Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kebudayaan sebagai Pendidikan Karakter

Editor News • Senin, 14 Juli 2014 | 15:34 WIB
JOGJA – Masyarakat masih menganggap budaya adalah sebuah pentas kesenian. Padahal budaya memiliki arti yang lebih mendalam. Budaya merupakan nilai yang sangat bermakna dalam kehidupan. Apalagi sangat tepat untuk pembelajaran terlebih dalam membentuk karakter manusia.
Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kota Jogja Eko Suryo Maharso. Menurutnya dalam setiap pertemuan, masyarakat masih menganggap budaya adalah sebuah pentas kesenian. Budaya merupakan nilai yang sangat bermakna dalam kehidupan.
"Sayangnya perdebatan ini masih berlangsung di kalangan masyarakat. Padahal jika ditilik dan digali lebih dalam, budaya memiliki arti yang sangat besar. Apalagi proses terciptanya sebuah budaya yang baik itu tidaklah sebentar. Sehingga sangat disayangkan jika musnah karena menilainya dari sisi kecilnya saja," papar Eko dalam sarasehan yang digelar Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta (DKKY) bertajuk Pendidikan dan Pelestarian Warisan Budaya.
Sarasehan ini sendiri digelar sebagai bentuk kepedulian penerapan kurikulum pendidikan saat ini. Acara yang melibatkan guru tingkat SD hingga SMA ini digelar di Hotel Ruba Graha Mangkuyudan Jogjakarta baru-baru ini (11/7).
Ketua Umum DKKY Achmad Charris Zubair mengungkapkan saat ini penerapan pembelajaran masih terfokus pada akademik. Alhasil, para siswa berorientasi pada nilai dan meninggalkan faktor penting lainnya. "Sehingga nilai afeksi dan motorik anak justru menurun. Anak dipacu untuk mendapatkan nilai tinggi tanpa diisi dengan kepedulian terhadap lingkungan," kata Charris.
Saresehan ini, lanjut Charris, merupakan serangkaian 15 kegiatan DKKY. Hasil dari pertemuan ini menjadi bahan rekomendasi bagi eksekutif dan legislatif di Jogja. Secara terperinci, Charris berharap hasil saresehan dapat menentukan kebijakan kedepannya. Hal ini dikuatkan dengan pernyataan dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Jogja Edy Heri Suasana. Dalam kesempatan ini Edy mengungkapkan asal mula kurikulum pembelajaran di Indonesia. Awalnya dari kurikulum 1984 yang mengacu guru untuk memfokuskan kegiatan siswa pada ranah kognitif.
Alhasil dari sisi afeksi dan motorik siswa justru tertinggal. Padahal, menurutnya, untuk melahirkan siswa cerdas tidak hanya melalui akademik saja. Generasi yang berkarakter justru lahir dari pengenalan dan pendalaman nilai-nilai budaya.
Fungsi dan tujuan pendidikan, menurut Edy, terdiri dari mengembangkan kemampuan dan membentuk watak peradaban bangsa. "Selain itu juga melahirkan siswa yang memiliki potensi, tidak hanya dalam kemampuan akademik tapi juga memiliki akhlak yang baik. Sehingga pengemasan pendidikan dengan wujud kebudayaan merupakan hal yang sangat penting," kata Edy.
Meski begitu Edy mengungkapkan untuk menerapkan pemikiran ini tentu ada kendala. Contoh kecil saat dirinya menerapkan satu hari mengenakan pakaian tradisional gagrak Jogjakarta. Penolakan sempat terjadi, tidak hanya dari siswa namun juga para wali siswa. "Untuk kasus seperti ini kita berikan pengertian bahwa sanggahan itu salah. Jika kita terus mengeluh dan menghindar maka pelestarian akan mati. Di sisi lain, anak justru menjadi asing dengan budayanya sendiri, bahkan karakter kebangsaan bisa ikut hilang," katanya. (dwi/ila) Editor : Editor News