Pertahankan Ornamen Jawa Kuno
Editor News • Rabu, 2 Juli 2014 | 15:49 WIB
JOGJA – Masjid Pasarean Sonyoragi merupakan salah satu masjid tua di Jogjakarta. Bahkan masjid yang beralamatkan di Jalan Gondosuli, Baciro, Gondokusuman ini termasuk bangunan cagar budaya. Ini terlihat dari arsitekturnya yang mempertahankan ciri khas masjid Jawa kuno. Ketua Takmir Masjid H Zaenal Abidin mengungkapkan masjid ini merupakan salah satu kagungan Puro Pakualaman. Ini terlihat dari lambang Puro Pakualaman yang terpampang di depan masjid. Selain itu di sisi utara masjid juga terdapat pasaeran bagi sentono Puro Pakualaman. "Masjid ini berdiri sejak tahun 1920 pada masa KGPAA Pakualam VII. Pada awalnya bangunan ini adalah gudang untuk pasarean yang ada di samping," kata Zaenal (1/7).
Seiring perkembangan waktu bangunan itu kemudian diubah menjadi masjid. Pada awal berdirinya, masjid ini masih sederhana terdiri dari gedeg dan atap biasa. Berdirinya masjid ini setelah Pakualam VII memberikan amanah kepada Pengurus Muhammadiyah Ranting Gendeng. Pada waktu itu, lanjut Zaenal, memang belum ada masjid untuk beribadah. Atas permintaan warga sekitar masjid inipun didirikan. Awalnya pengelolaan masjid masih dilakukan oleh abdi dalem Puro Pakualaman. Tugasnya selain menjadi juru kunci pasarean juga sebagai imam masjid. "Saat ini kepengurusan masjid telah dipasrahkan sepenuhnya kepada warga Baciro. Masjid ini juga telah mengalami pemugaran pada tahun 1955 dengan wujud bangunan semi permanen. Lalu tahun 2009 kembali dipugar setelah mengalami kerusakan akibat gempa Jogja tahun 2006," kata Zaenal.
Meski telah mengalami pemugaran, namun corak dan ornamen asli tetap dipertahankan. Seperti empat pilar penyangga masjid yang merupakan peninggalan tahun 1920. Selain itu, adapula mustaka masjid yang merupakan peninggalan di tahun yang sama. Selama pemugaran telah mengalami beberapa penambahan bangunan. Bangunan ini berupa teras kanan, kiri dan teras depan masjid. Penambahan teras ini seiring dengan bertambahnya jamaah masjid Sonyoragi.
Sedangkan untuk pasarean yang terletak di utara masjid merupakan peristirahatan terakhir para sentana ndalem Puro Pakulamanan. Takmir II Budi Priyono menambahkan pasarean ini memiliki filosofi tersendiri. Nilainya adalah sebagai pengingat manusia akan pentingnya berbuat baik dan beribadah. "Sesuai dengan ciri khas masjid-masjid Jawa kuno, dimana ada makam di kompleknya. Untuk jamaah sendiri tidak hanya warga Baciro. Masjid ini juga terbuka untuk musafir yang ingin menunaikan salat," kata Budi.
Menyambut Ramadan 1435 H, Masjid Sonyoragi memiliki agenda khusus. Selain tarawih berjamaah, setiap sore ada pengajian anak. Setiap harinya ada sajian takjil untuk berbuka puasa dan buka bersama setiap hari Minggu. Selain itu, adapula tadarus Alquran, kultum Subuh dan ragam kegiatan Ramadan lainnya. (dwi/ila) Editor : Editor News