Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bersahaja dan Anggunnya Kebaya Tradisi

Editor News • Rabu, 30 April 2014 | 16:00 WIB
Photo
Photo
Nuansa Klasik yang Membalut Wanita Modern
Melihat sosok seorang Kartini sepertinya tidak dapat dilepaskan dari kebaya. Kesederhanaan, kesahajaan dan keanggunan Kartini semakin lengkap dengan balutan kebaya yang menjadi busana kebanggaannya. Setidaknya demikian apa yang dilihat dari Kartini dan kebaya. Jika di tahun 1904 Kartini telah mengangkat kebaya menjadi busana yang mencerminkan perempuan timur, lalu bagaimana dengan saat ini. Siapa yang harus bangga? Siapa yang harus mengenakan dan melestarikannya?
Sekitar 145 wanita mengenakan kebaya tradisional dalam acara yang digelar The Sahid Rich Jogja Hotel. Acara yang digelara dalam rangka memperingati Hari Kartini tersebut menampilkan wanita-wanita modern yang tetap bangga mengenakan kebaya meskipun hidup di jaman yang serba canggih.
"Kegiatan ini sebagai wadah bagi wanita masa kini untuk memaknai kebaya,"ujar Public Relation The Sahid Rich Jogja Hotel Agatha Redha, Senin (28/4).
Dirinya menjelaskan, lomba fashion show kebaya ini dibagi menjadi tiga kategori yakni, kategori usia 13 hingga 18 tahu, usia 19 hingga 25 tahun dan usia 26 hingga 50 tahun. Mereka menggunakan kebaya tradisional yang mengadaptasi kesederhanaan dan kesahajaan Kartini dahulu, sebagai Kartini masa kini. Mulai dari kebaya kutu baru, yang dibalut dengan kain batik, sanggul dan selop.
Dirinya menambahkan, kegiatan ini cukup mendapat respon positif, melihat para pesertanya tidak hanya berasal dari Jogja, namu juga kota sekitarnya seperti Semarang, Magelang dan Solo
"Rencananya Lomba Putri Kebaya ini akan rutin kami gelar setiap tahun sebagai peringatan Hari Kartini,"ujar Redha.
Ketua DPD Tiara Kusuma DIJ KRAy Angling Kusumo sekaligus Dewan Juri mengatakan, para peserta merupakan mereka yang peduli dan bangga terhadap kebaya. Penilaian masing-masing peserta tidak hanya dilihat dari kecantikan paras dan kebaya yang dikenakan. Melainkan ada beberapa criteria penilaian, antara lain keserasian, ketepatan, proporsi, bahasa tubuh, serta tata busana, warna dan juga tata rias.
"Kebaya yang ditampilkan disini merupakan kebaya tradisional, jadi bukan kebaya kreasi yang gemerlap,"ujar Angling.(dya)
  Editor : Editor News