Penderita obesitas di DIJ kini juga banyak ditemukan di usia remaja. Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat setidaknnya ada sekitar 100.000 ribuan warga di provinsi ini yang mengidap obesitas.
"Data itu kami dapatkan ketika skrining Cek Kesehatan Gratis (CKG) di tempat pelayanan kesehatan kami," ujar Kepala Dinkes DIJ Gregorius Anung Trihadi kepada Radar Jogja, Jumat (23/1).
Angka ini belum mewakili jumlah yang sebenarnya. Sebab, dari 3,7 juta warga DIJ baru 38 persen yang melakukan CKG. Sebanyak 38 persen itu pun baru sekitar 90 persen yang benar-benar datang untuk periksa.
"Dari 90 persen itu ada 20 persen yang obesitas. Kira-kira hampir 100.000 ribuan lah," bebernya.
Menurutnya, dari data yang dihimpun pada akhir 2025 itu menunjukkan tren baru yakni penderita obesitas usia remaja yang banyak ditemukan. Walaupun secara sebaran dinilai hampir merata baik dari lanjut usia maupun remaja.
"Tapi saat ini datanya itu tersebar. Jadi yang muda pun sudah mulai obesitas," ucapnya.
Untuk menentukan obesitas juga dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pertama dengan menghitung tinggi dan berat badan untuk menentukan bobot ideal dan dengan cara pengukuran manual dengan mengukur lingkar perut.
"Begitu diukur lingkar perutnya ternyata sudah masuk obes gitu kan. Biasanya obesitas sentral karena biasanya lemak atau kalori kelebihan itu yang ditimbun biasanya di area-area sekitar situ," jelasnya.
Pada usia remaja, ketika diukur dengan patokan lingkar perut, kebanyakan perut mereka sudah melebihi ambang normal. Walupun secara tinggi dan berat dikatakan normal, apabila lingkar perut membuncit itu juga dikatakan obesitas.
Anung, sapaan akrabnya, juga menjelaskan definisi dari obesitas. Itu terjadi apabila kalori yang masuk ke tubuh lebih banyak dibandingkan yang dikeluarkan. Artinya, apabila jumlah kalori masuk dan keluar seimbang, obesitas bisa ditekan.
"Tingkat kebugaran remaja itu rendah. Itu menjadi korelasi bahwa obesitas disebabkan karena pola makan tinggi kalori," katanya.
Makanan manis, tinggi karbohidrat seperti nasi, makanan berminyak, itu memicu obesitas. Terlebih jika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup. Maka dari itu, perlu untuk memperhatikan pola hidup sehat dengan gizi seimbang.
"Kalau orang kantoran yang tiap hari duduk dan minim aktivitas fisik, itu konsumsi kalorinya dikurangi," ujarnya.
Pemprov DIJ telah mengadakan program komperehensif untuk menekan angka obesitas. Mulai dari skrining kesehatan, sosialisasi yang menyasar utamanya kepada para remaja. Itu dilakukan di sekolah-sekolah dengan bekerjasama dengan lintas sektor.
"Kalau di lingkungan pemprov, setiap hari setelah menyanyikan lagu Indonesi Raya ada sesi peregangan untuk pegawai secara mandiri 5-10 menit," jelasnya.
Menurutnya, obesitas dapat meningkatkan berbagai macam penyakit. Terlebih risiko munculnnya penyakit degeneratif. Penyakit seperti diabetes militus, kencing manis, kardiovaskuler, hipertensi hingga stroke.
"Jadi tadi termasuk hipertensi, diabetes militus, penyakit kardiofaskuler yang lain itu sudah mulai meningkat kasusnya," ujarnya. (oso/laz)