Rumah Kost bagi Soekarno, Semaoen, Alimin, Musso dan SM Kartosuwiryo
RUMAH Raden Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto di Jalan Peneleh VII No 29-31 kini menjadi ikon bersejarah. Selain bangunanya masih asli, dari rumah inilah para pendiri bangsa nyantrik, dididik belajar, berdiskusi tentang nasib bangsanya di bawah penjajahan dan bagaimana membebaskannya. Semua topic itu dibahas di kost di rumah Tjokroaminoto. Tepatnya, kamar loteng berukuran 4x6 yang pengab, tak berjendela. Ada Soekarno, SM Kartosuwiryo, Musso, Semaoen, Alimin dan tokoh pergerakkan lainnya masa itu.
Dari rumah kost Tjokroaminoto kelak lahirnya tokoh kharismatik Bung Karno yang berhasil memproklamirkan Kemerdekaan RI bersama Bung Hatta. Sementara tiga tokoh lainnya menempuh jalan berbeda sebagai pemberontak. Kartosuwiryo mendirikan Negara Islam Indonesia (NII), Musso terlibat pemberontakan PKI Madiun tahun 1948. Begitu juga Alimin dan Semaoen memilih aliran kiri PKI.
***
SABTU pagi itu (21/4/2018) rumah Haji Omar Said (HOS) Tjokroaminoto di Peneleh VII No29-31 masih tutup. Pagar halaman terkunci rapat. Dua kali penulis mengitari kampong belum juga buka. Penulis manfaatkan ke Masjid Jami’ di Peneleh V dan ke rumah kelahiran Bung Karno di Pandean IV yang lokasinya masih di seputaran Peneleh. "Kami buka terlambat karena ikut upacara Hari Kartini. Teman saya satunya masih di lokasi upacara," kata Januar, petugas jaga rumah HOS Tjokroaminito.
Sehari hari rumah HOS Tjokroaminoto dijaga dua petugas dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkot Surabaya sebagai pemandu pengunjung. Rumah HOS Said Tjokroaminoto dibangun 1870 bernunsa Jawa klasik itu begitu sederhana. Luasnya hanya 8x11 meter. Ruang utama dilengkapi empat pilar kayu jati sebagai menyokong atap. Bagian depan ada pagar setinggi satu meter. Itu cirri khas rumah lawas sekitar kawasan Peneleh yang hanya berjarak 500 meter dari Tugu Pahlawan Surabaya.
Kesan kuno terlihat dari lantai keramik berupa tegel lawas kuning kecoklatan bercampur merah marun. Ukuran tegel kecil hanya 20 cm x 20 cm. Saat ini mungkin tegel semacam itu sudah tidak dijual lagi di pasaran.
Di halaman belakang rumah HOS Tjokroaminoto sebenarnya masih ada sisa tanah kosong. Panjangnya lima meter. Dulu kabarnya dipakai tambatan kuda Bung Karno yang memenangkan suatu perlombaan berbonus kuda. Tapi sekarang dipakai bangunan SDMuhamadiyah.
Di pintu masuk ada tulisan besar–besar ‘Rumah Hadji Said Tjokroaminoto’ dibingkai apik. Layaknya sambutan selamat datang bagi pengunjung. Sekaligus penjelasan singkat sejarah rumah Tjokroaminoto menggunakan dua bahasa; Indonesia dan Inggris.
Intinya, si empunya rumah seorang tokoh pergerakan dan pemimpin organisasi besar. Yakni, Sarikat Islam (SI). Rumahnya dipakai indekost dan diskusi para tokoh pergerakan nasional. Sebut saja, KHAhmad Dahlan pendiri Muhamadiyah, KH Mansyur, Darsono, Tan Malaka, Ernest Douwes Dekker, K.H AgusSalim dan tokoh pergerakan lainnya.
Sebagaian tokoh pergerakan indekost, nyantrik dan berguru kepadaTjokroaminoto di rumahnya. Para tokoh itu Soekarno, Semaoen, Alimin, Musso dan SM Kartosuwiryo. Mereka murid murid Tjokroaminoto yang bergelar "Raja Jawa Tanpa Mahkota".
Berada di rumah yang terbagi dalam beberapa zone itu, pengunjung seolah larut di masa hidup Tjokroaminoto. Di zone ruang tamu sebelah kiri berisi gambar foto dan dokumen perjalanan Tjokroaminoto sebagai pemimpin pergerakan Serikat Islam dan Ketua Partai Serikat Islam Indonesia (PSII). Juga ada klipingan koran terbitan masa itu.
