Fenomena tersebut akhirnya mengundang rasa penasaran banyak orang dari berbagai daerah untuk mendatangi bekas tambang galian C itu beberapa hari terakhir. Lantaran sekadar ingin memastikan kebenaran adanya fenomena tersebut.
Ema Oktaviani, warga Srumbung sekaligus penjaga warung di dekat danau membenarkan adanya fenomena itu. Semula, dirinya tidak mengetahui adanya tumbuhan yang memenuhi danau itu hingga menyebabkan airnya berwarna merah.
Dia baru mengetahui usai banyak orang yang berdatangan dari luar daerah menanyakan danau tersebut. Orang tuanya pun tidak mengetahui hal itu. “Saya tahunya dari orang-orang yang tanya danau itu. Terus dikasih tahu bapak, kalau danaunya berwarna merah. Saya ikut penasaran dan naik untuk memastikan,” ujarnya saat ditemui (15/4).
Selain dari sekitar Magelang, kata Ema, banyak pula orang yang datang dari Jogja dan Klaten. Mereka rela menempuh waktu berjam-jam demi memastikan adanya fenomena itu. Padahal, akses jalan menuju Dam Bego Pendem kurang memadai, lantaran digunakan sebagai jalur truk yang memuat pasir dan batu.
Dia menceritakan, danau itu berwarna merah karena dipenuhi tumbuhan yang memenuhi area Dam Bego Pendem bagian atas. Kemudian terus berkembang dan bermuara ke Dam Tingkir yang berada di bawahnya hingga memenuhi seluruh permukaan air. “Saat ini sebagian sudah mulai turun lagi terbawa arus ke bawah, masuk ke Dam Kelapa,” tambahnya.
Dia mengaku tidak tahu pasti jenis tumbuhan tersebut. Entah jenis alga ataupun jamur. Bahkan fenomena itu merupakan kali pertama ada sejak orang tuanya mendirikan warung kecil di sana. “Selama lima tahun saya berjualan di sini, baru kali ini ada fenomena ini,” paparnya.
Sementara itu, salah seorang sopir truk pasir yang akrab disapa Mbek menuturkan, fenomena itu juga merupakan kali pertama dilihatnya. Kendati demikian, dia mengaku tidak tahu jika fenomena tersebut viral di media sosial hingga membuat banyak orang datang.
Dia pun mengatakan tidak sepenuhnya memperhatikan perkembangan tumbuhan yang kini memenuhi semua danau. “Selama di sini malah tidak terlalu memperhatikan. Saya kira ya biasa saja, kaya lumut gitu,” tuturnya.
Belum ada penelitian lebih lanjut tentang jenis tumbuhan tersebut. Sejauh ini hanya dibiarkan saja oleh masyarakat sekitar dan para penambang pasir di sana. Sehingga dalam kurun waktu cepat, tumbuhan ini berkembang memenuhi area danau buatan bekas tambang pasir itu. “Kalau alirannya deras, ya buyar,” katanya. (aya/naf/laz) Editor : Editor Content