Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Teroris Bom Rakitan Tinggalkan Kode Arab Gundul

Editor News • Kamis, 29 Desember 2016 | 21:32 WIB
Peta yang ditemukan di tas yang juga berisi bom rakitan di Tegalrejo, Selasa (27/12) pagi.
Peta yang ditemukan di tas yang juga berisi bom rakitan di Tegalrejo, Selasa (27/12) pagi.
RADARJOGJA.CO.ID-Pelaku pembuat bom rakitan di Jalan Magelang-Kopeng, Salatiga, tepatnya di Desa/Kecamatan Tegalrejo meninggalkan petunjuk. Secarik kertas bertuliskan huruf arab gundul tanpa harokat, diduga sebagai kode khusus.

Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo KH Yusuf Chlundori menjelaskan, beberapa gabungan tulisan Arab ada yang seharusnya dipisah, tapi justru digabung. Kaidah penulisan arab sepertinya sengaja tak digunakan. Karena, bisa terbaca orang lain.

Ada kemungkinan tulisan itu berupa kode-kode agar tidak bisa dibaca orang lain. Hanya kalangan mereka (pembuat bom) yang bisa membaca kode tersebut. "Tulisannya bukan tulisan Arab standar. Arab awur-awuran. Kami kesulitan membacanya, seperti rajah," katanya Rabu (28/12).

Jika merujuk ilmu penulisan Arab gundul, pesan itu bisa dibaca. "Nahwu shorof-nya tidak betul. Contohnya tulisan masjid harusnya mim, sin, jim, dan dal digabung. Tulisan itu seperti anak baru belajar menulis. Atau bisa juga kode-kode (penulis) yang saya tidak tahu," jelasnya.



Photo
Photo
Huruf Arab Gundul. Diduga sebuah kode yang hanya bisa dibaca kelompok teroris.
Dia merasa janggal karena muncul kemungkinan, penulis tidak memahami ilmu tentang tajwid. Selain tulisan, hal yang janggal lainnya itu kenapa bom rakitan harus diletakkan di Tegalrejo. Selama ini daerah Tegalrejo dikenal daerah santri dan damai.

"(Kejanggalan lain) waktunya juga pas pagi hari," ungkapnya.

Selain tulisan arab gundul, ada juga gambar yang menyerupai peta. Menurut Gus Yusuf, sapaannya, peta itu memang seperti denah lokasi masjid di Kota Magelang. Denah itu menggambarkan seperti Alun-Alun Kota Magelang yang di dekatnya ada masjid, Polres Magelang Kota, dan beberapa gereja di sekitarnya. Tulisan Arab gundul ini berupa seruan-seruan yang tidak bisa terbaca.


Temuan bom ini hampir sama seperti teror bom di tempat lain. Ada pesan, temuan bom ini untuk menciptakan rasa tidak aman di masyarakat, keresahan, berujung ketidakpercayaan terhadap pemerintah.

"Tegalrejo selama ini dikenal dengan daerah damai. Tidak pernah ada aksi-aksi anarkistis. Itu mungkin merupakan satu pancingan-pancingan saja," ungkapnya.

Dia memastikan, aksi teror merupakan ajaran yang dilarang Islam. Dia mengungkapkan, Allah SWT tidak suka terhadap orang yang membuat keresahan. Pelaku teror ini dimungkinkan tidak memahami Islam.

Saat ini, banyak orang yang jihad hanya bermodal semangat. Akhirnya, mereka masuk ke jaringan-jaringan yang pahamnya salah. Namun, di Magelang kelompok-kelompok yang memiliki paham salah ini belum terlihat.

Kapolres Magelang AKBP Hindarsono mengatakan, saat ini Polisi masih melakukan pendalaman dan mengumpulkan bukti-bukti di lapangan. Polisi juga memeriksa beberapa saksi.

"Polisi belum mencurigai siapa pelakunya," kata Hindarsono.

Barang bukti yang dibawa dari lokasi terdiri dari beberapa jenis. Di antaranya serbuk dari baterai, sangkur, baut paku, dan tulisan untuk mengajak berjihad. Bom rakitan ini dinilai belum sempurna.

"Kami sudah pastikan serpihan-serpihan itu adalah komponen tidak sempurna. Bahan-bahannya isinya serbuk hitam, batu baterai, dan tidak ada detonatornya. Ini hanya untuk memberikan teror kepada warga masyarakat," jelasnya. (ady/eri) Editor : Editor News
#Magelang #Polisi #densus 88 #teroris #bom rakitan