Salah satu sosok pemuda menginspirasi itu adalah Mif Ardianata Pratama Putra. Dari bisnis start up yang digeluti, Mif mampu mencapai prestasi tinggi hingga ke membawanya jalan-jalan ke berbagai negara untuk mewakili Indonesia.
“Saya dari semester 3, semester 4 sudah merintis sebuah usaha kecil-kecilnya. Dan itu bertumbuh, berlanjut sampai sekarang. Sekarang dapat banyak banget penghargaan hingga pendanaan,” katanya saat dihubungi Radar Jogja kemarin (27/10).
Laki-laki 21 tahun yang masih aktif sebagai mahasiswa semester 7 di FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) ini memiliki peran penting di masyarakat melalui bisnis start up yang dinamainya Facile Multimedia, bergerak di bidang periklanan dan pemasaran. Bisnis yang dirintisnya sejak 2019 ini, di samping fokus pada produk fisik seperti papan nama, neonbox, banner, atau produk-produk fisik lainnya untuk promosi juga ke digitalisasi.
Fokus digitalisasi ini baru mulai pada tahun ini. “Bermula dari keresahan aku dan temanku. Ngerasa bahwa UMKM dan produk-produk lain yang ada di masyarakat di Jogja khususnya, masih kurang banget pemasarannya. Kayak branding-nya belum terlalu kuat. Akhirnya kami bantu mereka biar branding-nya lebih kuat dan produknya dikenal masyarakat,” ujar anak sulung dari tiga bersaudara.
Layanan yang diberikan melalui jemput bola, difokuskan pada UMKM yang tak mengenal sosial media. Pun layanan pemasaran melalui digitalisasi ini tak mematok harga, terpenting para UMKM dibantu pendampingan untuk memiliki sosial media seperti Instagram. Mengingat, perkembangan zaman teknologi saat ini yang semakin masif.
Mahasiswa berprestasi 1 FMIPA UGM 2022 itu tak ingin para UMKM tergerus oleh zaman dalam pemasaran. “Satu persatu kita dampingi mereka pelan-pelan, caranya buka Instagram dan buat akun, take foto produknya kita desainkan, kita upload ke sosial media,” jelasnya.
Hingga saat ini ada sekitar 15-20 UMKM yang sudah didampingi dan dibantu untuk memasarkan produknya lewat sosmed. Mereka di antaranya penjual jadah tempe, perajin perak, dan masih banyak lainnya.
Dari program itu, dampak yang dirasakan UMKM diklaim cukup signifikan. Salah satu yang utama dirasakan adalah kenaikan omzet hampir 200 persen. Kemudian akses penjualan yang semakin luas.
“Dua kali lipat omzetnya. Misal biasanya hanya 10 loyang itu sampai 20, 30 loyang setiap bulan. Dan akhirnya penjualan juga bisa menjangkau luas, yang biasanya hanya di wilayah mereka saja,” terangnya.
Dampak lain dapat membuka lapangan kerja baru dengan pemberdayaan warga sekitar. “Intinya, harapan kami bukan hanya UMKM tapi kampungnya bisa jadi kampung yang mandiri karena punya industri UMKM dan tenaganya sendiri,” tambahnya.
Selain itu, bisnis start up yang dirintisnya di Jalan Ki Penjawi 39, RT 26, RW 08 Rejowinangun, Kotagede, Jogja, itu juga memiliki program sociopreneur untuk kalangan siswa dan mahasiswa. Antusias pendaftar cukup tinggi, mencapai 253 pendaftar. Mereka selain dari Indonesia, juga Jepang, Tiongkok, Malaysia, Singapura, dan India. “Antusiasnya ini sampai mancanegara,” ungkapnya.
Dari apa yang telah dilakukannya, mengantarkan pada pencapaian kesuksesan. Salah satunya mendapat pendanaan usaha, di antaranya dua pendanaan langsung dari Kemendikbud Ristek sebagai perwakilan dari UGM pada tahun ini. Dan tiga pendanaan PMW UGM, 1 pendanaan Kemenpora, dan dua Pameran Usaha KMI Expo.
Selain itu ia juga diutus sebagai perwakilan UGM untuk berdialog tentang wirausaha dengan Mendikbud Ristek Nadiem Anwar Makarim di Jakarta. “Sama dapat titel mahasiswa beprestasi FMIPA UGM berawal dari bisnis yang aku rintis diawal 2019. Sampai sekarang bisa dapat berbagai pencapaian itu,” ujarnya.
Tak hanya itu, pencapaian lain meliputi Awardee Beasiswa Indonesia Maju Kemendikbudristek, Juara 1 Lomba Jurnalistik, Juara 2 Internasional Student Entrepreneurship, Juara 2 Talent Pitching CHUB, Juara 3 Sociopreneur Muda Indonesia, Juara 3 National Bridging Program ASEAN-Korea Youth Summit, Delegasi Indonesia (fully funded) ke Harvard dan MIT, dan Delegasi Indonesia di Asia-Africa Studies. (wia/laz) Editor : Editor Content