Agak ke belakang dipajang foto murid murid yang indekost di rumah Tjokroaminoto. Ada foto Soekarno, Semaoen, Alimin, Musso dan SM Kartosuwiryo.
Ada empat kursi kuno berbahan jati lengkap mejanya tersusun rapi di ruang tamu utama. Sebuah rak peralatan rumahtangga dari kayu jati ada di dekat, kursi tamu. Di atas rak terpacak lima foto lawas beragam aktivitas HOS Tjokroaminoto semasa aktif di Sarikat Islam (SI).
Di tembok ruang tamu sebelah kanan tergantung foto tokoh nasional yang kerap berdikusi di rumah Tjokroaminito. Mereka adalah Haji Saman Hoeddhi pendiri Serikat Dagang Islam (SDI), Tan Malaka, KHMansyur, KH Ahmad Dahlan, KH Agus Salim sampai Ernest Douwes Dekker.
Di belakang ruang tamu ada kamar tidur utama Tjokroaminoto dan istri berukuran 3x4 meter lengkap kelambu putih. Kamar anak anak Tjokro satu deret. Paling belakang dapur. Sedangkan kamar Soekarno dan tokoh yang kost berada di loteng. Tangga vertical hampir tegaklurus sekarang diganti besi sangat sempit berada paling belakang sebelah kanan pojok. Cukup seukuran badan orang. Pintu kamar loteng juga kecil.
Loteng berukuran 4x6 meter itu dulu disekat sekat menjadi empat kamar tidur yang indekost. Salah satunya bilik kamar ditempati Soekarno. Kini, sekat itu dibongkar dan di alasi anyaman tikar. Tidak ada ventilasi hingga sinar mentari tak bisa masuk. Akibatnya kondisi kamar pengab dan gelap. Ditambah tinggi atap hanya seukuran orang berdiri. Sangat pendek. Bayangkan gerahnya.
Karena itu setiap belajar Soekarno dkk harus menyalakan lampu ublik meski siang hari. Tapi, Soekarno dkk tak memperdulikan semua itu. Yang penting ada tempat tinggal dan bisa belajar dari mentor mereka HOS Tjokroaminoto.
Tjokroaminoto juga menekankan kepada murid-muridnya. "Jika kalian ingin menjadi Pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator".
Perkataan ini membius murid-muridnya hingga membuat Soekarno setiap malam berteriak-teriak belajar pidato di loteng kamar kostnya. Itu membuat kawannya, Muso, Alimin, Kartosuwiryo dan Darsono dan lainnya terbangun. Bukanya marah, mereka malah terpingkal pingkal menyaksikan ulah Bung Karno.
Terbukti, Bung Karno saat menjadi presiden menjadi singa podium. Berjam jam pidato, ratusan ribu rakyat tersihir, tak beranjak dari tempatnya. Di forum internasional seperti Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung, atau di forum PBB New York, Bung Karno yang suaranya meledak ledak kerap mendapat applaus bahkan standing ovation dari para pemimpin dunia. Itulah Bung Karno, singa podium yang belajar pidato di loteng rumahTjokroaminoto.
Rupanya kemampuan pidato Tjokroaminoto menetes pada diri Bung Karno. Tjokroamnito juga dikenal jago pidato. Bila bicara di depan anggota Serikat Islam (SI) atau di forum umum, Tjokro pandai memainkan emosi pendengarnya. Pidatonya berapi api, semangatnya berkobar-kobar, dan kemampuan Tjokro dalam berpidato menetes pada diri Bung Karno, presiden pertama RI yang dikenal orator ulung dan pemberi semangat rakyat.
Kembali ke rumah atau museum Tjokroaminoto dibuka setiap hari dan dijaga dua petugas. Kecuali Senin libur. "Pengunjung rata rata ada 300 setiap bulan," kata Januar.
Ada turis asing, lokal, pelajar mahasiswa. Banyak juga murid datang berombongan mengerjakan tugas sekolah. "Ada tugas mata kuliah Pancasila. Makanya, saya datang ke sini," ujar Ditia, mahasiswi Universitas Ciputra yang pagi itu serius mengamati dokumen tokoh pergerakan Tjokroaminoto. (Bahari/bersambung) Editor : Editor News