bahkan, ia kerap mengolaborasikan elemen Borobudur dengan dunianya dan lingkungan sekitar. Khususnya keindahan alam.
Perjalanannya tidak mudah. Untuk menjadi pelukis rupa Buddha, ia harus melewati masa di mana ia berjualan kaca lukis di Terminal Borobudur. Saat itu, ia masih duduk di bangku SMA. Dari potongan kaca, ia lukis pemandangan alam menggunakan cat air. Bisa juga ditambah kata-kata bijak atau ucapan ulang tahun.
Lantas, sekitar 1995, ia tertarik mengikuti pameran lukisan yang diadakan Taman Wisata Candi (TWC) Unit Borobudur. Ada rasa bangga menyeruak di dalam hatinya saat mengikuti pameran. Semangatnya semakin terpacu untuk melahirkan karya-karya seni lainnya. Ia terus belajar dan menempa ilmu dengan para seniman lain.
Pada akhirnya sekitar 2012 hingga sekarang, ia memutuskan untuk melukis rupa Buddha. Konsepsi yang terbaca dari lukisannya adalah soal romantika masa kanak-kanak. Sebagai pelukis yang lahir dan tumbuh di kawasan Borobudur, sudah barang tentu ia kerap mengunjungi Candi Borobudur. Mengamati relung-relung relief dan stupa dari kejauhan. Sembari berteduh di bawah pohon Bodhi, gagasannya penuh. Seolah rupa Buddha memenuhi pikirannya.
Memori itu terekam hingga dewasa. Ketika melihat rupa Buddha dan melukisnya, rasanya seolah menguak masa kanak-kanaknya yang menyenangkan. "Itu yang menjadi alasan kenapa saya melukis tema tentang rupa Buddha. Ditambah daun Bodhi karena merupakan satu kesatuan," lontarnya saat ditemui (10/5).
Karya-karya yang dihadirkan bergaya realistik. Teknik melukisnya semi-pointilistik ditambah tumpang tindih warna datar (flat). Objek yang dilukis adalah rupa Buddha. Sesekali ia memakai bahan melukis dari alam; kunyit. Juga memakai bahan sintetik pada umumnya; cat akrilik.
Sudah ada ratusan karya lukis yang ia buat. Lukisan-lukisannya menambah wacana lain sebagai manifestasi isu lingkungan atau alam sekitar, pelestarian Borobudur, dan sejarah individu. Isu itu terletak pada upaya untuk merekam kesetaraan antara buah pemikiran atas hobinya pada tanaman.
Pada 2020, saat pandemi melanda, ia kehabisan cat akrilik maupun cat air. Di satu sisi ia harus terus melukis. Ternyata, di rumah ia menanam empon-empon seperti kunyit, temulawak, kencur, dan lainnya. Hingga terlintas dalam benaknya untuk mengolaborasikan alam dengan rupa Buddha.
Setelah dicoba dan beberapa kali gagal, ia akhirnya menemukan formula yang cocok. Agar empon-empon itu bisa menyatu dengan kanvas. Sedangkan di tahun 2021 sampai April 2023, ia memakai acuan tanaman hias di rumah. Seperti tanaman aglonema. "Saya jadikan sebagai inspirasi warna untuk rupa Buddha. Hasilnya warna-warni," bebernya.
Sejak fokus melukis rupa Buddha pada 2012 hingga sekarang, sudah ada banyak kolektor dari mancanegara yang menyambangi dan membeli lukisannya. Dengan harga dan ukuran berbeda. Seperti Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand. Untuk negara Eropa seperti Swiss, Amerika Serikat, Prancis, London, Belanda, Spanyol, dan lainnya.
Selama perjalanannya itu, Easting Medi memutuskan menggelar pameran tunggal. Dalam pameran yang bertajuk ''Light Up the Soul" itu ada 58 karya dengan rentang perjalanan selama 23 tahun, 2000-2023. Karya lama sebagai bukti perjalanannya. Total ada 10 karya baru yang dilukis pada 2022.
Pameran berlangsung sejak 5 Mei hingga 6 Juni 2023, kebetulan bertepatan dengan momentum Tri Suci Waisak 2567 BE. Lukisan yang dipamerkan pun bermacam-macam ukuran. Kebermanfaatan dan fungsi lukisan fokus pada upaya pelestarian dan pengungkapan sejarah. Ditambah tujuan memberikan spirit tentang suasana hari ini.
Sementara itu, pemilik Limanjawi Art House Umar Chusaeni memandang, pameran tunggal milik Easting Medi ini menarik. Keberadaan Candi Borobudur yang dilihat dari sisi fisik dapat menjadi inspirasi bagi para pelaku seni.
Terlebih, apa yang tengah dipamerkan berupa rupa Buddha tidak hanya sekadar monumen mati. Atau satu bangunan yang terdiri dari batu saja. Melainkan diolah menjadi karya seni modern yang divisualkan di atas kanvas.
Ia berharap para seniman lain dapat menampilkan Borobudur menjadi suatu karya seni beragam. "Saya melihatnya (Candi Borobudur) indah. Tapi ketika divisualkan ke kanvas dengan sudut pandang Eating Medi sebagai pelukis, bisa muncul keindahan lain," ungkapnya. (laz) Editor : Editor Content