Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Upah Rendah dan Lingkungan Sosial Jadi Pemicu Banyaknya Kasus Gangguan Jiwa di Kota Jogja, Berikut Penjelasan Psikolog

Iwan Nurwanto • Selasa, 21 Januari 2025 | 23:04 WIB
Faza Maulida
Faza Maulida

JOGJA - Jumlah kasus gangguan jiwa di Kota Jogja cukup fantastis.

Hingga bulan Januari 2025, Dinkes Kota Jogja mencatat ada 3.433 penderita gangguan jiwa.

Psikolog menilai, banyak penyebab warga kota pelajar tersebut menderita gangguan jiwa.

Psikolog Faza Maulida mengatakan, ada berbagai faktor yang menyebabkan manusia atau masyarakat menderita gangguan jiwa.

Namun dari segi ilmu psikologi secara umum ada empat penyebab.

Yakni faktor psikis, biologis, sosial, dan spiritualitas.

Dijelaskan Faza, untuk gangguan jiwa yang disebabkan faktor psikis biasanya karena kurangnya kemampuan untuk mengelola emosinya.

Sehingga mudah terserang stres dan berlanjut ke tahap yang lebih parah yakni gangguan jiwa.

Kemudian untuk faktor spiritualitas dapat disebabkan karena kepercayaan yang berlebihan seseorang kepada sesuatu.

Sehingga dapat berlanjut kepada gangguan mental.

Lalu untuk faktor biologis, biasanya karena memang ada genetik gangguan jiwa yang diturunkan dari keluarganya.

Sementara faktor sosial, biasanya dipengaruhi oleh lingkungan sosial dengan memberi tekanan kepada seseorang.

Baca Juga: Sego Kulit Pak Sabar: Kuliner Olahan Kulit Ayam Gurih dengan Harga Ramah, Sambal Pedasnya Bikin Ketagihan!

Misal, karena justifikasi masyarakat kepada seseorang statusnya sebagai pengangguran karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan.

“Tekanan kerja juga masuk kategori sosial, mungkin karena banyak tuntutan dari pekerjaannya atau tekanan dari senior, sehingga menderita gangguan jiwa,” ujar Faza, Selasa (21/1/2025).

Namun jika melihat kondisi di Kota Jogja, Faza menyebut, faktor yang paling mungkin menyebabkan masyarakat menderita gangguan jiwa karena faktor sosial dan ekonomi.

Yakni perihal sulitnya mendapatkan pekerjaan dan upah yang rendah.

Menurut akademisi UAD ini, lapangan kerja yang sangat sedikit tersedia di Kota Jogja bisa berpengaruh terhadap kondisi mental seseorang.

Apalagi, jika ditambah dengan justifikasi dari masyarakat luas tentang stigma buruk status pengangguran.

Kemudian upah yang rendah, kata Faza, biasanya berpengaruh terhadap kondisi mental karena keadaan ekonomi seseorang.

Jadi meskipun seseorang tersebut bekerja, tetap merasa stres atau mendapat tekanan mental karena tidak bisa memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

“Kalau di Jogja sendiri kemungkinan itu berhubungan dengan lingkungan sosial, dari sosial merembet ke ekonomi,” terangnya.

Perihal tanda-tanda orang gangguan jiwa, Faza menerangkan ada dua kategori.

Yakni penderita gangguan jiwa berat dan ringan.

Untuk gangguan jiwa berat biasanya ditandai dengan halusinasi dan delusi.

Seperti mendapatkan bisikan gaib atau ancaman yang sebenarnya tidak ada.

Baca Juga: 7 Rekomendasi AI yang Wajib Dimanfaatkan Mahasiswa untuk Tugas Kuliah: Belajar Lebih Mudah dan Cepat!

Sementara untuk gejala gangguan jiwa ringan akan ditandai dengan depresi hingga cemas.

Bahkan bisa campuran dari dua hal tersebut.

Misalnya perubahan pola makan atau mulai menarik diri dari lingkungan sosial.

“Kalau mulai mengalami tanda-tanda gangguan jiwa, tentu harus sudah membutuhkan bantuan profesional,” tegas Faza.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grhasia Yogyakarta Akhmad Akhadi membeberkan, hingga tanggal 21 Januari 2025 total ada 1.721 pasien gangguan jiwa yang mendapatkan perawatan.

Rinciannya, untuk pasien rawat inap sebanyak 76 orang.

Kemudian rawat jalan berjumlah 1.645 orang.

“Kalau terkait penyebabnya secara detail tidak dapat kami berikan, karena termasuk informasi yang dikecualikan,” terang Akhmad. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Kota Jogja #gangguan kejiwaan #RS Ghrasia #lingkungan sosial #upah rendah #gangguan jiwa #grhasia