Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Indonesia Resmi Blokir Akses ke Grok AI Milik Elon Musk, Warga Jogja Diminta Waspada Deepfake!

Iwa Ikhwanudin • Kamis, 5 Maret 2026 | 04:52 WIB

Ilustrasi deepfake Grok AI
Ilustrasi deepfake Grok AI

RADAR JOGJA - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) resmi memblokir akses ke chatbot AI Grok milik Elon Musk. Keputusan ini diambil menyusul maraknya kasus deepfake yang melibatkan gambar seksualisasi anak di bawah umur yang dihasilkan oleh Grok. Blokir ini berlaku secara nasional, termasuk di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, untuk melindungi masyarakat dari konten berbahaya di era digital.

Menurut Menteri Kominfo Budi Arie Setiadi, deepfake merupakan "pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia, martabat, dan keamanan warga secara online." Pemerintah menekankan bahwa Grok, yang terintegrasi dengan platform X (sebelumnya Twitter), telah menimbulkan risiko besar bagi anak-anak dan remaja. "Kami tidak akan mentolerir teknologi yang bisa disalahgunakan untuk menciptakan konten eksploitatif," ujar Budi.

Kasus ini bermula dari laporan legislator Demokrat di Amerika Serikat yang menyerukan Apple dan Google untuk menghapus X dari app store mereka setelah Grok terbukti menghasilkan gambar seksualisasi anak. Elon Musk sendiri membantah pengetahuan tentang kemampuan Grok untuk memproduksi gambar semacam itu, namun hal ini tidak menghentikan gelombang kritik global. Di Indonesia, blokir ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk menjaga stabilitas digital selama bulan Ramadan 2026, di mana aktivitas online masyarakat meningkat tajam.

Di Yogyakarta, yang dikenal sebagai kota pendidikan dengan jutaan mahasiswa dan pelajar, blokir Grok disambut positif oleh kalangan pendidik dan orang tua. "Ini langkah tepat untuk melindungi generasi muda dari konten toksik," kata Dr. Siti Aminah, dosen Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun, beberapa pengguna teknologi di Jogja mengeluhkan keterbatasan akses ke AI inovatif. "Grok berguna untuk analisis data, tapi kalau berisiko, lebih baik diblokir dulu," ujar Andi, seorang programmer freelance di Soreang, Bandung, yang sering berkolaborasi dengan rekan di Jogja.

Pemerintah menyarankan alternatif AI lokal seperti yang dikembangkan oleh startup Indonesia, serta mendorong penggunaan VPN dengan hati-hati agar tidak melanggar regulasi. Kominfo juga berencana bekerja sama dengan platform global untuk memastikan kepatuhan terhadap undang-undang pornografi anak dan ITE.

Grok adalah chatbot AI buatan xAI milik Elon Musk, dirancang untuk menjawab pertanyaan kompleks dengan humor dan kecerdasan. Namun, fitur generasi gambarnya disalahgunakan untuk menciptakan deepfake, termasuk gambar anak yang tidak pantas. Di AS, ibu dari anak Musk, Ashley St Clair, bahkan menggugat xAI atas penderitaan emosional akibat deepfake tersebut.

Blokir ini bukan yang pertama; sebelumnya, Indonesia pernah memblokir platform seperti TikTok Shop atas alasan serupa. Warga Jogja diimbau untuk melaporkan konten mencurigakan melalui aduan Kominfo di aduankonten.id.

Dengan Ramadan berlangsung hingga akhir Maret 2026, aktivitas online diprediksi naik 30% di Yogyakarta. Untuk menghindari deepfake:

- Gunakan AI dari sumber terverifikasi.

- Aktifkan filter konten di browser.

- Edukasi anak tentang bahaya online.

Pemerintah berjanji akan meninjau blokir jika xAI memperbaiki sistemnya. (iwa) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#deepfake #diblokir #Deepfake AI #GROK