Amin, petugas Depo THR mengatakan, kini Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul, memberlakukan buka tutup penerimaan armada sampah. Kota Jogja hanya diizinkan mengangkut sampah ke TPST yang overload itu tiga hari sekali.
“Sekarang tidak bisa setiap hari (melakukan pengangkutan sampah ke TPST Piyungan, Red). Jadi di sini menumpuk,” keluhnya kepada Radar Jogja saat menyeruput air es di angkringan sebelah Depo THR, Mergangsan, Kota Jogja.
Pria 30 tahun ini mengaku kesulitan. Dia belum menemukan solusi agar deponya resik dari sampah, saat dijadwalkan boleh mengangkut sampah ke TPST Piyungan. “Ini kesulitan, meski tutup tetap ada yang buang ke sini, ya dari kampung, ya dari perorangan. Katanya orang dinas juga lagi rapat,” ujarnya.
Saking peningnya, Amin membiarkan beberapa gerobak penuh sampah juga berjajar di luar depo. Menunggu operasional armada sampah yang datang ke depo untuk bisa diangkut ke TPST Piyungan. Kendati sadar Jogja meraup pendapatan dari pariwisata, Amin menyebut tidak ada prioritas bagi wilayah tertentu. “Nggak ada. Semua diberlakukan sama (dilarang membuang sampah ke Depo THR selain hari Senin dan Kamis, Red),” ucapnya.
Ia menyatakan, Depo THR sejatinya tidak memiliki daya tampung cukup, jika sampah ditumpuk lebih dari tiga hari. Sementara dia harus menahan sampah pada Jumat, Sabtu, Minggu, dan Senin. Padahal, depo ini masih menyimpan sampah dari tumpukan di hari Kamis (27/10) yang belum sempat terangkut.
Pengangkutan kala itu bahkan dibantu sebanyak tujuh armada sampah. “Dijatah tiga hari sekali buang ke atas (TPST Piyungan, Red), Tapi hari ketiga jatuh di Minggu. Ya, terpaksa buang Senin. Tapi, itu nanti bareng Sleman dan Bantul. Sudah sampah banyak, pas buang antre panjang,” ungkapnya.
Terpisah, Ketua Badan Promosi Pariwisata DIJ GKR Bendara mengklaim telah mewartakan kesadaran lingkungan pada wisatawan yang berkunjung ke Kota Gudeg. Wisatawan diminta untuk menerapkan sustainable dan responsible. “Mengedukasi wisatawan agar (jaga lingkungan, Red) sadar saat berwisata,” sebutnya.
Bendara juga mengatakan, edukasi telah dilakukan pula pada pengelola wisata. Mengambil contoh penanggulangan sampah yang diterapkan oleh Taman Pintar. Pengelolaan limbah bahkan jadi wahana edukasi baru di Taman Pintar. “Pengelolaan wisata dan sampah sangat luar biasa. Ini harus diedukasi pada pelaku wisata lainnya. Untuk bisa dicontoh,” lontarnya.
Selain Taman Pintar, GKR Bendara pun memuji pengelolaan sampah yang dilakukan di Tebing Breksi (Prambanan, Sleman) dan Mangunan (Dlingo, Bantul). “Yang besar sudah bagus, ter-support. Hanya tinggal yang kecil. Area yang banyak menggunakan plastik, wisatawan harus sadar untuk mengurangi. Jangan buang sampah sembarangan,” pesannya.
Sementara Carik Mangunan Dwi Eko Susanto mengungkap, kalurahannya membidik potensi BUMKal lewat pengelolaan sampah. Mesin pengelolaan sampah pun sudah dimiliki oleh Kalurahan Mangunan. Mesin seharga Rp 190 juta itu merupakan bantuan dari Dinas Pengendalian Penduduk KB Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPPKBPMD) Bantul.
Sebagai percontohan, Pemkal menunjuk Dusun Sukorame. Warga di dusun tersebut diberi pendidikan untuk memilih sampah. “Setiap warga memiliki karung sendiri (untuk berbagai jenis sampah, Red),” bebernya.
Guna memastikan BUMKal tetap berjalan, Pemkal Mangunan akan membuat peraturan. “Untuk mengatur secara khusus semua kawasan wisata, kami memiliki 10 titik objek wisata, yang di situ asupan sampahnya banyak. Kami wajibkan untuk bekerja sama,” paparnya. Selain itu, kelurahan juga menyasar rumah makan yang berlokasi di Mangunan. (fat/laz) Editor : Editor Content