Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hok An Kiong Punya Hiolo Terbesar se-Asia Tenggara

Editor Content • Selasa, 17 Januari 2023 | 16:23 WIB
BERSEJARAH: Di dalam Kelenteng Hok An Kiong di Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang terdapat tempat abu terbesar se-Asia Tenggara.(Naila Nihayah/Radar Jogja)
BERSEJARAH: Di dalam Kelenteng Hok An Kiong di Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang terdapat tempat abu terbesar se-Asia Tenggara.(Naila Nihayah/Radar Jogja)
RADAR JOGJA - Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hok An Kiong di Muntilan, Kabupaten Magelang memiliki satu keistimewaan. Kelenteng yang berada di Jalan Pemuda ini memiliki hiolo atau tempat abu dupa terbesar se-Asia Tenggara. Tempat itu berbahan perunggu berlapis kuningan dengan berat 5,8 ton.

Ketua Umum TITD Hok An Kiong Muntilan Budi Raharjo menyebut, tempat abu dupa tersebut memiliki berat 5,8 ton, diameter 178 sentimeter, dan tinggi 158 sentimeter. Tempat dupa ini dibuat pada 2002 dan dipesan dari Tiongkok. Lantaran orang Indonesia belum bisa membuatnya.

Tempat abu dupa itu berbentuk bulat diapit dua naga di kedua sisinya. Yang diletakan di pintu utama bagian tengah dari kelenteng. "Kalau di Kelenteng Muntilan, ada satu keistimewaan, (yaitu) tempat untuk menancapkan dupa terbesar di Asia Tenggara," bebernya, kemarin (16/1).

Dia menjelaskan, hiolo ini berfungsi sebagai media komunikasi dengan Maha Pencipta. Hingga kini, tempat abu dupa tersebut masih kokoh dan digunakan oleh masyarakat etnis Tionghoa untuk memanjatkan doa.

Budi menuturkan, kelenteng ini dibangun pada 1871 dan direnovasi pada 1906. Pada 2015, kelenteng itu mulai dibangun gapura besar setinggi lebih dari 30 meter. Di dalam kelenteng, terdapat altar utama tempat patung dewa bumi Khongco Hok Tik Kimcing.

Menjelang Hari Raya Imlek 2574, kata dia, ada tradisi pembersihan rupang maupun altar. Di sana, terdapat 15 altar dan 80-an rupang atau kiem sin, serta miliki 63 dewa. "Di sini, ada tempat tolak balak. Di Indonesia jarang yang ada (punya banyak dewa), cuma yang komplet di Muntilan. Bahan dari kayu yang dipesan dari RRC," jelasnya.

Setelah berlangsung upacara Sang An atau Toa Pekong naik pada Minggu (15/1), para umat mulai membersihkan altar, rupang, dan seluruh sudut di kelenteng. "Dewa-dewa pada naik ke kahyangan. Berarti nggak ada ruh di dalam kelenteng. Nah, itu waktunya kami membersihkan semua," imbuhnya.

Budi mengatakan, pembersihan tersebut bertujuan agar rohani setiap umat bersih, tidak ada gangguan saat beribadah, dan banyak rezeki. Setelah bersih, para umat juga akan melakukan sembahyang lagi, memohon agar para dewa kembali menempatinya.

Di kelenteng ini, juga terpasang foto Presiden RI keempat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Foto tersebut merupakan pemberian dari MWC NU Kecamatan Muntilan pada momentum Imlek tahun lalu dan bertepatan dengan Harlah NU ke-96.

Foto itu menempati satu ruangan khusus. Hal ini sebagai penghormatan atas jasa Gus Dur kepada warga Tionghoa. Budi menganggap, sosok Gus Dur merupakan Bapak Tionghoa. "Kita ngasih altar supaya didoakan. Supaya di Indonesia tidak ada diskriminasi lagi atau biar bagus. Terus kami punya inisiatif untuk berdoa, yang mau berdoa ya monggo," jelasnya.

Untuk atraksi barongsai, kata dia, tahun ini masih ditiadakan. Belum ada kegiatan khusus. Hanya dilakukan ritual-ritual. Sedangkan rangkaian kegiatannya, sama seperti tahun lalu. "Kalau pesta kembang api, kan kita mesti pakai izin. Kami belum tahu nanti gimana," sambungnya. (aya/bah) Editor : Editor Content
#Magelang #kelenteng