JOGJA, 21 Maret 2026 – Inovasi energi terbarukan kembali muncul dari Korea Selatan. Para peneliti berhasil mengembangkan panel surya transparan berbasis material perovskite yang bisa dipasang langsung pada jendela biasa tanpa mengubah tampilan estetika bangunan.
Menurut laporan dari Interesting Engineering yang viral di platform X, panel surya jenis ini mampu menyerap sinar ultraviolet (UV) dan inframerah untuk menghasilkan listrik, sementara cahaya tampak (visible light) tetap bisa tembus hingga lebih dari 80%. Hasilnya, ruangan tetap terang alami seperti menggunakan kaca biasa, tapi gedung atau rumah bisa memproduksi listrik sendiri.
Peneliti di Ulsan National Institute of Science and Technology (UNIST) mencatatkan efisiensi konversi daya mencapai 12,7% – angka yang cukup kompetitif untuk teknologi transparan. Inovasi ini dipublikasikan di jurnal Joule akhir 2025 lalu dan langsung menuai perhatian dunia karena potensinya mengubah gedung pencakar langit, perkantoran, hingga rumah tinggal di kota-kota besar seperti Yogyakarta menjadi bangunan net-zero energy atau mandiri energi.
Potensi Besar untuk Kota Jogja yang Padat
Di Yogyakarta yang kini semakin banyak bangunan vertikal dan kawasan heritage yang dilindungi, teknologi ini bisa menjadi solusi ideal. Jendela rumah joglo modern, hotel, kampus, atau mal bisa sekaligus berfungsi sebagai pembangkit listrik tanpa merusak keindahan arsitektur tradisional maupun pemandangan kota.
Beberapa keunggulan utama yang disoroti:
Transparansi >80% → tidak mengganggu pencahayaan alami
Efisiensi 12,7% → lebih baik dari kebanyakan panel surya transparan sebelumnya
Integrasi mudah pada kaca existing → cocok untuk renovasi gedung lama di Jogja
Ramah lingkungan → mendukung target energi bersih nasional dan daerah
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meski menjanjikan, netizen di kolom balasan utas X tersebut mengingatkan beberapa hal realistis:
Biaya produksi masih lebih mahal dibanding panel surya konvensional
Efisiensi keseluruhan lebih rendah dibanding panel opaque (biasanya 20–25%)
Skalabilitas produksi massal masih perlu dikembangkan agar harganya kompetitif
Beberapa pengguna bahkan membandingkan dengan teknologi serupa di Jepang yang sudah mulai membangun gedung pencakar langit dengan jendela surya. Namun, inovasi dari UNIST ini dinilai lebih unggul dalam hal tingkat transparansi dan estetika.
Langkah Selanjutnya di Indonesia?
Para ahli energi memperkirakan teknologi ini bisa mulai diadopsi secara komersial dalam 3–5 tahun ke depan jika proses manufaktur semakin murah. Bagi Jogja, ini bisa menjadi peluang besar bagi pengembang properti, arsitek, dan pemerintah daerah untuk mewujudkan konsep green building yang lebih masif. (iwa)
(Sumber: Interesting Engineering via X, jurnal Joule (Desember 2025), dan diskusi publik di platform X)
Editor : Iwa Ikhwanudin