Biasanya ramen dijajakan di tempat-tempat bernuansa vancy atau di pusat perbelanjaan. Namun, di Wedomartani, Ngemplak, Sleman ada warung ramen yang digelar di halaman rumah. Sapporo Ramen namanya. Warung ini bahkan dinilai menjadi warung ramen soup pertama di Jogjakarta. Sapporo Ramen dikelola langsung oleh pemiliknya yakni Donny Hendarto.
Jangan salah, meski hanya menjajakan ramen di halaman rumahnya, Donny yakin cita rasa ramen buatannya tak kalah dengan yang dijual di tempat mewah. Ini karena pengalaman Donny yang pernah menjadi seorang chef makanan Jepang di sebuah ramen shop di Bali selama bertahun-tahun beberapa waktu lalu.
"Selama 5 tahun saya menjadi koki Jepang di Bali. Lalu ke Jogja bekerja dengan orang sampai akhirnya buka sendiri. Awalnya saya buka di Jalan Kalurang sejak 2007. Masih malu-malu, ragu beneran bisa atau tidak. Setelah buka, tiga tahun pertama ternyata responnya luar biasa. Sampai saya di sana punya tiga karyawan," jelasnya saat ditemui di Sapporo Ramen, Senin (19/12).
Meski hanya berjualan di depan rumah, bagi Donny rasa adalah nomor satu. Dia membuat ramen dengan bahan-bahan yang berkualitas. Bahkan untuk menjaga kualitas rasa, beberapa bahan masih diimport langsung dari negara asalnya. Salah satunya nori atau rumput laut kering.
Beberapa bahan juga dia racik sendiri, misalnya mie ramen. Donny mencari dan meracik sendiri takaran tepung dan bahan lainnya untuk menciptakan mie yang bertekstur kenyal dan tidak mudah putus. Selain itu, ada juga shoyu atau kecap asin khas Jepang yang dia racik sendiri.
Racikan ini memiliki alasan tersendiri. Menurutnya jika membeli langsung dari Jepang harganya tak terjangkau. Untuk itu dia meracik kecap asin biasa dengan komponen bumbu lainnya sehingga tercipta rasa shoyu yang tak jauh berbeda dengan yang asli dari Jepang.
"Ada juga mitsukan (cuka Jepang). Orang Jepang sendiri tidak mau bawa dari Jepang langsung. Dibuat di sini ternyata lebih enak dengan cuka-cuka di Indonesia," katanya.
Usai pindah ke Ngemplak, awalnya Donny merasa penjualan tak seramai saat di Jalan Kaliurang dulu. Lokasinya yang lebih jauh dari pusat kota cukup menyulitkan pelanggan setianya untuk datang ke Sapporo Ramen. Namun, seiring dengan masif nya penggunaan sosial media dan banyaknya review oleh para food vlogger, kini nama Sapporo Ramen kembali terdengar.
Saat ramai pengunjung, Donny bahkan sampai harus menyiapkan kursi dan bangku tambahan. Dalam sehari, sebanyak 5 kg mie ludes terjual. Ada belasan menu ramen dan berbagai menu gorengan serta makanan Indonesia di Sapporo Ramen.
Selain itu ada juga menu nasi yang bisa menjadi pilihan. Harganya terbilang ramah di kantong, mulai dari Rp 18 ribu hingga Rp 28 ribu per porsi.
"Untuk menu best sellernya yaitu Shoyu Ramen. Harganya dulu Rp 8 ribu sekarang Rp 19 ribu mengikuti kenaikan harga bahan pokok. Menu andalan kedua adalah Miso Ramen. Miso itu fermentasi kedelai. Lainnya ada chasiu, jjampong, nagasaki jjampong, dan lain-lain," ujarnya sembari menunjuk daftar menu.
Rasa ramen buatannya yang tak diragukan lagi ini menjadikan salah satu pelanggan setianya terinspirasi untuk bekerja sama. Semua resep dan cara pembuatan dia ajarkan langsung kepada pelanggan setianya itu. Akhirnya, kini Sapporo Ramen buka cabang di selasar Malioboro.
"Awalnya saya baca draft kerja samanya dan tertarik. Saya usung nama saya dan Alhamdulillah direspon," katanya.
Bayu, salah satu pembeli mengaku baru pertama kali mampir ke Sapporo Ramen. Menurutnya kaldu ramen memiliki cita rasa yang sangat kuat, utamanya rasa gurih. Selain itu, mie ramen juga bertekstur kenyal.
"Ini baru pertama kali merasakan mie ayam ala Jepang dengan harga ekonomis. Menurut saya sangat menarik untuk dicoba. Kuahnya betul-betul gurih cocok dengan lidah orang Indonesia," kesannya. (isa/dwi) Editor : Editor News