Dengan begitu, elisator ini dapat berfungsi memberikan sinyal positif pada tanaman agar bereaksi memunculkan sel-sel hebat serta meningkatkan hormon. Bio-Saka ini digerakkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) mulai 2022. “Ditemukan oleh seorang petani muda dari Blitar pada 2006,” ujar Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpangan) Kabupaten Magelang Ade Sri Kuncoro Kusumaningtiyas, Selasa (14/3).
Ade menyebut, di Kabupaten Magelang, pemanfaatan Bio-Saka sudah dilaksanakan oleh beberapa Balai Penyuluh Pertanian (BPP) di kecamatan. Termasuk BPP Kecamatan Secang yang telah mengaplikasikannya lewat tanaman cabai. Semula, Ade pun belum begitu percaya soal Bio-Saka untuk tanaman. Namun, setelah diaplikasikan untuk kegiatan budidaya anggur, dalam kurun waktu antara satu hingga dua minggu, anggur tersebut dapat berbuah banyak.
Dia mengatakan, Bio-Saka ini memiliki kandungan tertentu yang baik untuk perkembangan tanaman. Kendati begitu, kata dia, Bio-Saka ini bukan sebagai pengganti pupuk. Tetapi, menjadi salah satu media untuk meminimalisir penggunaan pupuk kimia bersubsidi. “Yang muaranya dapat beralih ke (media) alam,” terangnya.
Untuk membuat Bio-Saka, warga harus mencari tanaman liar di sekitar. Kemudian, dibersihkan agar tidak ada kotoran yang mengganggu. Setelah itu, dipilah dan diberi larutan air. Lalu, tanaman itu diperas dan hanya dimanfaatkan air perasannya. (aya/bah) Editor : Editor Content